Contoh Proposal PTK PKn

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar  Belakang Masalah

Berdasar pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, di antaranya, pertama, Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Kedua, Peraturan Daerah Nomor 28 Tahun 2001 tentang Rencana Strategi Pemerintah Kabupaten Bantul 2002–2005 yang berbunyi “Bantul Projotamansari Sejahtera Demokratis dan Agamis”. Ketiga, Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2002 tentang Sistem Penyelenggaraan Pendidikan di Kabupaten Bantul, Pada Bab II Pasal 3 disebutkan bahwa “Penyelenggaraan Pendidikan di Kabupaten Bantul bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang beriman, bertakwa, cerdas, terampil, dan berakhlak mulia serta sehat jasmani dan rohani”.

Selain itu pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga Negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, perlu ditingkatkan terus menerus untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konstitusi Negara Republik Indonesia perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia, khususnya generasi muda sebagai generasi penerus.

Pendidikan di Indonesia harus menghindari sistem pemerintahan yang memasung hak-hak asasi manusia, hak-hak warganegara untuk dapat menjalankan prinsip-prinsip demokrasi. Kehidupan yang demokratis didalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintahan, dan organisasi-organisasi non pemeritahan perlu dikenal, dipahami, diinternalisasi, dan diterapkan demi terwujudnya pelaksanaan prinsip-prinsip demokrasi serta demi peningkatan martabat kemanusian, kesejahteraan, kebahagiaan, kecerdasan dan keadilan.

Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara yang baik, yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

Berkaitan dengan hal itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Bantul menentukan kebijakan-kebijakan, di antaranya, adalah kebijakan di bidang pendidikan yang berupa pengembangan Muatan Lokal sebagai Kurikulum Unggulan Daerah. Visi Pendidikan Kabupaten Bantul adalah “Terwujudnya manusia cerdas, unggul, berbudaya, mandiri, dan berakhlak mulia.

Untuk mewujudkan visi pendidikan tersebut, ditunjuklah sekolah-sekolah tertentu untuk dijadikan Proyek Percontohan Sekolah Cerdas dan Berakhlak Mulia yang untuk selanjutnya disebut CBM, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Untuk sampel SD diambil tiga puluh lima, SLTP sepuluh, dan SLTA lima. Kelima SLTA itu terdiri dari tiga SMA dan dua SMK salah satunya adalah SMA N 1 Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Dana yang diberikan bersifat stimulan, masing-masing untuk SD sebesar satu setengah juta rupiah, SLTP sebesar dua juta rupiah dan untuk SLTA sebesar dua setengah juta rupiah. Disamping itu setiap sekolah diberi tiga  buah buku pedoman yang berisi sama dari SD sampai dengan SLTA, yaitu Buku I Pedoman Umum Pendidikan Akhlak Mulia, Buku II Kompetensi Akhlak Mulia, dan Buku III Pedoman Evaluasi Pendidikan Akhlak Mulia.

Bupati Bantul pada sambutan tertulisnya, yang termuat dalam Buku I Pedoman Umum Pendidikan Cerdas Berakhlak Mulia mengatakan bahwa;

Pendidikan selama ini sudah banyak mengalami kemajuan yang sangat berarti. Secara kuantitas orang yang buta huruf semakin berkurang, sarjana semakin banyak, namun dari sisi kualitasnya ternyata pendidikan belum dapat memanusiakan manusia. Artinya pendidikan belum dapat menjadikan manusia yang utuh lahir dan batin, jasmani dan rohani, cerdas sekaligus berakhlak mulia dan berkepribadian. Hal tersebut ditandai masih banyak masalah krusial yang belum terselesaikan, serta terjadinya degradasi moral, krisis ekonomi yang berlanjut pada krisis multidimensi,(Pemda Bantul, 2002:v).

Dengan demikian, pendidikan merupakan sektor yang paling menentukan dalam keberhasilan pembangunan. Rendahnya kualitas pendidikan akan berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM). Apabila kualitas SDM rendah,  pembangunan baik fisik maupun mental, dan spiritualnya tidak dapat berkembang secara optimal.

Oleh karena itulah melalui pembelajaran CBM diharapkan dapat memberikan bekal pada peserta didik agar di samping berkecerdasan intelektual, juga berkecerdasan emosional dan spiritual. Sehingga mampu menggunakan pengetahuan, sikap, dan keterampilannya dalam rangka mewujudkan kebiasaan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah, di sekolah maupun di tengah masyarakatnya. Dengan demikian anak didik sebagai generasi pewaris bangsa, nantinya mampu menghadapi problem hidupnya dan kehidupannya. Kemampuan itu adalah anak didik dapat memecahkan problem tersebut dengan motivasi tinggi serta menemukan solusinya, yang akhirnya mereka dapat hidup mandiri dan memiliki prinsip hidup bahwa segala tingkah lakunya dilandasi rasa ikhlas, semata-mata hanya ditujukan untuk mendapat Ridlo Allah SWT.

Orang yang memiliki kecerdasan emosional dan spiritual adalah orang yang memiliki kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatannya, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya (hanif), dan memiliki pola pemikiran tauhidi (integralistik), serta berprinsip ikhlas ( Agustian Ary G , 2004:57). Selanjutnya dikatakan bahwa, orang yang berhasil secara lahir dan batin adalah orang yang memiliki tingkat kecerdasan emosi dan spiritual yang tinggi secara seimbang. Jika siswa memiliki karakter yang tangguh, berkepribadian, berakhlak mulia, dan memiliki kemampuan yang luas secara personal maupun sosial, hal itu terjadi karena sikap dan tingkah lakunya dilandasi oleh suara hatinya yang merupakan percikan Asmaul Khusna atau sifat-sifat Allah.

Menurut Ahimsa Riyadi, (2006:36) orang yang mampu mengembangkan jiwa menuju pribadi yang sempurna, otonom, tidak terpengaruh oleh apa pun selain kehendak Allah disebut sebagai  orang yang memiliki kematangan spiritual.

Bangsa Indonesia yang dewasa ini sedang dilanda krisis multidimensi, di antaranya krisis ekonomi, krisis sosial dan kemanusiaan yang luhur berupa nilai kemanusiaan, nilai kejujuran, nilai kebenaran dan nilai-nilai lain yang sesuai dengan anugerah Tuhan, maka perlu memiliki mumtaz school yaitu sekolah yang harus bisa mengembangkan cara berpikir yang majemuk, berupa kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecesdasan spiritual. (Tendi Naim, 2003:1). Dengan pembelajaran CBM ini diharapkan akan bangkit kembali keyakinan  jati diri sejati yang melahirkan prinsip dan karakteristik bangsa yang didasari oleh nilai-nilai mulia kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut merupakan karunia Allah SWT, yang sejak lahir sudah ditanamkan ke dalam hati nurani  berupa suara hati pada setiap insan-Nya sebagai percikan sifat-sifat Allah.

Sekolah sebagai satu lembaga pendidikan merupakan agen perubahan masyarakat. Sekolah dalam menyelenggarakan pembelajaran berusaha untuk membimbing, mendidik, dan melatih siswa agar dapat berkembang secara optimal. Kompetensi siswa diharapkan berkembang dengan utuh secara integral antara ranah kognitif, afektif, dan spikomotorik. Pada dewasa ini sebagai akibat dari globalisasi, pendidikan yang bersifat humanistik seperti pendidikan budi pekerti yang merupakan wahana penanaman nilai-nilai akhlak mulia kepada siswa terkesan agak dikesampingkan, karena tergeser oleh kepentingan teknologi yang hanya mengutamakan kemajuan sains belaka. Hal itu berarti bahwa aspek yang dikembangkan adalah aspek kognitif atau perkembangan otak sebelah kirinya saja, sedangkan aspek afektif atau otak sebelah kanan kurang dikembangkan.

Berkaitan dengan hal itu ruang lingkup pendidikan akhlak mulia seperti termuat dalam Buku II Kompetensi Akhlak Mulia meliputi budi pekerti, tingkah laku, dan watak yang berkaitan dengan sikap dan perilaku yang mengatur tata hubungan, antara lain, berupa hal-hal berikut ini:

1). Manusia berperilaku dengan dirinya sendiri, seperti menjaga kesucian hati dari nafsu, menjaga kebersihan jasmani, mengembangkan keberanian, jujur, rendah hati, tidak sombong, sederhana dan sebagainya.

2). Manuasia berperilaku dengan manusia lain, seperti saling menghormati, tolong menolong, pemurah, suka memberi maaf, adil dan sebagainya.

3). Manusia berperilaku terhadap lingkungan alam sekitar, serperti menjaga kebersihan lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, memelihara keindahan lingkungan, dan sebagainya.

4). Manusia berperilaku dengan Tuhan, seperti bersyukur, berdoa, menyembah, memuji Keagungan-Nya, berdzikir, dan ibadah yang lain.

Mengingat pembelajaran CBM ditujukan untuk mengembangkan Keimanan dan Ketaqwaan anak didik yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam maka strategi pembelajaran yang digunakan maupun sistem penilaiannya berbeda dengan mata pelajaran lain yang bertujuan untuk mengembangkan aspek kognitif. Dalam hal ini guru  dituntut untuk menggunakan metode yang tepat sesuai dengan tujuan yang hendak di capai yaitu untuk  menanamkan dan mengembangkan aspek-aspek afektif (sikap, nilai) dan perilaku, sehingga siswa menjadi tertarik dan akhirnya terjadi perubahan sikap dan tingkah laku kearah yang lebih baik.

Akan tetapi dalam praktek pembelajaran di sekolah banyak menghadapi hambatan dan permasalahan. Hambatan dan permasalahan terhadap proses yang muncul di sekolah sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi setempat. Masalah tersebut baik bersifat umum maupun khusus. Masalah yang  bersifat umum seperti: peran dari peserta didik oleh guru belum secara optimal diberlakukan sebagai subyek didik yang memiliki potensi untuk berkembang secara mandiri. Mereka ditempatkan pada posisi yang pasif, karena aktifitas pembelajaran masih didominasi guru.

Sedang masalah yang bersifat khusus dan terjadi dalam pembelajaran CBM adalah tidak adanya kurikulum khusus bagi guru untuk dijadikan pedoman dalam pembelajaran, tidak adanya perbedaan standar kompetensi antara siswa SD, SLTP maupun SLTA, keterbatasan guru didalam penguasaan materi, kurangnya wawasan yang dimiliki guru, keterbatasan  keterampilan dalam menggunakan media dan metode pembelajaran, keterbatasan dana, keterbatasan sarana dan prasarana, dan masalah lainnya yang datang dari siswa yaitu diantaranya rendahnya minat siswa terhadap pembelajaran CBM. Disamping itu waktu yang disediakan dalam satu minggunya hanya 45 menit atau satu jam pelajaran, sehingga terlalu singkat untuk mengembangkan nilai-nilai pada siswa dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain. Semua permasalahan tersebut memerlukan pemecahan sesuai dengan tingkat kebutuhan dan kemampuan.

