Makalah

BAB I

PENDAHULULAN

1.1 Latar Belakang Masalah

praktisi pendidikan dapat dikelompokkan pada dua posisi, yaitu tenaga pendidik ( Guru) dan tenaga kependidikan( Tata Usaha).Dua kelompok ini mempunyai pandangan dan sikap yang tidak selalu sama dalam menyikapi perubahan, karena peran yang dimainkan dalam melaksanakan kegiatan pendidikan berbeda dan lingkungan kerja yang sering dijalani masing-masing juga berbeda, namun harus terjadi kolaborasi dalam memajukan Dunia pendidikan.

Pada prinsipnya  pendidikan harus diselenggarakan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Dalam proses tersebut diperlukan Guru yang dapat memberikan keteladanan, membangun kemauan dan mampu berinovasi untuk melaksanakan pembelajaran yang menantang dan menyenangkan serta dapat menciptakan perubahan yang lebih baik.

Kondisi nyata saat ini masih ada guru yang merasa sudah puas dan bersifat pasif, mereka hanya melaksanakan tugas mengajar sesuai jadwal yang telah ditentukan dengan metode klasik dan model pembelajaran yang monoton, bahkan terkadang tanpa program.

Tipe Guru seperti ini masih berkutat pada posisi apa adanya, yakni kurang peduli dengan perubahan dan cenderung bersikap acuh dengan urusan Inovasi.

Persoalan birokrasi juga menciptakan hubungan kerja “ atasan-bawahan ‘ yang lambat laun menghilangkan kesejatian profesi guru yang seharusnya merdeka untuk menentukan berbagai aktifitas profesinya tanpa harus terbelenggu oleh juklak dan Juknis ( petunjuk pelaksanaan dan petunjuk tehnis) yang selama ini menjadi bagian dari budaya birokrat, sehingga guru menjadi tidak kreatif kalau hanya berfungsi sebagai operator atau tukang.

Bila ada rasa takut untuk mengadakan perubahan, pada akhirnya semakin memperkokoh kekuasaan birokrasi dengan menjadikan guru sebagai pegawai bawahan yang harus tunduk pada perintah atasan.

Saat ini kita masih menyaksikan bila ada guru memiliki keberanian untuk berbuat jujur,memiliki ide pembaharuan dan berani mengkritik atasannya yang tidak benar, maka dengan mudah ia akan mendapatkan tekanan dan dimutasi ke daerah pinggiran yang jauh dari akses  transportasi dan telekomunikasi.Pola pikir “atasan dan bawahan” terjadi pula dalam proses pembelajaran dikelas dimana peserta didik harus tunduk dan patuh kepada guru sesuai juklak dan Juknis atau atas nama kurikulum ( suparman,Kompas 2006).

Oleh karena itu sudah saatnya guru harus memiliki kreatifitas untuk melakukan difusi inovasi dalam perencanaan,pelaksanaan pembelajaran dan Evaluasi hasil belajar.

Demi mendukung kreatifitas guru maka semestinya setiap satuan pendidikan harus mengalokasikan anggaran untuk pengembangan dan peningkatan profesi guru agar terwujud sumber daya manusia Indonesia yang Unggul dan dapat bersaing dengan Negara lain.

1.2. Rumusan  Masalah

Kedudukan seorang guru sebagai agen perubahan selalu dituntut untuk melakukan  berbagai inovasi dalam proses pembelajaran,dalam penggunaan alat dan media, serta dalam memanfaatkan sumber belajar.

–          Apa dan Bagaimana Landasan teori Inovasi pendidikan

–          Bagaimana Guru  melakukan difusi Inovasi pembelajaran

–          Bagaimana Inovasi dan kemampuan guru dalam meningkatkan Sumber daya manusia di sekolah.

1.3.Batasan Masalah

Bila kita membahas masalah Inovasi maka cakupan dan tipenya begitu luas seperti Inovasi management,Inovasi Poduk , Inovasi Desain dan proses Asembling, inovasi pemasaran atau Promosi dan Inovasi Organisasi.

