Contoh Proposal PTK PKn

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar  Belakang Masalah

Berdasar pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, di antaranya, pertama, Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Kedua, Peraturan Daerah Nomor 28 Tahun 2001 tentang Rencana Strategi Pemerintah Kabupaten Bantul 2002–2005 yang berbunyi “Bantul Projotamansari Sejahtera Demokratis dan Agamis”. Ketiga, Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2002 tentang Sistem Penyelenggaraan Pendidikan di Kabupaten Bantul, Pada Bab II Pasal 3 disebutkan bahwa “Penyelenggaraan Pendidikan di Kabupaten Bantul bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang beriman, bertakwa, cerdas, terampil, dan berakhlak mulia serta sehat jasmani dan rohani”.

Selain itu pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga Negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, perlu ditingkatkan terus menerus untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konstitusi Negara Republik Indonesia perlu ditanamkan kepada seluruh komponen bangsa Indonesia, khususnya generasi muda sebagai generasi penerus.

Pendidikan di Indonesia harus menghindari sistem pemerintahan yang memasung hak-hak asasi manusia, hak-hak warganegara untuk dapat menjalankan prinsip-prinsip demokrasi. Kehidupan yang demokratis didalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, pemerintahan, dan organisasi-organisasi non pemeritahan perlu dikenal, dipahami, diinternalisasi, dan diterapkan demi terwujudnya pelaksanaan prinsip-prinsip demokrasi serta demi peningkatan martabat kemanusian, kesejahteraan, kebahagiaan, kecerdasan dan keadilan.

Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara yang baik, yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.

Berkaitan dengan hal itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Bantul menentukan kebijakan-kebijakan, di antaranya, adalah kebijakan di bidang pendidikan yang berupa pengembangan Muatan Lokal sebagai Kurikulum Unggulan Daerah. Visi Pendidikan Kabupaten Bantul adalah “Terwujudnya manusia cerdas, unggul, berbudaya, mandiri, dan berakhlak mulia.

Untuk mewujudkan visi pendidikan tersebut, ditunjuklah sekolah-sekolah tertentu untuk dijadikan Proyek Percontohan Sekolah Cerdas dan Berakhlak Mulia yang untuk selanjutnya disebut CBM, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Untuk sampel SD diambil tiga puluh lima, SLTP sepuluh, dan SLTA lima. Kelima SLTA itu terdiri dari tiga SMA dan dua SMK salah satunya adalah SMA N 1 Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Dana yang diberikan bersifat stimulan, masing-masing untuk SD sebesar satu setengah juta rupiah, SLTP sebesar dua juta rupiah dan untuk SLTA sebesar dua setengah juta rupiah. Disamping itu setiap sekolah diberi tiga  buah buku pedoman yang berisi sama dari SD sampai dengan SLTA, yaitu Buku I Pedoman Umum Pendidikan Akhlak Mulia, Buku II Kompetensi Akhlak Mulia, dan Buku III Pedoman Evaluasi Pendidikan Akhlak Mulia.

Bupati Bantul pada sambutan tertulisnya, yang termuat dalam Buku I Pedoman Umum Pendidikan Cerdas Berakhlak Mulia mengatakan bahwa;

Pendidikan selama ini sudah banyak mengalami kemajuan yang sangat berarti. Secara kuantitas orang yang buta huruf semakin berkurang, sarjana semakin banyak, namun dari sisi kualitasnya ternyata pendidikan belum dapat memanusiakan manusia. Artinya pendidikan belum dapat menjadikan manusia yang utuh lahir dan batin, jasmani dan rohani, cerdas sekaligus berakhlak mulia dan berkepribadian. Hal tersebut ditandai masih banyak masalah krusial yang belum terselesaikan, serta terjadinya degradasi moral, krisis ekonomi yang berlanjut pada krisis multidimensi,(Pemda Bantul, 2002:v).