Kemampuan penggunaan metode merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh para praktisi pendidikan. Oleh karena itulah dalam rangka untuk pengembangan manusia seutuhnya yaitu anak didik yang  bukan hanya berkecerdasan intelektual  tetapi juga berkecerdasan emosional dan berkecerdasan spiritual, maka penelitian ini menggunakan strategi pengembangan kecerdasan emosional dan spiritual, dengan alasan:

1.      Nilai hanya bisa ditanamkan dan diketahui dari penampilan tingkah lakunya.

2.      Pengembangan domain afektif pada nilai tidak bisa dipisahkan dari aspek kognitif dan psikomotorik.

3.      Masalah nilai adalah masalah emosiomal dan karena itu dapat berubah, berkembang, sehingga bisa dibina.

4.      Perkembangan nilai atau moral tidak terjadi sekaligus, tetapi melalui tahap-tahap tertentu.( Gulo,2002:149).

Adapun teori yang mendasari pada strategi pembelajaran CBM di SMA N 1 Sedayu, Bantul, Yogyakarta adalah pengembangan Kecerdasan Emosional dan Spiritual yang selanjutnya disebut pengembangan Emotional Spiritual Quotient (ESQ). Yaitu metode untuk mengenal, mengerti, memahami, kemudian dikembangkan nilai-nilai yang bersifat universal yang merupakan karunia dari Tuhan YME yang dibisikkan kedalam insan kamil atau suara hati setiap manusia untuk dipegang teguh dan tidak boleh dilanggar tetapi untuk dijadikan landasan bertindak, dan diujudkan dalam tingkah lakunya yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

B. Rumusan Masalah

Bagaimanakah upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran CBM sehingga terjadi perubahan sikap dan tingkah laku mulia pada siswa khususnya mengenai hubungan sesama manusia di lingkungan sekolah dengan menggunakan strategi pengembangan ESQ di  kelas  XI IIS3 SMA N 1 Sedayu, Bantul, Yogyakarta ?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran CBM dengan mengaplikasikan teori tentang akhlak mulia serta teori tentang kecerdasan emosional dan spiritual khususnya mengenai hubungan sesama manusia di lingkungan sekolah baik di dalam kelas maupun di luar kelas XI IIS3 SMA Negeri 1 Sedayu, Bantul, Yogyakarta sehingga terjadi perubahan sikap dan tingkah laku mulia pada siswa yang dilandasi rasa ikhlas.

D. Manfaat Penelitian

1.      Bagi guru pengampu CBM penelitian ini dapat bermanfaat untuk  dijadikan model dalam memilih strategi pembelajaran yang sesuai untuk ranah afektif

2.      Bagi Tim CBM dapat bermanfaat untuk memberikan bahan dalam mengevaluasi pelaksanaan program sehingga lebih dapat berdaya guna dan berhasil guna

3.      Bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul penelitian ini dapat menjadi model untuk penelitian tindakan disekolah-sekolah lain yang ditunjuk sebagai sekolah CBM yang pada dasarnya dapat meningkatkan mutu pendidikan .

E. Hipotesis Tindakan

Dengan pengembangan ESQ dalam pembelajaran CBM tentang hubungan sesama manusia di lingkungan sekolah, maka akan menghasilkan perubahan sikap dan perilaku mulia pada siswa kelas XI IIS3 SMA N 1 Sedayu, Bantul, Yogyakarta.

CD 1                           CD 2                           CD 3

Siklus I                        Siklus II                                  Siklus III

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Kajian Teori

1. Program Cerdas Akhlak Mulia.

Mengacu pada Buku II tentang Kompetensi Akhlak Mulia, (2003:4-14), bahwa pendidikan akhlak mulia adalah bertujuan untuk membentuk watak serta etika yang mulia pada anak didik. Adapun materi yang dikembangkan adalah yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam sekitar. Namun dalam penelitian ini seperti yang telah disebutkan dalam pembatasan masalah hanya menekankan pada hubungan sesama manusia di lingkungan sekolah.

Akhlak Mulia adalah sesuatu yang dengan sengaja dikehendaki adanya, dan dilakukan secara berulang-ulang sehingga menjadi membudaya yang mengarah pada kebaikan, (Ahmad Muhammad Al Hufy, 1995:13). Ini berarti bahwa suatu kecenderungan yang menjadi tabiat seseorang dalam waktu yang lama akan menjadi akhlaknya. Bila kecenderungan-kecenderungan yang menguasainya itu baik, maka orang itu berakhlak baik (mulia). Adapun tujuan yang akan dicapai oleh orang yang memiliki akhlak mulia ialah kebahagiaan yang dapat dirasa, serta dapat dinikmati.

Imam Ghazali (Helmy M. 1995:27) yang dimaksud akhlak adalah hal ikhwal (tingkah laku) yang melekat dalam jiwa, dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan tanpa memerlukan pemikiran dan sikap hati-hati (misalnya dermawan, pemaaf, kasih sayang, memberikan bantuan, dll.). Apabila tingkah laku itu menimbulkan perbuatan-perbuatan  yang baik dan terpuji oleh akal dan syara’, maka tingkah laku itu dinamakan akhlak mulia. Dengan demikian orang yang berakhlak mulia adalah orang yang dalam kesehariannya memiliki perbuatan yang baik dan perbuatan tersebut sudah mempribadi.

Tujuan perbuatan yang dilandasi oleh akhlak mulia adalah untuk mewujudkan kebaikan, keadilan, yang diiringi dengan terwujudnya kecintaan, perdamaian, mengutamakan orang lain, kasih sayang, kebahagiaan, kemauan, tolong menolong dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, (Ahmad Muhammad Al Hufy,1995:77). Dengan demikian orang yang berakhlak mulia adalah orang yang dapat menjaga keseimbangan hubungan antara dirinya dengan Sang Khalik, sesama manusia, maupun dengan lingkungannya sebagai ujud dari suara hatinya yaitu cinta sebagai pancaran dari sifat Al-Latiif.

Sebagai ujud rasa cinta dan kasih sayangnya terhadap sesama (sebagai pancaran sifat Ar-Rahim), maka akan terwujud kerukunan hidup dalam kehidupan sehari-hari  “Perumpamaan seorang mukmin itu (dalam kasih sayang mereka, lemah lembutnya, dan rasa cinta mereka) bagaikan satu jasad atau badan yang apabila sakit salah satu diantara anggota tubuhnya merasakan sakitnya” (HR Bukhari ). Arti cinta di sini adalah pertolongan dan bantuan yang diberikan kepada sesamanya dalam segala urusan yang bersifat duniawi dan ukhrawi, dapat berupa: nasihat, saran-saran, bantuan material, saling mengingatkan dalam masalah yang dapat mendatangkan manfaat dan menghindarkan dari bahaya .

Sungguh mulia akhlak Rasullah. Akhlak Rasullah tidak lain adalah Al-Qur’an.(QS. Al-Ahyab:21)

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.  Rasullah adalah The living Qur’an atau contoh nyata aktualisasi Al-Qur’an, (Toto Tasmara, 2001:189). Bahwa menurutnya diantara akhlak Rasulullah ialah Shidiq, Istiqamah, fathanah, amanah, dan tablig.

Siddiq merupakan salah satu dimensi kecerdasan ruhani (ESQ) terletak pada nilai kejujuran yang merupakan mahkota kepribadian orang-orang mulia. Kejujuran adalah komponen ruhani yang memantulkan berbagai sikap terpuji. Siswa berani menyatakan sikap secara transparan, terbebas dari segala kepalsuan dan penipuan. Sehingga mereka memiliki keberanian moral yang sangat kuat. Kejujuran harus dilakukan dimanapun dan kapanpun baik terhadap diri sendiri, pada orang lain dan terhadap Allah, jujur baik dalam perbuatanmaupun dalam perkataan. Seperti yang telah di Firmankan Allah dalam Surah Al Ahzab ayat 70

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”.

Istiqamah merupakan kualitas batin yang melahirkan sikap konsistensi dan teguh pendirian untuk menegakkan dan membentuk sesuatu menuju pada kesempurnaan atau kondisi yang lebih baik, merujuk pada bentuk yang sempurna. Sikap istiqamah menunjukkan kekuatan iman yang merasuki seluruh jiwanya, sehingga tidak mudah goncang atau cepat menyerah pada tantangan atau tekanan. Orang yang istiqamah akan memiliki jiwa sabar, disiplin, tanggung jawab, kreatif dan memiliki tujuan hidup.

“… Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Maka bila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. (QS Alam Nasyrah:5-6).

Fathanah diartikan sebagai kecerdasan yang meliputi  kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Orang yang memiliki sikap fathanah dalam mengambil keputusan akan mencerminkan sebagai seorang yang profesional yang didasarkan pada sikap moral atau akhlak yang luhur. Sehingga akan memiliki sikap yang disiplin, proaktif, cerdas, mampu memilih yang terbaik.

“Dan carilah pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS  Al Qasas:77).

Hal ini mengandung makna bahwa manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling sempurna karena dilengkapi dengan cipta, rasa, dan karsa (IQ, EQ, dan SQ) oleh karena itu barang siapa yang menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat dalam setiap sikap dan perbuatannya harus dilandasi oleh nilai-nilai suara hati yang bersifat universal itu dan merupakan karakter mulia manusia yang merupakan tiupan Ruh-Ilahiah (Asmaul Husna).

Amanah yaitu sikap yang bisa dipercaya (kredibel), menghormati dan dihormati. Amanah merupakan dasar dari tanggung jawab, kepercayaan, dan kehormatan serta prinsip-prinsip yang melekat pada mereka yang cerdas. Seperti Firman Allah yang tertulis didalam (QS. An Nisa:58)

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerima”.Dan Rasulullah saw. bersabda “Tiga golongan yang termasuk munafik, meskipun ia berpuasa, salat, dan mengaku muslim, yaitu bila berbicara bohong, bila berjanji tidak menepati, dan bila dipercaya berkhianat”. (HR Abu Daud). Serta “ Tidaklah seorang pencuri ketika mencuri itu ia beriman”. HR Bukhari dan Abu Daud). Dengan demikian manusia dituntut untuk jujur baik dalam berkata-kata maupun dalam berbuat agar selamat di dunia dan di akhirat.

Tablig yang mengandung pengertian bahwa manusia harus mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri, sebagaimana Rasulullah saw. bersabda, “Engkau belum disebut sebagai orang beriman kecuali engkau mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirimu sendiri”. (HR Bukhari dan Muslim). Dan Hadist yang diriwayatkan oleh As Syaikhan menyatakan bahwa  “Senyummu dihadapan saudaramu adalah sedekah”. Manusia oleh Allah diciptakan sebagai makhluk sosial, oleh karena itu diwajibkan untuk hidup rukun, saling tolong menolong dalam kebaikan tanpa memandang adanya perbedaan agama, ras, suku, dan sebagainya..

Menurut Ahmad Azhar Basyir (1991:6), bahwa akhlak menurut ajaran Islam mencakup sikap terhadap diri sendiri, terhada orang lain, terhadap alam sekitar dan terhadap Allah. Seperti yang terkandung dalam (Q.S. Al-Maidah:93)

“…Bertakwa dan berbuatlah kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. Hal ini bermakna bahwa akhlak terhadap diri sendiri berupa perasaan sabar dalam menghadapi bencana, maupun dalam kesulitan. Akhlak terhadap orang lain berupa pembelanjaan harta benda untuk menyantuni orang lain yang membutuhkan dan memenuhi janji, serta kasih sayang terhadap sesama, misalnya menjenguk yang sakit. Sedangkan akhlak terhadap Allah berupa iman dan ibadah.