Oleh karena pada makalah ini penulis hanya membahas Inovasi yang berkaitan dengan Desain,metode dan model pembelajaran serta teknologi informasi yang dimanfaatkan dalam pembelajaran di sekolah menengah atas.

1.4.Tujuan Penulisan

Makalah ini ditulis dengan tujuan sebagai berikut;

1.      Memberikan informasi dan gambaran tentang landasan teori Inovasi pendidikan

2.      Dalam rangka melatih dan menambah pengetahuan tentang Inovasi yang dilakukan guru di sekolah melalui proses pembelajaran yang aktif , kreatif dan menyenangkan

3.      Sebagai syarat penunaian tugas UTS selaku mahasiswa semester dua pada Program pasca sarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa serang.

BAB II

PERANAN GURU DALAM MELAKSANAKAN DIFUSI INOVASI DISKOLAH

2.1. Landasan Teori Inovasi

Berbicara mengenai inovasi (pembaharuan) mengingatkan kita pada istilah invention dan discovery. Invention adalah penemuan sesuatu yang benar-benar baru artinya hasil karya manuasia. Discovery adalah penemuan sesuatu (benda yang sebenarnya telah ada sebelumnya. Dengan demikian, inovasi dapat diartikan usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) invention dan discovery. Dalam kaitan ini Ibrahim (1989) mengatakan bahwa inovasi adalah penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat). Inovasi dapat berupa hasil dari invention atau discovery. Inovasi dilakukan dengan tujuan tertentu atau untuk  memecahkan masalah ((Subandiyah 1992:80). Sedangkan inovasi pendidikan dapat diartikan sebagai suatu perubahan yang baru, dan kualitatif berbeda dari hal (yang ada sebelumnya), serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan (Sa’ud, 2009:6).

Proses dan tahapan dalam perubahan atau pembaharuan ada kaitannya dengan masalah pengembangan (development), penyebaran (diffusion), diseminasi (dissemination), perencanaan (planning), adopsi (adoption), penerapan (implementation) dan evaluasi (evaluation).

Dalam bidang pendidikan, banyak usaha yang dilakukan untuk kegiatan yang sifatnya pembaruan atau inovasi pendidikan. Inovasi yang terjadi dalam bidang pendidikan tersebut antara lain dalam hal manajemen pendidikan, metodologi pengajaran, media, sumber belajar, pelatihan guru, implementasi kurikulum, dsb.

Ciri-ciri inovasi pendidikan dapat dikenal dengan beberapa identifikasi, namun menurut Ashby (1967) ada empat hal, yaitu:

  • Ketika masyarakat/orang tua mulai sibuk dengan peran keluar sehingga tugas pendidikan anak sebagian digeser dari orang tua pindah ke guru atau dari rumah ke sekolah.
  • Terjadi adopsi kata yang ditulis ke instruksi lisan.
  • Adanya penemuan alat untuk keperluan percetakan yang mengakibatkan ketersediaan buku lebih luas.
  • Adanya alat elektronika yang bermacam-macam (radio, telepon, TV, computer, LCD proyektor, perekan internet, LAN, dsb).

Keempat hal tersebut diatas telah menimbulkan banyak masalah. Untuk itulah kelima teknologi yang dibahas pada poin sebelumnya sangat membantu untuk solusi pemecahan. Perubahan pendidikan yang dinginkan sekolah sesuai visi dan misinya tentunya sangat tergantung pada lima teknologi tersebut yaitu sistem berfikir, sistem desain, ilmu pengetahuan yang berkualitas, manajemen.

Saat ini, sekolah negeri maupun swasta mulai berusaha keras untuk mengatur kembali sistem pendidikan mereka. Banyak program yang ditawarkan pada masyarakat, baik itu jurusan maupun status sekolah yaitu SSN, unggul, model, internasional, akselerasi dan model pusat sumber belajar .