Dengan demikian, pendidikan merupakan sektor yang paling menentukan dalam keberhasilan pembangunan. Rendahnya kualitas pendidikan akan berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM). Apabila kualitas SDM rendah,  pembangunan baik fisik maupun mental, dan spiritualnya tidak dapat berkembang secara optimal.

Oleh karena itulah melalui pembelajaran CBM diharapkan dapat memberikan bekal pada peserta didik agar di samping berkecerdasan intelektual, juga berkecerdasan emosional dan spiritual. Sehingga mampu menggunakan pengetahuan, sikap, dan keterampilannya dalam rangka mewujudkan kebiasaan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah, di sekolah maupun di tengah masyarakatnya. Dengan demikian anak didik sebagai generasi pewaris bangsa, nantinya mampu menghadapi problem hidupnya dan kehidupannya. Kemampuan itu adalah anak didik dapat memecahkan problem tersebut dengan motivasi tinggi serta menemukan solusinya, yang akhirnya mereka dapat hidup mandiri dan memiliki prinsip hidup bahwa segala tingkah lakunya dilandasi rasa ikhlas, semata-mata hanya ditujukan untuk mendapat Ridlo Allah SWT.

Orang yang memiliki kecerdasan emosional dan spiritual adalah orang yang memiliki kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatannya, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya (hanif), dan memiliki pola pemikiran tauhidi (integralistik), serta berprinsip ikhlas ( Agustian Ary G , 2004:57). Selanjutnya dikatakan bahwa, orang yang berhasil secara lahir dan batin adalah orang yang memiliki tingkat kecerdasan emosi dan spiritual yang tinggi secara seimbang. Jika siswa memiliki karakter yang tangguh, berkepribadian, berakhlak mulia, dan memiliki kemampuan yang luas secara personal maupun sosial, hal itu terjadi karena sikap dan tingkah lakunya dilandasi oleh suara hatinya yang merupakan percikan Asmaul Khusna atau sifat-sifat Allah.

Menurut Ahimsa Riyadi, (2006:36) orang yang mampu mengembangkan jiwa menuju pribadi yang sempurna, otonom, tidak terpengaruh oleh apa pun selain kehendak Allah disebut sebagai  orang yang memiliki kematangan spiritual.

Bangsa Indonesia yang dewasa ini sedang dilanda krisis multidimensi, di antaranya krisis ekonomi, krisis sosial dan kemanusiaan yang luhur berupa nilai kemanusiaan, nilai kejujuran, nilai kebenaran dan nilai-nilai lain yang sesuai dengan anugerah Tuhan, maka perlu memiliki mumtaz school yaitu sekolah yang harus bisa mengembangkan cara berpikir yang majemuk, berupa kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecesdasan spiritual. (Tendi Naim, 2003:1). Dengan pembelajaran CBM ini diharapkan akan bangkit kembali keyakinan  jati diri sejati yang melahirkan prinsip dan karakteristik bangsa yang didasari oleh nilai-nilai mulia kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut merupakan karunia Allah SWT, yang sejak lahir sudah ditanamkan ke dalam hati nurani  berupa suara hati pada setiap insan-Nya sebagai percikan sifat-sifat Allah.

Sekolah sebagai satu lembaga pendidikan merupakan agen perubahan masyarakat. Sekolah dalam menyelenggarakan pembelajaran berusaha untuk membimbing, mendidik, dan melatih siswa agar dapat berkembang secara optimal. Kompetensi siswa diharapkan berkembang dengan utuh secara integral antara ranah kognitif, afektif, dan spikomotorik. Pada dewasa ini sebagai akibat dari globalisasi, pendidikan yang bersifat humanistik seperti pendidikan budi pekerti yang merupakan wahana penanaman nilai-nilai akhlak mulia kepada siswa terkesan agak dikesampingkan, karena tergeser oleh kepentingan teknologi yang hanya mengutamakan kemajuan sains belaka. Hal itu berarti bahwa aspek yang dikembangkan adalah aspek kognitif atau perkembangan otak sebelah kirinya saja, sedangkan aspek afektif atau otak sebelah kanan kurang dikembangkan.