Sedangkan Sidik Tono, dkk. (1998:99) mendefinisikan akhlak merupakan manifestasi iman, Islam, dan ihsan yang merupakan refleksi sifat dan jiwa secara spontan yang terpola pada diri seseorang sehingga dapat melahirkan perilaku secara konsisten dan tidak tergantung pada pertimbangan berdasarkan interes tertentu. Dengan demikian sifat dan jiwa yang melekat dalam diri seseorang manjadi pribadi yang utuh dan menyatu dalam diri orang tersebut sehingga akhirnya tercermin melalui tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan menjadi kebiasaan.

Dari pendapat-pendapat tesebut diatas dapat kita simpulkan bahwa orang yang berakhlak mulia adalah orang yang dalam kehidupan sehari-harinya selalu menjalin hubungan yang baik, baik terhadap Allah, sesamanya maupun terhadap lingkungan sehingga membawa maslahat bagi lingkungannya dimanapun dia berada, sehingga terwujudlah kehidupan yang serasi.

2. Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual

Undang-Undang Sistim Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 disebutkan bahwa tujuan pendidikan selain untuk mencerdaskan kehidupan bangsa juga untuk mengembangkan manusia seutuhnya. Manusia seutuhnya adalah mereka yang mampu menciptakan dan memperoleh kesenangan, kebahagiaan diri sendiri, dan lingkungannya. Citra manusia seutuhnya adalah manusia yang benar-benar manusia, yaitu manusia dengan aku dan kediriannya yang matang, tangguh, dan dinamis dengan kemampuan sosial yang luas dan bersemangat tapi menyejukkan.  Dalam rangka pengembangan manusia seutuhnya itulah tujuan pengajaran tidak terbatas hanya pada kawasan kognitif, tetapi meliputi juga kawasan afektif dan psikomotorik. Yang pada hakekatnya ketiga kawasan tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, tetapi merupakan satu kesatuan yang utuh.

Karena pembelajaran CBM berhubungan dengan aspek afektif atau berhubungan dengan nilai-nilai (value), baik yang menyangkut kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual, maka tujuan pengajaran kawasan ini berorientasi pada pengembangan faktor-faktor dari dalam diri seseorang dalam hal ini siswa. Kecerdasan emosional (EQ), seperti : perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral, dan sebagainya. EQ berhubungan dengan apa yang dianggap baik dan tidak baik, indah dan tidak indah, adil dan tidak adil, efisien dan tidak efisien. Sedangkan kecerdasan spiritual (SQ) berhungan dengan nilai-nilai jujur, adil, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerjasama dan peduli yang merupakan percikan dari nama-nama Allah.

J.R.Fraenkel mengemukakan beberapa ciri tentang nilai, yaitu:

1)      Nilai adalah suatu konsep yang tidak berada didalam dunia empirik, tetapi didalam pikiran manusia, yang berupa etika dan estetika.

2)      Nilai adalah standar perilaku yaitu ukuran yang menentukan apa yang indah, apa yang efisien, apa yang berharga yang ingin dipelihara dan dipertahankan. Sebagai standar, nilai merupakan pedoman untuk menentukan jenis perbuatan atau tindakan apa yang patut dilakukan, inilah yang disebut nilai-nilai moral yang menuntun seseorang untuk berbuat sesuatu tentang apa yang dianggap benar dan layak.

3)      Nilai itu direfleksikan dalam perbuatan atau perkataan, sehingga bersifat abstrak dan menjadi konkrit bila seseorang bertindak dengan cara tertentu.

4)      Nilai itu merupakan abstraksi atau idealis manusia tentang apa yang dianggap paling penting dalam hidup mereka. Karena itu nilai dapat dibandingkan, dipertentangkan, dianalisis, didiskusikan, serta digeneralisasikan. Pada pihak lain nilai juga mempunyai dimensi emosional. Bahkan merupakan komitmen emosional yang kuat.

Setiap orang mempunyai susunan tertentu tentang nilai, apa yang dianggap paling penting, agak penting, kurang penting, dan sebagainya. Karena sifatnya yang demikian, maka sistem nilai itu bisa dikembangkan di dalam diri seseorang. (Gulo, 2002:149). Dengan demikian sistem nilai merupakan pedoman untuk mengarahkan perilaku seseorang dalam bertindak.

Komitmen seseorang terhadap suatu nilai tertentu terjadi melalui pembentukan sikap. Menurut  Thornstone (1975), sikap atau attitude adalah a degree of positive or negative assosiated psycological obyect, artinya tingkat kecenderungan atau pernyataan gejala senang atau tidak senang dari seseorang terhadap suatu obyek. Jika seseorang berhadapan dengan suatu obyek tertentu, maka diekspresikan dalam bentuk sangat senang, agak senang, tidak senang, tidak acuh, atau kurang senang. Sikap yang kelihatan senang atau tidak senang itu berada dalam kawasan afektif.

a.  Kecerdasan Emosional

Kecerdasan ini pertama kalinya ditemukan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995, menurutnya kecerdasan ini berada pada otak sebelah kanan (limbic-system) dimana arsitektur otak tersebut melandasi emosi dan dan rasionalitas. Kecerdasan ini tidaklah ditentukan sejak lahir “temperament is not destiny” tetapi dapat diajarkan baik di sekolah maupun di rumah, dan baik untuk diajarkan pada masa kanak-kanak serta remaja agar kebiasaan-kebiasaan emosional esensiallah yang mengarahkan kehidupannya. Kecerdasan tersebut misalnya : kesanggupan untuk mengendalikan dorongan emosi, untuk membaca perasaan terdalam orang lain, untuk memelihahara hubungan sebaik-baiknya, sebagaimana telah dirumuskan oleh Aris Toteles, keterampilan langka “untuk marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik”. Goleman (1996:xiv)

Menurut Sternberg (Syaifudin Azwar,1996:7-9) bahwa kecerdasan mencakup tiga faktor yaitu pertama kemampuan memecahkan masalah dengan berfikir secara logis, kedua berbicara dengan jelas dan lancar serta yang ketiga kemampuan bersosialisasi dengan menerima orang lain sebagaimana adanya. Orang –orang yang demikian dapat menjalin hubungan sosial dengan lancar, peka membaca reaksi dan perasaan mereka, mampu memimpin dan mengorganisir, sertra pintar menangani perselisihan yang muncul dalam setiap kegiatan manusia (cerdas secara emosi).

Kecerdasan emosional adalah sumber utama nyala api yang penting dalam hidup kita selain sumber impuls-impuls yang membangunkan kita dan mengilhami kita untuk maju kekawasan sangat tidak dikenal. (Robert K. Cooper,1998:492). Jadi menurutnya EQ merupakan sumber utama energi, aspirasi dan dorongan pada manusia yang mengaktifkan nilai-nilai dan tujuan hidup kita yang paling dalam. Hati mengaktifkan niali-nilai kita yang paling dalam dan mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita rasakan dan kita jalani. Hati adalah sumber keberanian, semangat, integritas dan komitmen. Hati adalah sumber energi dan perasaan yang menuntut kita belajar menciptakan, bekerjasama, memimpin dan menolong. Melalui pengembangan EQ-lah kita dapat belajar untuk siap mengakui dan menghargai hakekat perasaan dalam diri kita sendiri maupun orang lain sehingga secara tepat dapat menanggapinya.

Menurut Daniel Goleman (Hermaya, 2003:7), dikatakan bahwa semua emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk mengatasi masalah yang telah ditanamkan secara berangsur-angsur oleh evolusi. Emosi merupakan akar dorongan untuk bertindak, terpisah dari reaksi-reaksi yang tampak di mata. Seperti: amarah, ketakutan, kebahagiaan, empati, cemas, cinta, rasa sedih, dll. Oleh karena itu agar dorongan bertindak tersebut bisa diterima oleh orang lain maka perlu ketrampilan untuk pengendalian diri atau memiliki kecerdasan emosi.

EQ adalah serangkaian kecakapan yang memungkinkan kita melapangkan jalan kita di dunia  yang rumit-aspek pribadi, sosial, dan pertahanan dari seluruh kecerdasan, akal sehat yang penuh misteri, dan kepekaan untuk berfungsi secara efektif setiap hari. (Steven J Stein, 2000:30). Jadi EQ merupakan kemampuan untuk membaca lingkungannya dan memahami secara spontan apa yang diingankan dan dibutuhkan orang lain, kelebihan dan kekurangan orang lain, kemampuan untuk tidak terpengatuh dan kemampuan untuk  menjadi orang yang menyenangkan, yang kehadirannya didambakan orang lain atau dengan kata lain EQ merupakan serangkaian kecerdasan untuk bisa bergaul dengan orang lain dan orang tersebut merasa nyaman apabila berdekatan dengan tersebut serta penuh rasa kepercayaan.

Toto Tasmara mengatakan bahwa Orang yang cerdas secara emosional adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dan kemampuan dirinya untuk memahami irama, nada, musik, serta nilai-nilai estetika, (2001:49). Jadi menurutnya orang yang EQnya tinggi adalah orang yang sabar, ramah pada orang lain dan mempunyai rasa seni yang tinggi.

Mungin Eddy W. ( 2003:1 ), bahwa strategi pembelajaran merupakan suatu cara yang dilakukan untuk membantu peserta didik dalam mewujudkan perilaku belajar secara efektif agar mencapai tujuan yang diinginkan. Orientasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru di sekolah masa depan hendaknya berorientasi pada pengembangan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan moral, dan kecerdasan spiritual secara penuh, serasi, selaras, seimbang, dan terpadu.

Kecerdasan emosional adalah kompetensi yang dimiliki seseorang untuk tumbuh perlahan-lahan (bertahap) untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah, bersikap bijaksana, sopan, murah hati, rela, memiliki kelembutan hati, dengan menggunakan sumber emosional maupun intelektual pikiran manusia, (Robert Coles, 2000:1).

Agustian Ary G. menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk bertindak yang dengan mendasarkan pada suara hati, sehingga orang tersebut akan memiliki nilai-nilai tentang: integritas, kejujuran, komitmen, visi, kreativitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan,  dan penguasaan diri atau sinergi. Di dalam ajaran Islam menurutnya hal-hal yang berhubungan dengan kecakapan emosi dan spiritual seperti konsistensi (istiqomah), kerendahan hati (tawadlu), ketulusan (keikhlasan), integritas dan penyempurnaan (ihsan) disebut sebagai akhlakul karimah.

Sementara itu Daniel Goleman (Agustian Ary, 2003:Iii) mengatakan bahwa EQ dapat dipelajari kapan saja, tidak peduli orang itu peka atau tidak, pemalu, pemarah, atau sulit bergaul dengan orang lain sekalipun,  dengan motivasi dan usaha yang benar, kita dapat mempelajari dan menguasainya.

But its main, ongoing subject is the core competence that is brought to bear on any of these specifik dilemmas: emotional intelligence. (Daniel G, 1996:302). Kecerdasan emosional adalah kecakapan inti yang dihasilkan untuk mengatasi setiap dilema atau masalah yang dihadapi dalam hidup manusia. Menurutnya sekolah di Oakland, California pengembangan kecerdasan emosional dijadikan sebagai strategi pendidikan emosi yang diintegrasikan pada mata pelajaran ketrampilan sosial dan emosional yang tersamar, sedang di New Haven diintegrasikan pada mata pelajaran membaca dan kesehatan.

Emotional intelligence as the subset of social intelligence that involves the ability to monitor one’s own and others’ feelings and emotiona, to descriminate among them and to use this information to guide one’s thingking and actions. (Salovey P,2004:5). Kecerdasan emosional  adalah bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan untuk memantau emosi dan perasaan diri sendiri  dan orang lain, guna membedakan diantara mereka dan untuk menggunakan informasi ini sebagai pembanding tindakan dan pikiran seseorang.