Yang jelas, perubahan sekolah untuk menghadapi dunia global harus disiapkan dari unsur SDM yang berkualitas sehingga mampu berfikir membuat desain pendidikan, mempunyai kiat manajemen yang baik dan tidak gagap terhadap pendidikan. Jadi, dapat dikatakan bahwa antara inovasi pendidikan dengan teknologi pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Inovasi merupakan objek dan teknologi pendidikan merupakan subjeknya. Dalam inovasi pendidikan butuh SDM dan peralatan yang menunjang, sebaliknya SDM dan alat tidak akan berfungsi tanpa digunakan untuk tujuan yang pasti dan bermanfaat di masa datang.

2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inovasi Pendidikan

Lembaga pendidikan formal seperti Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, dan Perguruan Tinggi, adalah suatu subsistem dari sistem sosial. Jika terjadi perubahan dalam sistem sosial, maka lembaga pendidikan formal tersebut juga akan mengalami perubahan, dan sebaliknya jika lembaga pendidikan mengalami perubahan maka hasilnya akan berpengaruh terhadap sistem sosial. Oleh karena itu suatu lembaga pendidikan mempunyai beban yang ganda yaitu melestarikan nilai-nilai budaya tradisional dan juga mempersiapkan generasi muda agar dapat menyiapkan diri menghadapi tantangan kemajuan zaman.

Motivasi yang mendorong perlunya diadakan inovasi pendidikan jika dilacak biasanya bersumber pada dua hal, yaitu kemauan sekolah (lembaga pendidikan) untuk mengadakan respon terhadap tantangan kebutuhan masyarakat, dan adanya usaha untuk menggunakan sekolah (lembaga pendidikan) untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Antara lembaga pendidikan dan sistem sosial terjadi hubungan yang erat dan saling pengaruh-mempengaruhi. Misalnya, suatu sekolah telah dapat sukses menyiapkan tenaga yang terdidik sesuai dengan kebutuhan masyarakat, maka dengan tenaga terdidik berarti tingkat kehidupannya meningkat, dan cara bekerjanya juga lebih baik. Tenaga terdidik akan merasa tidak puas jika bekerja yang tidak menggunakan kemampuan inteleknya, sehingga perlu adanya penyesuaian dengan lapangan pekerjaan. Dengan demikian akan selalu terjadi perubahan yang bersifat dinamis, yang disebabkan adanya hubungan interaktif antara lembaga pendidikan dan masyarakat.

Ada tiga hal yang sangat besar pengaruhnya terhadap kegiatan di sekolah yang berkaitan dengan perlu adanya inovasi pendidikan, yaitu (1) kegiatan belajar mengajar, (2) faktor internal dan eksternal, dan (3) sistem pendidikan (pengelolaan dan pengawasan).

Faktor Kegiatan Belajar Mengajar

Yang menjadi kunci keberhasilan dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar ialah kemampuan guru sebagai tenaga profesional. Guru sebagai tenaga yang telah dipandang memiliki keahlian tertentu dalam bidang pendidikan, diserahi tugas dan wewenang untuk mengelola kegiatan belajar mengajar agar dapat mencapai tujuan tertentu, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan tujuan institusional yang telah dirumuskan. Tetapi dalam pelaksanaan tugas pengelolaan kegiatan belajar mengajar terdapat berbagai faktor yang menyebabkan orang memandang bahwa pengelolaan kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan yang kurang (setengah) profesional, kurang efektif, dan kurang perhatian.

Faktor Internal dan Eksternal

Satu keunikan dari sistem pendidikan ialah baik pelaksana maupun klien (yang dilayani) adalah kelompok manusia. Perencana inovasi pendidikan harus memperhatikan mana kelompok yang mempengaruhi dan kelompok yang dipengaruhi oleh sekolah (sistem pendidikan).

Faktor internal yang mempengaruhi pelaksanaan sistem pendidikan dan dengan sendirinya juga inovasi pendidikan ialah siswa. Siswa sangat besar pengaruhnya terhadap proses inovasi karena tujuan pendidikan untuk mencapai perubahan tingkah laku siswa. Jadi, siswa sebagai pusat perhatian dan bahan pertimbangan dalam melaksanakan berbagai macam kebijakan pendidikan.