Karen Stone McCown, (Hermaya,2003:381) mengatakan bahwa kurikulum Self  Science memiliki kemiripan butir demi butir dengan unsur-unsur kecerdasan emosional. Adapun aspek yang diajarkan dalam  pengajaran kecerdasan emosional adalah meliputi:

1). Kesadaran diri (dalam arti kemampuan mengenali perasaan dan menyusun kosa kata untuk perasaan itu, dan melihat kaitan antara gagasan, perasaan, dan reaksi; mengetahui kapan pikiran atau perasaan menguasai keputusan masalah yang dihadapi.  Kesadaran diri juga dapat berupa kemampuan mengenali kekuatan serta kelemahan kita, dan melihat diri sendiri dalam posisi yang positif sehingga dapat menghindar dari perasaan tinggi hati.

2). Mengelola emosi: menyadari apa yang ada dibalik suatu perasaan (misalnya rasa sakit hati yang memicu amarah), cara untuk menangani kecemasan, amarah dan kesedihan.

3). Kemampuan bergaul yang meliputi: empati, memahami perasaan orang lain, menerima perbedaan sudut pandang orang lain, serta menghargai perbedaan orang lain dalam berbagai hal, menjadi pendengar yang baik dan penanya yang baik, bermusyawarah).

4). Tanggung jawab dalam pengambilan keputusan dan tindakan serta menindak lanjuti keputusan.

5). Bersikap tegas bukannya marah atau diam saja, kerjasama, memecahkan masalah, berkompromi.

Sedangkan menurut Fauzia Aswiin Hadis dalam seminar setengah sehari pada hari Sabtu, tanggal 12 Juni 1997 di ruang Anggrek – Istora senayan Jakarta yang membahas tentang Kecerdasan Emosional, pada kesempatan tersebut judul makalahnya adalah “Peranan IQ dan EQ”, bahwa hanya manusialah yang memiliki lapisan otak neo-cortex, yaitu sebuah alat bentu pemberian Tuhan, yang memiliki kemampuan berpikir rasional dan logis (IQ). Hanya manusialah yang mampu bekerja sebagai khalifah di muka bumi ini. Juga manusialah yang diberi karunia otak kanan atau otak limbik sebagai fungsi kecerdasan emosional (EQ), sehingga mengajarkan EQ pada anak didik berarti mengajarkan anak-anak untuk lebih hati-hati, lebih teliti terhadap apa yang dipikirkan, dan mengajar anak untuk memecahkan masalah dengan mencari solusi yang terbaik. Dengan demikian EQ adalah kehidupan emosi yang meliputi berbagai domain, dapat bergandengan dalam upaya pengembangan anak, baik di dalam studi maupun dalam menatap masa depan.

Dari pendapat beberapa ahli tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah sebuah kemampuan untuk mendengarkan bisikan emosi, dan menjadikannya sebagai sumber informasi maha penting untuk memahami diri sendiri dan orang lain demi untuk mencapai sebuah tujuan yaitu kebahagiaan hidup. Namun dengan IQ dan EQ saja tidak cukup untuk membawa diri kita dalam mengarungi kehidupan ini jika karakter tersebut masih mengabdi pada kepentingan dunia semata, karena itulah masih ada satu lagi yaitu nilai-nilai yang lebih tinggi lagi yang disebut SQ atau kecerdasan spiritual.

b. Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan ini ditemukan pertama kali pada awal tahun 1990-an oleh Michael Persinger, Wolf Singer, dan Rodolfo Llinas tentang Osilasi 40 Hz yang dinamakan Proto kesadaran bahwa manusia sebagai makhluk spiritual terbukti adanya proses saraf dalam otak untuk menyatukan dan memberikan makna pada pengalaman kita. Sedangkan V.S. Ramachandran pada tahun 1997 di California University, yang diberi nama God Spot atau titik Tuhan, pusat spiritual yang terpasang ini terletak diantara hubungan-hubungan saraf dalam cuping-cuping temporal otak. Melalui pengamatan terhadap otak dengan topografi emisi positron, area-area saraf tersebut akan bersinar dan berkembang manakala subyek penelitian diarahkan untuk mendiskusikan topik spitual.

Demikian pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall. Para ahli tersebut telah berhasil membuktikan bahwa manusia memiliki unsur-unsur spiritual, yang berfungsi sebagai pusat makna  tertinggi kehidupan manusia (The Ultimate Meaning). Lalu manusia turun ketempat yang paling rendah yaitu bumi. (Ary Ginanjar, 2003:96). Hal itu dikatakan juga oleh banyak orang yang kutip oleh Brian McMullen (2005:1), bahwa istilah spiritual hubungannya dengan Tuhan turun kemanusia atau bumi, “ Some people define spirituality in terms of relationship to God, to fellow humans, or to the earth”.

Menurut Danah Zohar dan Ian Marshal kecerdasan Spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna dan nilai yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain, (Rahmani Astuti,2000:4).

Seperti yang di tulis dalam jurnalnya yang berjudul “Spiritual Intelligence- The Ultimate Intelligence” ( Zuhar D. 2000:1) spiritual intelligence is described as the intelligence with which we address and solveproblems of meaning and value, the intelligence with wich we can place our actions and our lives in a wider, richer, meaning-giving contexs, the intelligence with wich we can assess that one course of action or one life-path is more meaningfull than another. Menurutnya SQ sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan merupakan kecerdasan tertinggi manusia. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan jiwa yang dapat membantu kita menyembuhkan dan membangun diri kita secara utuh.

Dengan demikian manusia sebagai makhluk spiritual selalu terdorong oleh kebutuhan untuk menemukan makna dan nilai dari apa yang kita perbuat dan alami, seperti mengapa kita dilahirkan dan untuk apa?, mengapa kita hidup dan untuk apa?, mengapa kita belajar dan untuk apa?, masih banyak lagi pertanyaan-partanyaan yang senada. Hal tersebut menunjuk kerinduan kita akan sesuatu yang bisa kita capai, sesuatu yang membawa kita melampaui diri kita dan keadaan kita saat ini, sesuatu yang membuat kita dan perilaku kita menjadi lebih bermakna baik bagi diri sendiri, orang lain, masyarakat, dan lingkungan di manapun kita berada.

ESQ) adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya (hanif), dan memiliki pola pemikiran  integralistik (tauhidi). (Ary Ginanjar A.2003:57). Menurutnya ESQ merupakan penggabungan antara EQ dan SQ sehingga barang siapa yang memiliki kecerdasan tersebut akan menghasilkan kebahagiaan dan kedamaian pada jiwanya. Adapun nilai dasar ESQ adalah: jujur, adil, tanggung jawab, visioner, peduli, disiplin dan kerja sama.

Vaughan(1995;4) dalam artikelnya yang berjudul Spiritual Maturity menyatakan bahwa “Spiritual intelligence can be developed by a variety of practices for training attention, transformating emotion, and cultivating eth-ical behavior”. Menurutnya kecerdasan spiritual dapat dikembangkan dengan berbagai cara yaitu pelatihan, transformasi emosi dan perilaku kebiasaan.

Marsha Sinetar mengartikan kecerdasan spiritual sebagai pikiran yang mendapat inspirasi, dorongan dan efektivitas yang terinspirasi, theisness atau penghayatan ketuhanan yang didalamnya kita semua menjadi bagian. Seperti halnya dengan Vaughan Sinetar juga berpendapat bahwa kecerdasan ini dapat ditingkatkan sampai tidak terbatas, juga dapat diturunkan. (Danah Zohar, 2000:xxvii).

Sedangkan Kohlberg dengan teori pertumbuhan moral menempatkan orang yang memiliki kecerdasan spiritual pada tahapan ketiga dan tingkatan yang ke enam, sebagai tingkatan tertinggi yang dijadikan dasar bagi seseorang dalam pengambilan keputusan moral. Level III: stage 6: uneiversal ethical principles. ( Kohlberg, 1983:61).

Dari pendapat para ahli tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa manusia pada mulanya berada di tempat yang tinggi sebagai makhluk spiritual murni, yang kemudian ruh spiritual itu ditiupkan ke dalam tubuh manusia yang terbuat dari tanah, lalu diditurunkan ketempat yang rendah yaitu bumi. Seperti yang telah di Firmankan Allah dalam Surat Albaqarah ayat 38

 

Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

c. Hubungan antara Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan emosional (EQ) adalah kecerdasan yang memungkinkan manusia berpikir asosiasif, yang terbentuk oleh kebiasaan, dan memampukan kita mengenali pola-pola emosi. Sehingga kita dapat berpikir kreatif, berwawasan jauh, membuat, dan bahkan mengubah aturan. EQ ini  diketemukan oleh Daniel Goleman, menurutnya EQ merupakan persyaratan dasar untuk menggunakan IQ secara efektif, jika bagian-bagian otak untuk merasa telah rusak, maka kita tidak dapat berpikir efektif. Kecerdasan ini memberi kita kesadaran mengenai perasaan milik diri sendiri  dan juga perasaan milik diri orang lain. EQ memberi kita rasa empati, cinta, motivasi, dan kemmpuan untuk menanggapi kesedihan atau kegembiraan secara tepat.

Lapisan otak yang lebih dalam dari neo-cortex adalah lymbic system (lapisan tengah). Pada lapisan ini berfungsi sebagai pengindai atau pengendali emosi dan perasaan kita. Sehingga dengan EQ manusia mampu mendengarkan bisikan emosi yang dapat memberikan informasi penting untuk dapat memahami diri sendiri dan orang lain. Dengan EQ tinggi orang akan berhasil dalam pergaulan sehingga menjadikan hidupnya berhasil, karena memiliki keberanian untuk mengambil keputusan , memiliki tekad yang tangguh ,kreatif, ramah dan empati.

Namun di era yang global ini manusia tidak cukup hanya memiliki kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional tetapi juga harus memperhatikan nilai-nilai lain sebagai pegangan hidup yang mampu memberikan jaminan kebahagiaan hidupnya yaitu kecerdasan spiritual (SQ). Menurut Zohar, manusia tidak hanya berpikir dengan otak, tetapi juga dengan emosi dan tubuh, serta dengan semangat, visi, harapan, kesadaran akan makna, dan nilai kita (SQ). (Rahmani Astuti:39).  Artinya IQ memang penting kehadirannya dalam kehidupan manusia, agar dapat memanfaatkan teknologi demi efiensi dan efektifitas. Sedang peran EQ adalah untuk membangun hubungan antar manusia yang efektif, sekaligus perannya dalam meningkatkan kinerja, dan SQ mengajarkan nilai-nilai kebenaran agar dalam keberhasilan manusia tidak lahir Hitler-Hitler yang baru.

EQ memungkinkan saya untuk memutuskan dalam situasi apa saya berada lalu bersikap secara tepat di dalamnya.  Ini berarti bekerja di dalam batasan situasi dan membiarkan situasi tersebut mengarahkan saya. Akan tetapi SQ memungkinkan saya bertanya apakah saya lebih suka mengubah situasi tersebut untuk diperbaiki?. Ini berarti bekerja dengan batasan situasi saya, yang memungkinkan saya untuk mengarahkan situasi itu. (Zohar D,2000:5). Dengan demikian antara IQ,EQ, dan SQ bekerja sama dan saling mendukung, otak kita dirancang agar mampu melakukan hal ini. Walaupun ketiganya memiliki wilayah kekuatan tersendiri dan bisa berfungsi secara terpisah.

Ary Ginanjar Agustian menjelaskan hubungan antara EQ, dan SQ seperti yang terdapat dalam bagan berikut ini.

 

 

EQ,SQ Terintegrasi

EQ,SQ

terpisah

Logika bekerja normal

Logika tidak bekerja normal

Suara hati Spiritual Bekerja

Suara hati Spiritual tertutup

God Spot

Terbuka

God Spot

Terbelenggu

-          tenang

-          damai

Emosi terkendali

Emosi tidak terkendali

DIMENSI

marah

sedih

kesal

EMOSI

EQ

DIMENSI

SPIRITUAL

SQ

(Gambar 1 hungan EQ, SQ)

Sumber: ESQ Power Ary G.A ,2003:219

Dari bagan diatas dapat kita lihat, apabila manusia berorientasi pada Tauhid, maka hasilnya adalah EQ, dan SQ terintegrasi. Pada saat masalah datang maka radar hati bereaksi menangkap signal, karena berorientasi pada materialisme maka hasilnya adalah emosi tidak terkendali, sehingga yang muncul adalah sikap amarah, sedih, takut, kesal. Akibat emosi tidak terkendali maka God Spot terbelenggu sehingga suara hati yang bersifat mulia ini tidak lagi bisa didengar dan menjadi tidak berfungsi, akibatnya tidak bisa berkolaborasi dengan kecerdasan yang lain. Berbeda jika masalah muncul, radar hati langsung menangkap getaran signal dinding Tauhid, maka akan mengendalikan emosi. Dan hasilnya adalah emosi yang terkendali, perasaan tenang dan damai, sehingga God Spot akan terbuka dan bekerja.

Oleh karena suara hati akan terdengar bisikan-bisikan ilahiah, seperti: keadilan, kasih sayang, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, kreativitas, komitmen, kebersamaan, perdamaian, dan bisikan mulia lainnya. Berdasarkan dorongan bisikan mulia inilah potensi kecerdasan emosional yang berlandaskan pada nilai-nilai adil, jujur, tanggung jawab. Lahirlah sebuah meta kecerdasan yang terintegrasi antara EQ, dan SQ.

3. Hakekat Belajar

Learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing (Oemar Hamalik,2001:27). Belajar merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan. Belajar bukan hanya saja mengingat tetapi mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan terjadinya perubahan tingkah laku.

Menurut Gagne (Syamsu,1994:6) menyatakan :”Learning is a change in human disposition or capability, which persists over a period of time, and wich is not simply ascribable to process of growth”. Belajar adalah suatu perubahan watak atau kemampuan (kapabilitas) manusia yang berlangsung selama suatu jangka waktu dan bukan sekedar proses pertumbuhan. Hasil belajar dapat dilihat dengan membandingkan tingkah laku yang terjadi sebelum individu berada dalam situasi belajar dan tingkah laku yang dapat ditunjukkan setelah diberikan perlakuan. Perubahan tersebut berupa peningkatan kemampuan dalam bentuk penampilan (performance) dapat juga berupa perubahan watak dan sejenisnya, seperti sikap, minat dan nilai. Perubahan hendaknya bersifat permanen, dapat disimpan dalam ingatan selama mungkin.

DiVesta dan Tompson (Syamsu, 1994: 6), menyatakan:”learning is: an enduring or permanent change in behavior as a result of experience”. Belajar adalah suatu perubahan yang bersifat abadi atau permanen dalam tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman. Belajar merupakan sesuatu yang penting diketahui oleh pendidik, karena tugas mereka adalah mengembangkan proses belajar mengajar secara efisien dan merupakan hakekat dari peranannya dalam mengubah tingkah laku warga belajar.

Sedangkan menurut William Burton (Umar,2001:29), menyatakan belajar dengan jalan mengalami “ experiencing means living through actual situations and recting vigorously to various aspects of  those situations for purposes apparent to the leaner. Experiencing includes whatever one does or undergoes which results in changed behavior, in changed values, meaning, attitudes, or skill”. Pengalaman adalah sebagai sumber pengetahuan dan ketrampilan bersifat pendidikan, yang merupakan satu kestuan di sekitar tujuan murid. Pengalaman pendidikan bersifat kontinu dan interaktif, membantu integrasi murid yang akan menghasilkan perubahan kebiasaan, nilai, arti, sikap atau ketrampilan.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa belajar sebagai perubahan tingkah laku kognitif, afektif dan psikomotorik, serta belajar merupakan suatu proses usaha untuk mencapai tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, tetapi lebih luas dari itu yaitu mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan terjadinya perubahan tingkah laku.

4. Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran adalah suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan atau pola-pola umum kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan (Syaiful Bahri,1996:5). Menurutnya ada empat strategi dasar dalam pembelajaran yaitu:

a.       Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kwalifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik.

b.      Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.

c.       Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif.

d.      Menetapkan kriteria standar keberhasilan.

Dari uraian di atas tergambar bahwa ada empat hal penting yang harus di perhatikan agar pelaksanaan pembelajaran berhasil dengan baik, pertama spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku  bagaimanakah yang diinginkan sebagai hasil belajar mengajar yang dilakukan.. Kedua, agar pemilihan pendekatan belajar mengajar tepat, maka harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, apakah untuk penguasaan pengetahuan kognitif, afektif ataukah spikomotornya. Ketiga, dalam memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan. Bila beberapa tujuan ingin diperoleh maka guru dituntut untuk memiliki kemampuan tentang penggunaan berbagai metode atau mengkombinasikan berbagai metode yang relevan, sehingga tidak membosankan siswa. Keempat, menentukan kriteria penilaian sehingga dapat dijadikan tolak ukur tingkat keberhasilannya, aspek apa yang akan dinilai dan bagaimana penilaian itu harus dilakukan.

Pada dasarnya proses pembelajaran minimal terdiri dari tiga komponen, yaitu pengajar, peserta didik dan bahan ajar yang akan disampaikan. Guru berperan sebagai informator, motor, motivator maupun stabilisator. Soekarwati (1995:2) menyatakan bahwa “ Apabila suatu lembaga pendidikan mengharapkan dapat meningkatkan kualitasnya, maka peran ketiga komponen tersebut harus ditingkatkan, khususnya peran tenaga pengajarnya”.

Berkaitan dengan itu pembelajaran dikatakan efektif apabila seorang pengajar memiliki: penguasaan atas bahan pengajaran, kepedulian terhadap siswa, kejelasan dalam penyampaian pesan, antusias terhadap bahan pengajaran, mendorong partisipasi siswa, kesediaan untuk memberikan konsultasi, keadilan dalam penilaian, persiapan dan pengorganisasian dalam pengajaran, kemampuan berbicara didepan publik atau orang lain, kemampuan untuk mendorong terjadinya pembelajaran secara mandiri, dan secara umum memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan pengajar lain.

Seorang pengajar juga harus memiliki kemamuan-kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan mengajar, seperti keahlian untuk dapat menciptakan suasana  menyenangkan didalam kelas bila terjadi situasi yang kurang mendukung proses belajar mengajar. Untuk itu seorang pengajar harus mampu menciptakan suasana ruang kelas tetap terkontrol dalam arti siswa tetap aktif mengikuti proses pengajaran dengan baik. Kemampuan membuat atau memberikan selingan humor agar peserta didik tidak merasa bosan dan memotivasi agar siswa tetap senang dan dapat menyerap bahan ajar dengan baik.

Sedang kemampuan yang berhubungan dengan kepribadian adalah kemampuan berperan sebagai figur teladan atau panutan sekaligus penggerak dan pelaksana. Pengajar setiap menerima umpan balik dari siswa ataupun teman sejawat dengan tujuan agar proses belajar mengajar dapat ditingkatkan secara keseluruhan. Disamping itu, seorang pengajar harus selalu meningkatkan kualitas pengajaran dengan menerapkan hasil-hasil penelitian pada bahan ajar yang diberikan dengan maksud agar kualitas bahan ajar terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tetap berpegang pada nilai-nilai moral sehingga ada peningkatan mutu dan hasil.

Dalam belajar pasti terdapat unsur-unsur yang berubah karena proses yang terjadi. Perubahan unsur-unsur itu dapat berupa dari yang lemah menjadi kuat atau sebaliknya, dari tidak ada menjadi menjadi ada atau sebaliknya. (Imron, 1996:29) menyebutkan unsur-unsur belajar yang dinamis itu diantaranya motivasi, bahan ajar, alat bantu belajar, suasana belajar, dan kondisi subyek belajar. Berikut ini akan disajikan hal-hal yang berkaitan dengan masing-masing unsur tersebut dan upaya untuk mengoptimalkan usaha peningkatan efektivitas pembelajaran, yaitu:

a.  Motivasi dan upaya untuk memotivasi siswa untuk belajar

Motivasi belajar adalah keaseluruhan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar dan menjamin kelangsungan belajar itu demi mencapai tujuan (Winkel, 1987:23). Dalam belajar motivasi megang peranan penting dalam memberikan gairah, semangat, dan rasa senang. Siswa yang mempunyai motivasi tinggi akan menampakkan energi yang tinggi untuk melaksanakan kegiatan belajar. Menurut Sudirman (1986:24), beberapa siswa yang mempunyai  motivasi belajar tinggi diantaranya adalah mempunyai rasa tertarik kepada guru dalam arti tidak membenci atau bersikap acuh, tertarik kepada mata pelajaran yang sedang dipelajari, memperlihatkan antusiasme yang tinggi, diantaranya ingin identitasnya diketahui dan diakui, selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali, dan mempunyai kebiasaan dan moral yang selalu terkontrol. Siswa tersebut juga selalu tekun dalam menmghadapi tugas serta dapat bekerja dalam waktu yang lama, ulet dalam menghadapi kesulitan, dan tidak mudah puas atas apa yang telah diperolehnya.

Apabila seorang siswa menunjukkan gelagat yang agak berbeda dari ciri-ciri diatas, maka diperlukan upaya untuk memotivasinya. Menurut Imron (1996:31), upaya yang dapat dilakukan antara lain adalah sebagai berikut:

1)      Siswa selalu dikenalkan pada kemampuan yang ada pada dirinya, sehingga siswa akan tahu akan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, hal itu akan memperkuat dan mengukuhkan kelebihannya dan memperbaiki kekurangannya melalui aktivitas belajar.

2)      Perumusan tujuan belajar yang jelas, sehingga siswa akan mempunyai target yang ingin dicapainya.

3)      Perumusan aktivitas yang jelas, siswa ditunjukkan kegiatan-kegiatan yang dapat mengarahkan tercapainya tujuan belajar yang ingin dicapai.

4)      Dibuat variasi dalam kegiatan belajar, sehingga  kegiatan yang terterjadi tidak monoton dan membosankan.

Guru perlu memperkenalkan hal-hal yang baru, yang dapat menarik perhatian dan rasa ingin tahu sehingga akan menyebabkan keinginan untuk berusaha mencari tahu, dan gairah untuk mengetahui, hal itu diyakini akan dapat meningkatkan motivasi siswa.

Seseorang disebut termotivasi apabila ia merasakan perlunya pemenuhan terhadap sebagian atau seluruh kebutuhan keingintahuannya. Sebaliknya seseorang yang tidak termotivasi tidak memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu, karena ia tidak melihat adanya kemungkinan untuk dapat memenuhi kabutuhannya. Sebagai upaya peningkatan motivasi dalam konteks pengajaran disekolah, seorang guru hendaknya mampu menunjukkan kepada siswa bahwa kegiatan yang dilakukan dalam proses belajar-mengajar akan dapat memenuhi kebutuhan siswa.