Faktor eksternal yang mempunyai pengaruh dalam proses inovasi pendidikan ialah orang tua. Orang tua murid ikut mempunyai peranan dalam menunjang kelancaran proses inovasi pendidikan, baik ia sebagai penunjang secara moral membantu dan mendorong kegiatan siswa untuk melakukan kegiatan belajar sesuai dengan yang diharapkan sekolah, maupun sebagai penunjang pengadaan dana (sumbangan BP3 atau SPP).

Para ahli pendidik (profesi pendidikan) merupakan faktor internal dan juga faktor eksternal, seperti guru, administrator pendidikan, konselor,Komite sekolah terlibat secara langsung dalam proses pendidikan di sekolah.

Sistem Pendidikan (Pengelolaan dan Pengawasan)

Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah diatur dengan aturan yang dibuat oleh pemerintah. Di Indonesia diatur oleh Departemen Pendidikan Nasional. Guru maupun siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar tidak dapat menurut kemauannya, tetapi harus mengikuti aturan yang berlaku, mulai dari cara berpakaian, kegiatan waktu beristirahat, sampai pada kegiatan belajar di kelas.

Faktor-Faktor yang berperan  dalam melakukan  Inovasi di sekolah adalah sebagai berikut;

a. Guru

Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kepiawaian dan kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai.

Ada beberapa hal yang dapat membentuk kewibawaan guru antara lain adalah penguasaan materi yang diajarkan, metode mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan antar individu, baik dengan siswa maupun antar sesama guru dan unsur lain yang terlibat dalam proses pendidikan seperti adminstrator, misalnya kepala sekolah dan tata usaha serta masyarakat sekitarnya, pengalaman dan keterampilan guru itu sendiri. Dengan demikian, maka dalam pembaharuan pendidikan, keterlibatan guru mulai dari perencanaan inovasi pendidikan sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilan suatu inovasi pendidikan. Tanpa melibatkan mereka, maka sangat mungkin mereka akan menolak inovasi yang diperkenalkan kepada mereka. Hal ini seperti diuraikan sebelumnya, karena mereka menganggap inovasi yang tidak melibatkan mereka adalah bukan miliknya yang harus dilaksanakan, tetapi sebaliknya mereka menganggap akan mengganggu ketenangan dan kelancaran tugas mereka. Oleh karena itu, dalam suatu inovasi pendidikan, gurulah yang utama dan pertama terlibat karena guru mempunyai peran yang luas sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai teman, sebagai dokter, sebagai motivator dan lain sebagainya.

b. Siswa

Sebagai objek utama dalam pendidikan terutama dalam proses belajar mengajar, siswa memegang peran yang sangat dominan. Dalam proses belajar mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan komitmen yang timbul dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Hal ini bisa terjadi apabila siswa juga dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan, walaupun hanya dengan mengenalkan kepada mereka tujuan dari pada perubahan itu mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan, sehingga apa yang mereka lakukan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilaksanakan dengan konsekuen. Peran siswa dalam inovasi pendidikan tidak kalah pentingnya dengan peran unsur-unsur lainnya, karena siswa bisa sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran pada sesama temannya, petunjuk, dan bahkan sebagai guru. Oleh karena itu, dalam memperkenalkan inovasi pendidikan sampai dengan penerapannya, siswa perlu diajak atau dilibatkan sehingga mereka tidak saja menerima dan melaksanakan inovasi tersebut, tetapi juga mengurangi resistensi seperti yang diuraikan sebelumnya.

c. Kurikulum

Kurikulum pendidikan lebih sempit lagi kurikulum sekolah meliputi program pengajaran dan perangkatnya merupakan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh karena itu kurikulum sekolah dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam proses belajar mengajar di sekolah, sehingga dalam pelaksanaan inovasi pendidikan, kurikulum memegang peranan yang sama dengan unsur-unsur lain dalam pendidikan. Tanpa adanya kurikulum dan tanpa mengikuti program-program yang ada di dalamnya, maka inovasi pendidikan tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan inovasi itu sendiri. Oleh karena itu, dalam pembaharuan pendidikan, perubahan itu hendaknya sesuai dengan perubahan kurikulum atau perubahan kurikulum diikuti dengan pembaharuan pendidikan dan tidak mustahil perubahan dari kedua-duanya akan berjalan searah.