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002:80-81), menyatakan bahwa ada tiga komponen utama dalam motivasi yaitu dorongan, kebutuhan dan tujuan. Dorongan merupakan kekuatan mental untuk mekukan kegiatan dalam rangka memenuhi harapan. Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidak seimbangan antara apa yang ia miliki dan ia harapkan. Sedang tujuan adalah hal yang ingin dicapai oleh seorang individu. Tujuan tersebut mengarahkan perilaku dalam hal ini perilaku belajar.

b. Bahan Ajar dan Upaya Penyediaannya

Bahan ajar mencakup segala sesuatu yang harus dipelajari siswa dalam aktivitasnya. Bahan ajar ini dapat berasal dari guru, buku-buku teks, dan dari sumber lain yang dapat mendukung penguasaan bahan ajar utama. Yang diperhatikan oleh guru adalah penyesuaian antara bahan ajar itu dengan tujuan belajar dan karakteristik siswa. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan guru sehubungan dengan  penentuan bahan ajar, diantaranya adalah menarik siswa, relevan dengan tujuan, muatan latihan yang cukup, murah, mudah dilaksanakan dll.

Bahan ajar yang baik harus mempunyai urutan tingkat kesulitan yang berawal dari tingkatan sederhana ke tingkat yang kompleks, dari yang mudah ke tingkat yang lebih sulit. Menurut Imron (1996:34), bahwa urutan penyajian dalam pembelajaran sangat penting karena apabila digunakan urutan yang sebaliknya, maka akan timbul  kesulitan baik pada pihak guru maupun pihak siswa. Penyajian bahan ajar perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa, sehingga siswa tetap mempunyai apresisasi yang positif terhadap pelajaran. Bahan ajar yang terlalu  sulit akan menyebabkan siswa putus asa. Sebaliknya bahan yang terlalu mudah cenderung diremehkan. Akibatnya pada kedua kondisi itu tidak terjadi kegiatan belajar seperti yang diinginkan.

c. Alat Bantu Belajar dan Upaya Penyediaannya

Alat bantu belajar mempunyai kedudukan yang penting karena dapat memudahkan guru dalam menyampaikan pelajaran dan memudahkan siswa dalam memahami dan menguasai pelajaran yang disampaikan. Dengan alat bantu bahan ajar yang sulit dapat menjadi tampak lebih mudah, konkrit, dan menarik. Pada umumnya alat bantu yang tersedia disetiap kelas adalah papan tulis. Namun dalam praktek pendidikan papan tulis tidak cukup, harus didukung oleh yang lain, seperti: tape recorder, TV, gambar, OHP, VCD, artikel, gambar dan yang lainnya yang dapat mendukung materi pembelajaran yang akan disampaikan. Dengan demikian dalam penyampaian materi selain akan menjadi mudah juga dapat menarik perhatian siswa sehingga bisa tercipta suasana baru, yang hal itu bisa menghilangkan kejenuhan siswa, tidak monoton, yang hanya berkisar antara mendengarkan ceramah guru, melihat papan tulis, dan menyimak buku masing-masing.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan alat bantu adalah adanya kesesuaian materi yang akan disampaikan dengan tujuan belajar.Disamping itu yang harus diperhatikan adalah ketersediaan dan keterjangkauan media, kepastian dan keefektifan dan efisiensi. Yang perlu dihindari dalam pemilihan alat bantu adalah yang bisa menyita waktu, biaya dan tenaga yang berlebihan, sehingga pencapaian tujuan secara keseluruhan menjadi terabaikan

d. Suasana Belajar dan Upaya Pengembangannya

Untuk mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar, perlu diciptakan suasana belajar yang kondusif. Suasana belajar yang kondusif adalah suasana yang mendukung terciptanya kegiatan belajar yang baik.

Disamping itu untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran maka seorang guru harus memiliki kemamuan-kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan mengajar; seperti: keahlian untuk dapat menciptakan suasana menyenangkan didalam kelas bila terjadi situasi yang kurang mendukung proses belajar mengajar, mampu menciptakan suasana ruang kelas tetap terkontrol dalam arti siswa tetap aktif mengikuti proses pengajaran dengan baik, kemampuan membuat atau memberikan selingan humor agar peserta didik tidak merasa bosan dan memotivasi agar siswa tetap senang dan dapat menyerap bahan ajar dengan baik.

Sedang kemampuan yang berhubungan dengan kepribadian adalah kemampuan berperan sebagai figur teladan atau panutan sekaligus penggerak dan pelaksana. Pengajar setiap menerima umpan balik dari siswa ataupun teman sejawat dengan tujuan agar proses belajar mengajar dapat ditingkatkan secara keseluruhan. Disamping itu, seorang pengajar harus selalu meningkatkan kualitas pengajaran dengan menerapkan hasil-hasil penelitian pada bahan ajar yang diberikan dengan maksud agar kualitas bahan ajar terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tetap berpegang pada nilai-nilai moral sehingga ada peningkatan mutu dan hasil.

Untuk mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar, perlu diciptakan suasana belajar yang kondusif. Suasana belajar yang kondusif adalah suasana yang mendukung terciptanya kegiatan belajar yang baik. Hal tersebut ditandai dengan :

1)      kekuatan siswa yang melakukan kegiatan secara terarah dan tidak melakukam kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan tujuan belajarnya

2)      Keaktifan siswa untuk berinteraksi dengan gurunya dan dengan sesama siswa, dan komunikasi yang terjadi antar siswa dan guru adalah dinamis dua arah

3)      Adanya kebebasan bagi siswa untuk melakukan hal-hal yang dapat membantu mencapai tujuan belajar, jadi siswa melakukan hal itu bukan hanya karena disuruh guru saja

4)       Adanya penghargaan bagi siswa yang menunjukkan kreativitas (Rusyan dkk, 1989:170).

Suasana belajar yang semacam ini tentunya tidak tercipta dengan sendirinya. Sejak penyusunan rencana yang dikehendaki perlu dirancang dan terapkan secara konsisten dalam setiap pertemuan. Seperti yang disarankan (Imron 1996:38) bahwa pada awal akan dimulainya serangkaian kegiatan belajar mengajar, kesepakatan-lesepakatan dengan siswa tentang jalannya proses belajar itu dibuat dahuli secara bersama-sama dan demokratis, sehingga siswa tidak menemui keragu-raguan dalam bersikap dan bertindak, serta tidak akan terjadi keterpaksaan atau keberatan dari pihak siswa. Rancangan kegiatan dikomunikasikan dengan siswa, sehingga siswa tahu apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Siswa diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapatnya, dan siswa yang pasif perlu didorong untuk mampu dan mau menunjukkan partisipasi aktifnya.

e.  Kondisi Subyek Belajar dan Upaya Penyiapannya

Sejak awal perlu disadari bahwa kondisi siswa bersifat heterogen, baik kondisi fisik maupun psikisnya. Kondisi subyek belajar yang berbeda-beda itu perlu disikapi secara bijaksana oleh guru, sehingga semua anggota kelas akan merasakan perlakuan yang seimbang. Kock (1994:68) menyarankan agar perbedaan inteligensi, emosi, bakat, motivasi intrinsik, kematangan, atau harapan aspirasi siswa dipandang sebagai kewajiban yang ditemui juga dibidang-bidang yang lain, sehingga diperlukan perlakuan yang wajar pula, siswa yang menonjol diantara teman-temannya perlu dihargai, namun jangan sampai mendominasi seluruh proses pembelajaran, karena siswa yang lain yang kebetulan mempunyai kekurangan juga berhak atas perlakuan yang sama.

Upaya yang dapat dilakukan guru untuk membuat subyek belajar secara spikis untuk mengikuti pelajaran diantaranya adalah dengan memelihara keseimbangan emosinya, agar secara psikologis mendapatkan rasa aman. Kondisi psikis siswa perlu diasah dengan latihan-latihan, sehingga siswa akan terlatih dalam menghadapi tugas-tugas yang mungkin berat. Yang paling penting, siswa harus dibuat tidak merasa tertolak oleh lingkungannya, baik oleh teman sejawat maupun guru. Dengan menerima siswa apa adanya, siswa akan merasa tetap sebagai anggota kelompok dalam kelasnya, dan tetap mempumyai semangat untuk bersaing secara wajar dan positif dintara teman-temannya

B. Hasil Penelitian Yang Relevan

Jarwoko (2002), yang berjudul Efektivitas Pendidikan Anak Usia Dini Di Taman Anak Saleh (Tapas) Al-Amanah ketagen Sidoarjo, terungkap bahwa aspek perkembangan sosio-emosi-spiritual sangat dipengaruhi oleh penanaman nilai-nilai akhlak mulia oleh lembaga pendidikan tersebut. Perubahan perilaku yang mencerminkan seorang muslim tampak pada kebiasaan membaca doa setiap memulai kegiatan dan mengakhiri kegiatan, mengucapkan salam dan rajin berinfak.

Penelitian yang dilakukan oleh Yasmuri (2004), yang berjudul Pengaruh Pendidikan Cerdas Berakhlak mulia Pada Pelaksanaan Sholat Berjamaah Siswa Di SLTP Negeri I Dlingo, terungkap adanya korelasi positif atau signifikan.

Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Syahridlo yang berjudul Pengaruh Prestasi Pelajaran Agama terhadap Sikap Keagamaan Siswa Madrasah Aliyah Negeri Kabupaten Bantul, bahwa prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran aqidah (akhlak mulia) memberikan kontribusi secara signifikan sebesar 17,52% terhadap pembentukan sikap keagamaan siswa.

Dikatakan oleh Basrodin dalam penelitiannya yang berjudul Managemen Sekolah Model Imtaq SMA Negeri I Pleret Bantul, dikatakan bahwa proses managemen sekolah model imtaq diarahkan dalam rangka meningkatkan prestasi akademik sekaligus membentuk kepribadian siswa yang berakhlak mulia yang dilandasi niat ibadah untuk mendapat ridlo Allah SWT dan akhrirnya mencapai kebahagiaan dunia dan akhlirat. Dan terbukti bahwa secara fisik dapat dilihat pada lingkungan sekolah yang bersih, pemasangan kutipan Ayat-Ayat Al-Qur’an dan Al-Hadist di kelas-kelas/ tempat yang strategis, pemakaian busana muslimah bagi siswa, guru/karyawan, bangunan masjid yang megah, dan pembiasaan bersalaman antara siswa dengan guru.

C. Kerangka Berpikir

Keberhasilan peningkatan mutu pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh penamiplan guru yang baik saja, tetapi ditentukan oleh banyak faktor. Diantaranya adalah kurikulum, bahan ajar, pengelolaan kelas, siswa, dana, sarana, media, metode pembelajaran, dll. Guru sebagai penentu faktor keberhasilan dalam pembelajaran dituntut untuk mencari strategi yang tepat agar pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Dengan mengacu pada Buku II tentang kompetensi akhlak mulia, bahwa tujuan pendidikan akhlak mulia adalah untuk membentuk watak serta etika yang mulia pada anak didik, yang meliputi hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam sekitar. Seperti yang telah diuraikan dalam pembatasan masalah, peneliti membatasi pada hubungan manusia dengan manusia saja dengan menggunakan strategi pengembangan kecerdasan Emosional spiritual (ESQ). Strategi ini merupakan cara untuk mengembangkan kecerdasan yang sudah dimiliki oleh siswa yaitu kecerdasan emosinal dan spiritual dengan bersumber pada suara hatinya yang merupakan pancaran dari Asmaul Husna (seperti : kasih sayang, jujur, empati, ramah, santun, menghormati yang lebih tua, dll.