d. Fasilitas

Fasilitas, termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa diabaikan dalam dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam pembaharuan pendidikan, tentu saja fasilitas merupakan hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa adanya fasilitas, maka pelaksanaan inovasi pendidikan akan bisa dipastikan tidak akan berjalan dengan baik. Fasilitas, terutama fasilitas belajar mengajar merupakan hal yang esensial dalam mengadakan perubahan dan pembaharuan pendidikan. Oleh karena itu, jika dalam menerapkan suatu inovasi pendidikan, fasilitas perlu diperhatikan. Misalnya ketersediaan gedung sekolah, bangku, meja dan sebagainya.

e. Lingkup Sosial Masyarakat

Dalam menerapakan inovasi pendidikan, ada hal yang tidak secara langsung terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa dampak, baik positif maupun negatif dalam pelaksanaan pembaharuan pendidikan. Masyarakat secara tidak langsung atau tidak langsung, sengaja maupun tidak terlibat dalam pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik terutama masyarakat di mana peserta didik itu berasal. Tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pendidikan tentu akan terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak diberitahu atau dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan sebaliknya akan membantu inovator dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi pendidikan.

2.3.  Inovasi yang sudah dilakukan Guru disekolah

Perencanaan merupakan hal yang mutlak perlu dilakukan untuk suksesnya suatu difusi, inovasi pendidikan. Adapun elemen-elemen pokok dalam proses perencanaan adalah sebagai berikut:

1)         Merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus inovasi pendidikan yang akan dilaksanakan dengan rumusan yang jelas.

2)         Mengidentifikasi masalah.

3)         Menentukan kebutuhan.

4)         Mengidentifikasi sumber (penunjang) dan penghambat.

5)         Menentukan alternatif kegiatan berdasarkan faktor penunjang yang ada serta mempertimbangkan adanya hambatan yang mungkin timbul baik dari dalam sistem (sekolah) maupun dari luar sistem (masyarakat).

6)         Menentukan alternatif pemecahan masalah.

7)         Menentukan alternatif cara pendayagunaan sumber yang ada.

8)         Menentukan kriteria untuk memilih alternatif pemecahan masalah.

9)         Menentukan alternatif pengambilan keputusan.

10)     Menentukan kriteria untuk menilai hasil inovasi pendidikan berdasarkan tujuan umum dan tujuan khusus yang telah ditentukan.

Dalam proses pembelajaran disekolah maka guru harus melakukan Inovasi yang diawali dengan perubahan pola pikir ( Maindset ) diantaranya sebagai berikut ;

1). Merubah paradigma “ Teaching “ ke “ Learning” semula siswa hanya dijadikan obyek dalam pembelajaran, maka mulai saat ini guru  harus memposisikan siswa sebagai subyek  yang memiliki keunikan tersendiri dalam proses belajar disekolah

2). Guru harus memberi keteladanan dengan cara memberi contoh langsung melalui perbuatan, bukan hanya pandai berkata-kata.Prinsipnya adalah perbuatanlah yang menentukan kata, sebab terkadang kata tidak menentukan perbuatan.

3). Merubah mental “ ingin dilayani” menjadi guru yang “ Ingin melayani” segala kebutuhan peserta didik atau menjadi mitra.

4). Merubah sikap fanatik yang berlebihan berdasarkan agama,suku dan ras, menjadi guru yang bersifat terbuka , menghargai keragaman atau Pluralisme.

5). Melaksanakan kurikulum berbasis masyarakat dan model pembelajaran berbasis ICT.

6). Melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada Proses, dengan melakukan suatu pendahuluan atau kegiatan awal, kemudian melakukan kegiatan Inti yang terdiri atas kegiatan Eksplorasi ( melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topic/tema materi yang akan dipelajari, menggunakan beragam pendekatan, memfasilitasi terjadinya antar peserta didik). Tahap berikutnya adalah melakukan kegiatan yang bersifat Elaborasi ( mengajak siswa untuk membiasakan menulis, memberi tugas, diskusi,menganalisis, melakukan pameran, turnamen atau festival).

Selanjutnya mengadakan kegiatan Konfirmasi ( memberikan umpan balik, memberikan refleksi untuk memperoleh pengalaman yang bermakna).

Pembahasan tentang model inovasi seperti model “Top-Down” dan  “Bottom-Up” telah banyak dilakukan oleh para peneliti dan para ahli pendidikan. Sudah banyak pembahasan tentang inovasi pendidikan yang dilakukan misalnya perubahan kurikulum dan proses belajar mengajar. White (1988: 136-156) misalnya menguraikan beberapa aspek yang bekaitan dengan inovasi seperti tahapan-tahapan dalam inovasi, karakteristik inovasi, manajemen inovasi dan sistem pendekatannya.  Kennedy (1987:163) juga membicarakan tentang strategi inovasi yang dikutip dari Chin dan Benne (1970) menyarankan tiga jenis strategi inovasi, yaitu: Power Coercive (strategi pemaksaan), Rational Empirical (empirik rasional), dan Normative-Re-Educative (Pendidikan yang berulang secara normatif).

Strategi inovasi yang pertama adalah strategi pemaksaaan berdasarkan kekuasaan merupakan suatu pola inovasi yang sangat bertentangan dengan kaidah-kaidah inovasi itu sendiri. Strategi ini cenderung memaksakan kehendak, ide dan pikiran sepihak tanpa menghiraukan kondisi dan keadaan serta situasi yang sebenarnya dimana inovasi itu akan dilaksanakan. Kekuasaan memegang peranan yang sangat kuat pengaruhnya dalam menerapkan ide-ide baru dan perubahan sesuai dengan kehendak dan pikiran-pikiran dari pencipta inovasinya. Pihak pelaksana yang sebenarnya merupakan objek utama dari inovasi itu sendiri sama sekali tidak dilibatkan baik dalam proses perencanaan maupun pelaksanaannya. Para inovator hanya menganggap pelaksana sebagai obyek semata dan bukan sebagai subyek yang juga harus diperhatikan dan dilibatkan secara aktif dalam proses perencanaan dan pengimplementasiannya. Strategi inovasi yang kedua adalah empirik rasional. Asumsi dasar dalam strategi ini adalah bahwa manusia mampu menggunakan pikiran logisnya atau akalnya sehingga mereka akan bertindak secara rasional. Dalam kaitan dengan ini inovator bertugas mendemonstrasikan inovasinya dengan menggunakan metode yang terbaik valid untuk memberikan manfaat bagi penggunanya. Di sekolah, para guru menciptakan strategi atau metode mengajar yang menurutnya sesuai dengan akal yang sehat, berkaitan dengan situasi dan kondisi bukan berdasarkan pengalaman guru tersebut. Di berbagai bidang, para pencipta inovasi melakukan perubahan dan inovasi untuk bidang yang ditekuninya berdasarkan pemikiran, ide, dan pengalaman dalam bidangnya itu, yang telah digeluti berbualan-bulan bahkan bertahun-tahun. Inovasi yang demikian memberi dampak yang lebih baik dari pada model inovasi yang pertama. Hal ini disebabkan oleh kesesuaian dengan kondisi nyata di tempat pelaksanaan inovasi tersebut.

Jenis strategi inovasi yang ketiga adalah normatif re-edukatif (pendidikan yang berulang) adalah suatu strategi inovasi yang didasarkan pada pemikiran para ahli pendidikan seperti Sigmund Freud, John Dewey, Kurt Lewis dan beberapa pakar lainnya yang menekankan bagaimana klien memahami permasalahan pembaharuan seperti perubahan sikap, skill, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan manusia.