Mengingat  pendidikan akhlak mulia bertujuan untuk menanamkan, membina dan mengembangkan aspek nilai-nilai pada anak didik maka dilakukan secara bertahap, mulai dari hal-hal yang kecil, dan dimulai dari sekarang.  Adapun proses pembinaan nilai menurut Krathwal melalui lima tahapan secara hirarkis, yaitu:

1)      Receiving (penerimaan), siswa berteraksi dengan stimulus, misalnya siswa hadir dan memperhatikan penjelasan dari guru dengan sungguh-sungguh setelah menyaksikan pemutaran CD ESQ.

2)      Responding (penanggapan), siswa mengadakan aksi terhadap stimulus, misalnya mengajukan pertanyaan jika belum jelas atau menemukan sesuatu kejanggalan, mentaati tata tertib,dll.

3)      Valuing (penilaian), pada tahap ini mulai ada proses internalisasi seperti menjenguk temannya yang sakit, dengan senang hati untuk berinfak,dll.

4)      Organization (pengorganisasian), pada tahapan ini siswa mampu membedakan nilai -nilai yang dianggap baik dan buruk, misalnya jujur.

5)      Characterization (karakterisasi) pada tahapan ini sudah menjadi mempribadi, tanpa diperintah oleh guru siswa melakukan sesuatu yang dianggap baik, seperti : mengikuti jamaah shalat zuhur, menjenguk temannya yang sakit, mempersiapkan alat pembelajaran, menjaga kebersihan kelas, salaman dengan guru sebelum masuk kelas.

 

Untuk memperjelas arah penelitian, dengan berdasarkan kajian teori perlu di rumuskan kerangka pikir seperti pada gambar berikut ini.

 

Gambar 2

Rumusan Kerangka Pikir dengan Pengembangan Kecerdasan Emosional dan Spiritual

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian tindakan (action research), yang bertujuan untuk merubah perilaku penelitinya, perilaku orang lain, dan atau mengubah kerangka kerja, organisasi, atau struktur lain, yang pada gilirannya menghasilkan perubahan pada perilaku peneliti-penelitinya dan atau perilaku orang lain. (Suwarsih Madya,1994:12).

Menurut Kemmis dan McTaggart (1988:5) Action research is a form of collective self-reflective enquiry undertaken by participants is social situation in order to improve the rationality and justice of their own social or educational practices, as well as their understanding of these practices and the situations in which these practices are carried out. Groups of participants can be teachers, students, principals, parents and other community members.- any group with a shared concern. Hal ini berarti bahwa penelitian tindakan merupakan bentuk penelitian diri reflektif kolektif yang dilakukan oleh peserta dalam situasional tertentu guna meningkatkan rasionalitas maupun keadilan dalam praktek pendidikan. Kelompok peserta dapat saja terdiri dari guru, siswa, kepala sekolah, orang tua dan anggota komunitas lain atau kelompok yang memiliki kepedulian bersama.

Sedangkan menurut Watts (2002:1), penelitian tindakan memerlukan proses yang sistematis dan teknik yang hati-hati, yaitu :Action research is a process in which participants examine their own educational practice systematically and carefully using the techniques of research. Penelitian tindakan adalah proses dimana peneliti menguji praktek pendidikan mereka sendiri secara sistematis dan hati-hati dengan menggunakan teknik penelitian. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian tindakan lazimnya dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan atau pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di kelas.   Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa:

1.  guru dan peneliti bekerja sebaik-baiknya atas masalah yang mereka identifikasi sendiri,

2.  guru dan peneliti menjadi lebih efektif ketika didorong untuk menguji dan menilai pekerjaan mereka sendiri dan kemudia mempertimbangkan cara kerja yang berbeda,

3.  guru dan peneliti saling membantu dengan bekerja bersama-sama secara kolaboratif,

4.  bekerja dengan rekan kerja (guru sejenis) membantu guru dan kelompok dalam pengembangan profesi mereka.

Sikap yang paling perlu dikembangkan dalam penelitian tindakan adalah kritis kolaboratif, yaitu upaya olah pikir yang sangat kompleks dalam memadukan beragam persepsi, visi, pengetahuan, ketrampilan, dan kepentingan untuk dijadikan persepsi dan visi bersama, serta kesediaan pihak-pihak yang terkait untuk ikut terlibat dan bertanggung jawab bersama-sama sesuai dengan peranannya masing-masing (Gunawan, 1998:24)

Menurut Suwarsih Madya yang di kutip dari pendapatnya (Cohen dan Manion, 1980), bahwa penelitian tindakan memiliki karakteristik, sebagai berikut

1.  Situasional, praktis, dan secara langsung gayut (relevan) dengan situasi nyata dalam dunia kerja.

2.  Memberikan kerangka kerja yang teratur kepada pemecahan masalah.

3.  Fleksibel dan adaptif, memungkinkan adanya perubahan selama masa percobaan dan mengabaikan pengontrolan karena lebih menekankan sifat tanggap dan pengujicobaan dan pembaharuan ditempat kejadian.

4.  Partisipatori karena peneliti atau anggota tim peneliti sendiri ambil bagian secara langsung atau tidak langsung dalam melaksanakan penelitian.

5. Self evaluatif, yaitu modifikasi secara kontinyu dievalusi dalam situasi yang ada, yang tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan praktik dalam cara tertentu.

6.  Meskipun berusaha secara sistematis, penelitian tindakan secara ilmiah kurang ketat karena kesahihan dalam dan luarnya lemah.

B. Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan ini direncanakan berlangsung sebanyak tiga siklus, masing-masing siklus terdiri dari dua kali pertemuan.

Siklus I, tentang : Hubungan antara siswa dengan guru/karyawan, dan siswa dengan siswa dilingkungan sekolah.

1.      Perencanaan:

a.       Agar siswa memiliki sikap dan tingkah laku mulia dalam pergaulan di lingkungan sekolah, seperti: kasih sayang, jujur, adil, tanggung jawab, dan pemaaf, maka guru memberikan penjelasan dan memberikan contoh tentang sikap-sikap terpuji yang harus dijaga dalam pergaulan di lingkungan sekolah.

b.      Guru memilih dan menyiapkan media yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan kepada siswa.

c.       Menyiapkan personal yang akan terlibat yaitu peneliti, siswa dan guru pengampu.

2.      Pelaksanaan :

a.       Guru mengucapkan salam, berdoa bersama kemudian menyampaikan tujuan kompetensi dasar kepada siswa.

b.      Untuk menyampaikan materi tentang sikap-sikap mulia yang harus dijaga dalam pergaulan di lingkungan sekolah, diantaranya adalah: santun terhadap guru/ karyawan, dan teman, kasih sayang, adil, jujur, tanggung jawab, adil, peduli, dan pemaaf, maka guru  menggunakan media VCD yaitu pemutaran CD ESQ tentang hubungan IQ, EQ, dan SQ.

c.       Selama siswa mencermati pemutaran CD ESQ, guru dan peneliti memandu, mengawasi dan memberikan bimbingan.

d.      Teknik evaluasinya dengan mengggunakan tes skala sikap dan observasi.

3.      Observasi: dengan melakukan pengamatan terhadap kegiatan siswa di sekolah baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

4.      Refleksi : berdasarkan hasil evaluasi dan observasi bila masih banyak diketemukan siswa tidak respek terhadap mata pelajaran akhlak mulia, hal itu dapat dilihat dari perbahan sikap dan tingkah laku siswa maka peneliti akan mengadakan diskusi bersama guru atau teman sejawat dan kepala sekolah untuk mengadakan perencanaan pemecahan masalah yang selanjutnya dilaksanakan pada siklus kedua.

Siklus II, tentang : Hubungan antara siswa dengan guru/karyawan, dan siswa dengan siswa dilingkungan sekolah

1.       Perencanaan :

a.       Agar siswa memiliki sikap dan tingkah laku yang mulia dalam pergaulan di lingkungan sekolah, seperti: kasih sayang, jujur, adil, tanggung jawab, dan pemaaf, maka guru memberikan penjelasan dan memberikan contoh tentang sikap-sikap terpuji yang harus dijaga dalam pergaulan di lingkungan sekolah.

b.      Guru memilih dan menyiapkan media yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan kepada siswa.

c.       Menyiapkan personal yang akan terlibat yaitu peneliti, siswa dan guru pengampu.

2.       Pelaksanaan:

a.       Guru mengucapkan salam, berdoa bersama kemudian menyampaikan tujuan kompetensi dasar kepada siswa.

b.      Untuk menyampaikan materi tentang sikap-sikap mulia yang harus dijaga dalam pergaulan di lingkungan sekolah, diantaranya adalah: santun terhadap guru/ karyawan, dan teman, kasih sayang, adil, jujur, tanggung jawab, adil, peduli, dan pemaaf, maka guru menggunakan VCD yaitu dengan pemutaran CD ESQ tentang kecerdasan spiritual.

c.       Selama siswa mencermati pemutaran CD ESQ tentang kecerdasan spiritual guru dan peneliti memandu, mengawasi dan memberikan bimbingan.

d.      Teknik evaluasinya dengan menggunakan tes skala sikap dan pengamatan.

3.      Observasi: dengan cara mengadakan pengamatan terhadap kegiatan siswa di dalam kelas maupun di luar kelas.

4.      Refleksi : berdasarkan hasil evaluasi dan observasi maka akan diketemukan masalah-masalah yang baru, kemudian peneliti akan mengadakan kolaborasi guna pemecahan masalah  dan selanjutnya dipecahkan pada siklus ketiga.

Siklus III, tentang: Hubungan antara siswa dengan guru/karyawan, dan siswa dengan siswa dilingkungan sekolah.

1. Perencanaan :

a.       Agar siswa memiliki sikap dan tingkah laku mulia dalam pergaulan di lingkungan sekolah, seperti: kasih sayang, jujur, adil, tanggung jawab, dan pemaaf, maka guru memberikan penjelasan dan memberikan contoh tentang sikap-sikap terpuji yang harus dijaga dalam pergaulan di lingkungan sekolah.

b.      Guru menggunaka media VCD ESQ agar siswa memiliki pemahaman tentang sikap mulia yang harus dijaga dalam pergaulan di lingkungan sekolah.

c.       Mempersiapkan personal yang akan terlibat , yaitu: peneliti, guru dan siswa.

2. Pelaksanaan:

a.       Guru mengucapkan salam, berdoa bersama kemudian menyampikan tujuan kompetensi dasar kepada siswa.

b.      Untuk menyampaikan materi tentang sikap-sikap terpuji yang harus dijaga dalam pergaulan di lingkungan sekolah, diantaranya adalah: santun terhadap guru/ karyawan, dan teman, kasih sayang, adil, jujur, tanggung jawab, adil, peduli, dan pemaaf, maka guru menggunakan media CVD dengan pemutaran CD ESQ tentang spiritual era.

c.       Selama siswa mencermati pemutaran CD ESQ, guru dan peneliti memandu, mengawasi dan memberikan bimbingan.

d.  Teknik evaluasinya menggunakan tes skala sikap dan pengamatan.