Dalam pendidikan, sebuah strategi bila menekankan pada pemahaman pelaksana dan penerima inovasi, maka pelaksanaan inovasi dapat dilakukan berulang kali. Misalnya dalam pelaksanaan perbaikan sistem belajar mengajar di sekolah, para guru sebagai pelaksana inovasi berulang kali melaksanakan perubahan-perubahan itu sesuai dengan kaidah-kaidah pendidikan. Kecenderungan pelaksanaan model yang demikian agaknya lebih menekankan pada proses mendidik dibandingkan dengan hasil dari perubahan itu sendiri. Pendidikan yang dilaksanakan lebih mendapat porsi yang dominan sesuai dengan tujuan menurut pikiran dan rasionalitas yang dilakukan berkali-kali agar semua tujuan yang sesuai dengan pikiran dan kehendak pencipta dan pelaksananya dapat tercapai.

2.4.Inovasi dan kemampuan guru dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia di

Sekolah

Setiap guru menghendaki muridnya dapat belajar dan sukses dalam belajar demi meniti karir dimasa depan sesuai dengan bakat dan minatnya.

Oleh karena itu agar guru mampu menciptakan Sumber daya Manusia yang berkualitas, maka berdasarkan Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang” Guru dan Dosen “ harus memiliki  empat kompetensi ;

Pertama, Kompetensi Pedagogik yaitu berkenaan dengan kemampuan mengelola pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap kondisi peserta didik, membuat perencanaan,pelaksanaan pembelajaran, mengevaluasi dan menganalisis hasil belajar siswa.

Kedua, Kompetensi Kepribadian Yaitu berkenaan dengan penampilan, karakter dan sikap yang baik, jujur,amanah,Bijaksana,Disiplin,Tidak emosional, memiliki pendirian yang teguh dan berfikir Logis, sistematis dan Etis.

Ketiga, Kompetensi Profesional yaitu yang berkenaan dengan kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.Seorang guru harus menguasai subtansi,struktur kurikulum bidang studi yang diampu dan mampu memanfaatkan dukungan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam kegiatan pembelajaran maupun dalam kegiatan Bimbingan dan Konseling.

Keempat, kompetensi Sosial yaitu berkenaan dengan kemampuan berkomunikasi dengan murid, Guru, Orang Tua, Pemerintah dan segenap Elemen masyarakat lainnya.

2.5. Kendala-kendala dalam melakukan Inovasi Pendidikan

Kendala-kendala yang mempengaruhi keberhasilan usaha inovasi pendidikan seperti inovasi kurikulum antara lain adalah (1) perkiraan yang tidak tepat terhadap inovasi, (2) konflik dan motivasi yang kurang sehat, (3) lemahnya berbagai faktor penunjang sehingga mengakibatkan tidak berkembangnya inovasi yang dihasilkan, (4) keuangan (finacial) yang tidak terpenuhi, (5) penolakan dari sekelompok tertentu atas hasil inovasi, dan (6) kurang adanya hubungan sosial dan publikasi (Subandiyah 1992:81). Untuk menghindari  masalah-masalah tersebut di atas, dan agar mau berubah terutama sikap dan perilaku terhadap perubahan pendidikan yang sedang dan akan dikembangkan, sehinga perubahan dan pembaharuan itu diharapkan dapat berhasil dengan baik, maka guru, administrator, orang tua siswa, dan masyarakat umumnya harus dilibatkan.

Setelah memperhatikan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan suatu inovasi pendidikan, misalnya penolakan (resistance) para guru tentang adanya perubahan kurikulum dan metode belajar-mengajar maka perlu kiranya  masalah tersebut dibahas. Namun sebelumnya, pengertian tentang resisten itu perlu dijelaskan lebih dahulu. Menurut definisi dalam  “Cambridge International English Dictionary of English” bahwa Resistance is to fight against (something or someone) to not be changed by or refuse to accept (something).

Berdasarkan definisi tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penolakan (resistance) itu adalah melawan sesuatu atau seseorang untuk tidak berubah atau diubah atau tidak mau menerima hal tersebut. Ada beberapa hal mengapa inovasi sering ditolak atau tidak dapat diterima oleh para pelaksana inovasi di lapangan atau di sekolah sebagai berikut:

1.      Sekolah atau guru tidak dilibatkan dalam proses perencanaan, penciptaan dan bahkan pelaksanaan inovasi tersebut, sehingga ide baru atau inovasi tersebut dianggap oleh guru atau sekolah bukan miliknya, dan merupakan kepunyaan orang lain yang tidak perlu dilaksanakan, karena tidak sesuai dengan keinginan atau kondisi sekolah mereka.

2.      Guru ingin mempertahankan sistem atau metode yang mereka lakukan saat sekarang, karena sistem atau metode tersebut sudah mereka laksanakan bertahun-tahun dan tidak ingin diubah. Di samping itu sistem yang mereka miliki dianggap oleh mereka memberikan rasa aman atau kepuasan serta sudah baik sesuai dengan pikiran mereka.

3.      Inovasi yang baru yang dibuat oleh orang lain terutama dari pusat (khususnya Depdiknas) belum sepenuhnya melihat kebutuhan dan kondisi yang dialami oleh guru dan siswa.

4.      Inovasi yang diperkenalkan dan dilaksanakan yang berasal dari pusat merupakan kecenderungan sebuah proyek dimana segala sesuatunya ditentukan oleh pencipta inovasi dari pusat. Inovasi ini bisa terhenti kalau proyek itu selesai atau kalau finansial dan keuangannya sudah tidak ada lagi. Dengan demikian pihak sekolah atau guru hanya terpaksa melakukan perubahan sesuai dengan kehendak para inovator di pusat dan tidak punya wewenang untuk mengubahnya.

5.      Kekuatan dan kekuasaan pusat yang sangat besar sehingga dapat menekan sekolah atau guru melaksanakan keinginan pusat, yang belum tentu sesuai dengan kemauan mereka dan situasi sekolah mereka.

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Inovasi pendidikan sebagai usaha perubahan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri, tapi harus melibatakan semua unsur yang terkait di dalamnya, seperti inovator, penyelenggara inovasi seperti guru dan siswa. Disamping itu, keberhasilan inovasi pendidikan tidak saja ditentukan oleh satu atau dua faktor saja, tapi juga oleh masyarakat serta kelengkapan fasilitas. Inovasi pendidikan yang berupa top-down model tidak selamanya bisa berhasil dengan baik. Hal ini disebabkan oleh banyak hal antara lain adalah penolakan para pelaksana seperti guru yang tidak dilibatkan secara penuh baik dalam perencananaan maupun pelaksanaannya. Sementara itu inovasi yang lebih berupa bottom-up model dianggap sebagai suatu inovasi yang langgeng dan tidak mudah berhenti karena para pelaksana dan pencipta sama-sama terlibat mulai dari perencanaan sampai pada pelaksanaan dan Evaluasi. Oleh karena itu mereka masing-masing bertanggung jawab terhadap keberhasilan suatu inovasi yang mereka ciptakan.

3.2 Saran

Dengan mengenal model-model inovasi pendidikan diharapkan guru dapat berperan lebih aktif untuk turut membantu memecahkan masalah pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Selain itu, guru sebagai kunci keberhasilan dalam proses pendidikan, dituntut untuk lebih professional dengan merubah Pola pikir yang Dogmatis untuk mengarah pada pola pikir yang Demokratis dan Humanis.Selamjutnya guru harus mengorganisir secara baik demi peningkatan Profesinya.

DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim. 1988. Inovasi Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Sanjaya, Wina. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana

Sa’ud, Udin Syaefudin. 2009. Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Mahfuddin, Azis.2009, Profesionalisme Jabatan Guru di Era Globalisasi . Bandung :Rizki Press

RI, 2006.Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.Jakarta: BP.Darma Bhakti

Mardapi, Djemari,2007.PERMENDIKNAS RI Nomor 41 tahun 2007 Tentang standar Proses Untuk satuan pendidikan dasar da Menengah. Jakarta : BSNP

This entry was posted in Inovasi Pendidikan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s