3.   bservasi: dengan cara mengadakan pengamatan terhadap kegiatan siswa baik di dalam maupun di luar kelas.

4.      Refleksi: berdasarkan hasil evaluasi dan observasi maka akan di ketemukan metode dan media yang cocok untuk menyampaikan materi cerdas berakhlak mulia yang efektif sehingga akan tercapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

C. Desain Penelitian

Langkah-langkah penelitian ini dilakukan dengan mengacu pada uraian Kemmis dan McTaggart (1990:11) tentang the action research spiral, (penelitian tindakan model spiral). Siklus tindakan, yaitu plan, action, observation, and reflection, (perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi), dikembangkan seperti berikut ini :

1. Perencanaan

Tahap perencanaan dimulai dari penemuan masalah dan penganalisanya  dan kemudian merancang tindakan yang akan dilakukan secara terperinci, adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

a.   Merumuskan masalah penelitian yang ada di lapangan, yaitu dengan malakukan observasi awal disekolah, baik melalui diskusi dengan guru dan kepala sekolah maupun observasi di dalam kelas. Masalah-masalah yang ditemukan kemudian dituliskan dalam daftar masalah.

b.      Memilih masalah penelitian. Masalah-masalah yang ada dalam daftar masalah itu didiskusikan dengan pihak-pihak terkait. Tiap masalah dilihat bobot kemungkinan pemecahannya, dan dipilih masalah-masalah yang dikategorikan berada dalam jangkauan kemungkinan pemecahan saja.

c.        Mempertajam masalah penelitian. Tiap masalah yang terpilih itu kemudian diperinci atau dipertajam menjadi sub-sub masalah.

d.      Merancang pemecahan masalah. Rancangan pemecahannya berupa langkah-langkah yang dilakukan untuk memecahkan sub-sub masalah tadi.

2. Tindakan

Tindakan yang dimaksud disini adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dan terkendali, yang merupakan variasi praktik yang cermat dan bijaksana. Sehubungan dengan hal itu, praktik diakui sebagai gagasan dalam tindakan dan tindakan itu digunakan sebagai pijakan bagi perkembangan tindakan-tindakan berikutnya, yaitu tindakan yang disertai niat untuk memperbaiki keadaan.

3.  Observasi

Observasi berfungsi untuk mendokumentasikan pengaruh tindakan terkait. Observasi itu berorientasi ke masa yang akan datang, memberikan dasar bagi refleksi sekarang, apalagi ketika putaran sekarang ini berjalan. Observasi harus direncanakan, sehingga akan ada dasar dokumenter untuk refleksi berikutnya. Observasi harus bersifat responsif, terbuka pandangan dan pikirannya.

4.   Refleksi

Tahap ini dilakukan untuk melaksanakan penilaian terhadap proses yang terjadi, masalah yang muncul, dan segala hal yang berkaitan dengan tindakan yang telah dilakukan. Pelaksanaan refleksi ini adalah berupa diskusi yang dilakukan para pihak yang terkait; peneliti, guru, dan kepala sekolah untuk mengevaluasi hasil tindakan dan merumuskan perencanaan tindakan berikutnya. Apabila masih diperlukan, proses diulangi lagi dengan merancang pemecahan masalah putaran kedua, berupa revisi rancangan pertama, kemudian pemecahan masalah kedua, mengobservasi proses dan hasil pemecahan masalah dan refleksinya. Apabila dipandang masih tetap diperlukan, proses perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi dilakukan sampai putaran ketiga.

Langkah-langkah penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Keterangan :

0        = Perenungan

1        = Perencanaan

2        = Tindakan dan observasi 1

3        = Refleksi 1

4        = Rencana Terevisi 1

5        = Tindakan dan Observasi  II

6        = Refleksi II

7        = Rencana Terevisi II

8        = Tindakan dan Observasi III

9        = Refleksi III

(Gambar 3: Proses Penelitian Tindakan)

Sumber : Kemmis dan McTaggart.

 

D. Subyek Penelitian

Subyek penelitian  tindakan ini adalah Siswa SMA N 1 Sedayu, Bantul, Yogyakarta, yaitu sekolah tempat peneliti mengajar. Karena disamping sebagai peneliti juga mengajar di kelas III yang pada bulan Mei menghadapi ujian, maka kepala sekolah memberikan ijin penelitian pada jam  dan hari dimana peneliti tidak mengajar, yaitu pada setiap hari Kamis di kelas XI IIS3.

E. Setting Penelitian

Penelitian tentang pembelajaran CBM melalui Pengembangan Kecerdasan Emosional dan Spiritual di lakukan di SMA N 1 Sedayu, Bantul, Yogyakarta, kelas XI IIS3. Adapun waktu pelaksanaannya dari bulan maret sampai dengan Pebruari 2010.

F. Teknik Pengumpulan Data

Akhlak mulia merupakan tingkah laku susila atau budi pekerti, maka teknik  pengumpulan data diperoleh melalui kuesioner, observasi atau pengamatan, dan dokumentasi ( Depdiknas, 2004:26). Dan teknik evaluasi  yang digunakan juga berbeda dengan mata pelajaran yang lainnya dalam hal ini tidak menggunakan alat tes yang bersifat kwantitatif. Untuk mengevaluasi keberhasilan penanaman akhlak mulia dengan evaluasi non tes berupa: observasi, pelaporan, tes skala sikap. (Dinas P dan K, 2002:0)

Pengumpulan data dilakukan dengan catatan lapangan sebagai hasil dari :

1. Observasi

Observasi adalah pengamatan yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis tentang keadaan atau fenomena sosial dan gejalapsikis dengan jalan mengamati dan mencatat. (Mardalis, 63). Pada tahapan ini peneliti melakukan observasi/ pengamatan langsung di kelas maupun di luar kelas. Adapun hal-hal yang diamati di dalam kekas adalah kegiatan proses pembelajaran CBM baik kegiatan yang dilakukan oleh guru maupun siswa. Sedangkan pengamatan yang dilakukan di luar kelas adalah dengan mengamati kegiatan keseharian di lingkungan sekolah yaitu pada saat upacara bendera, istirahat, dan olah raga. Adapun caranya  dengan  berkoordinasi dengan guru BP, guru olah raga, sehingga dapat diketemukan permasalahan-permasalahan yang timbul kemudian dilakukan pencatatan.

2. Tes Skala Sikap

Tes ini dimaksudkan untuk mengetahui sikap sesungguhnya/ asli dari siswa, sehingga dapat diketahui kesesuaian antara tutur kata, sikap, dan tingkah laku siswa yang menunjukkan kepribadian akhlak mulia atau tingkat kecerdasan emosional dan spiritualnya. Tes skala sikap sebelum di ujikan kepada siswa, sebelumnya oleh peneliti telah dimintakan persetujuan atau pernyataan pendapat dari ahlinya ( judgment profesional ), dalam hal ini adalah dosen pembimbing dan dosen ahli dalam tes skala sikap (pendidikan nilai).

3. Dokumentasi

Dokumentasi berupa surat ijin penelitian, tes skala sikap, lembar pengamatan tentang sikap dan tingkah laku siswa di lingkungan sekolah, dan lembar hasil tugas-tugas,  serta foto kegiatan pembelajaran.

4. Catatan Lapangan

Catatan lapangan untuk mencatat  segala yang dapat memberikan informasi yang terkait dengan penelitian tindakan ini, misalnya tentang perilaku khusus siswa di lingkungan sekolah yang dapat menjadi petunjuk adanya permasalahan atau petunjuk untuk langkah berikutnya atau catatan kecenderungan yang bersifat positif atau negatif.

G. Teknik Analisis  data

Data yang telah dikumpulkan  dianalisis dengan memproses, mengorganisasikan, dan mengurutkan data kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar.  Analisa data yang dilakukankan ini bertujuan agar data tersebut lebih bermakna. Maka dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi agar tidak terjadi subyektifitas dengan mengacu  pendapat atau persepsi orang lain. (Suwarsih Madya: 1994:33). Adapun indikator keberhasilan penelitian ini di ukur dari adanya peningkatan perubahan sikap dan tingkah laku siswa, yaitu dari tingkat kesadaran yang rendah menjadi kesadaran yang tinggi (peningkatan EQ) dan pada akhirnya pada peningkatan SQnya yang tertinggi. Pada tes skala sikap, siswa yang mencapai SQ tinggi adalah mereka yang memilih sikap pada pilihan selalu untuk pernyataan positip dan tidak pernah pada pernyataan negatip dan skor yang diperoleh maksimal (5). Sedangkan siswa yang Eqnya tinggi adalah siswa yang memilih pernyataan sering pada pernyataan positip dan jarang sekali pada pernyataan negatip.

DAFTAR PUSTAKA

UU No.20 Tahun 2003, Sistem pendidikan nasional

Perda. No. 28 Tahun 2001, Rencana stratetis kabupaten bantul

Perda. No. 13 Tahun 2002, Sistem penyelenggaraan pendidikan di kabupaten bantul

Pemda. (2002), Pedoman umum pendidikan akhlak mulia buki I. Pemda Bantul Dinas P dan K

Ary Ginjar A.(2004), Rahasia sukses membangun kecerdasan emosi dan spiritual. Jakarta: Arga

Riyadi A. (2006), Sukses dengan kecerdasan Qur’ani. Majalah Alia No.7 Tahun III Dzulhijjah/ Januari

Pemda. (2002), Pedoman umum pendidikan akhlak mulia buki I. Pemda Bantul Dinas P dan K

Gulo W, (2002), Strategi belajar mengajar. Jakarta: PT Gramedia

Pemda. (2002), Kompetensi dasar pendidikan akhlak mulia buku II. Pemda. Bantul Dinas P dan K

Helmy M.(1995), Akhlak Nabi Muhammad S.A.W. Yogyakarta: terjemahan dari Ahmad Muhammad Al-Hufy. Gama Press.

Shaleh A. (2002), Tafsir dan intisari hadist arbain. Pustaka Annaba’.

Mas’ud M. (2004), Himpunan hadist shaheh buchori. Arcola Surabaya.

Helmy, M. (1995). Akhlak Nabi Muhammad SAW. Yogyakarta: Terjemahan dari Ahmad Muhammad Al-Hufy. Gama Press

Helmy, M. (1995). Akhlak Nabi Muhammad SAW. Yogyakarta: Terjemahan dari Ahmad Muhammad Al-Hufy. Gama Press

Mas’ud M. (2004), Himpunan hadist shaheh buchori. Arcola Surabaya.

Imam Nawawi (2006), Ringkasan riyadhush shalihin. Bandung. Irshad Baitus Salam.

Al- Qur’an, QS. Al-Ahzab  ayat 21

Tasmara T (2001), Kecerdasan ruhaniah. Jakarta: Gema Insani

Al- Qur’an, QS. Al-Ahzab  ayat 70

Al-Qur’an, QS. Alam Nashrah “Terjemah”

Al-Qur’an, QS. Al-Qasas ayat 77

Al-Qur’an, QS. An Nisa 58

Anggota Kelompok I :

1.     Drs. Fuad Aljihad

2.     Muhammad Zainudin, S.Pd., M.M.

3.     Fience Hehakaya, S.Pd.

4.     Rosa Lestari, S.Pd.

5.     Firdaus, S.Pd.

6.     Drs. Lilik Suwarto, M.M.

7.     Dientje Ngantung, S.Pd.

8.     Dra. Sri Setyowati

9.     Dra. Rasmi

This entry was posted in Inovasi Pendidikan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s