Berkaitan dengan hal itu ruang lingkup pendidikan akhlak mulia seperti termuat dalam Buku II Kompetensi Akhlak Mulia meliputi budi pekerti, tingkah laku, dan watak yang berkaitan dengan sikap dan perilaku yang mengatur tata hubungan, antara lain, berupa hal-hal berikut ini:

1). Manusia berperilaku dengan dirinya sendiri, seperti menjaga kesucian hati dari nafsu, menjaga kebersihan jasmani, mengembangkan keberanian, jujur, rendah hati, tidak sombong, sederhana dan sebagainya.

2). Manuasia berperilaku dengan manusia lain, seperti saling menghormati, tolong menolong, pemurah, suka memberi maaf, adil dan sebagainya.

3). Manusia berperilaku terhadap lingkungan alam sekitar, serperti menjaga kebersihan lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, memelihara keindahan lingkungan, dan sebagainya.

4). Manusia berperilaku dengan Tuhan, seperti bersyukur, berdoa, menyembah, memuji Keagungan-Nya, berdzikir, dan ibadah yang lain.

Mengingat pembelajaran CBM ditujukan untuk mengembangkan Keimanan dan Ketaqwaan anak didik yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam maka strategi pembelajaran yang digunakan maupun sistem penilaiannya berbeda dengan mata pelajaran lain yang bertujuan untuk mengembangkan aspek kognitif. Dalam hal ini guru  dituntut untuk menggunakan metode yang tepat sesuai dengan tujuan yang hendak di capai yaitu untuk  menanamkan dan mengembangkan aspek-aspek afektif (sikap, nilai) dan perilaku, sehingga siswa menjadi tertarik dan akhirnya terjadi perubahan sikap dan tingkah laku kearah yang lebih baik.

Akan tetapi dalam praktek pembelajaran di sekolah banyak menghadapi hambatan dan permasalahan. Hambatan dan permasalahan terhadap proses yang muncul di sekolah sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi setempat. Masalah tersebut baik bersifat umum maupun khusus. Masalah yang  bersifat umum seperti: peran dari peserta didik oleh guru belum secara optimal diberlakukan sebagai subyek didik yang memiliki potensi untuk berkembang secara mandiri. Mereka ditempatkan pada posisi yang pasif, karena aktifitas pembelajaran masih didominasi guru.

Sedang masalah yang bersifat khusus dan terjadi dalam pembelajaran CBM adalah tidak adanya kurikulum khusus bagi guru untuk dijadikan pedoman dalam pembelajaran, tidak adanya perbedaan standar kompetensi antara siswa SD, SLTP maupun SLTA, keterbatasan guru didalam penguasaan materi, kurangnya wawasan yang dimiliki guru, keterbatasan  keterampilan dalam menggunakan media dan metode pembelajaran, keterbatasan dana, keterbatasan sarana dan prasarana, dan masalah lainnya yang datang dari siswa yaitu diantaranya rendahnya minat siswa terhadap pembelajaran CBM. Disamping itu waktu yang disediakan dalam satu minggunya hanya 45 menit atau satu jam pelajaran, sehingga terlalu singkat untuk mengembangkan nilai-nilai pada siswa dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain. Semua permasalahan tersebut memerlukan pemecahan sesuai dengan tingkat kebutuhan dan kemampuan.

Kemampuan penggunaan metode merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh para praktisi pendidikan. Oleh karena itulah dalam rangka untuk pengembangan manusia seutuhnya yaitu anak didik yang  bukan hanya berkecerdasan intelektual  tetapi juga berkecerdasan emosional dan berkecerdasan spiritual, maka penelitian ini menggunakan strategi pengembangan kecerdasan emosional dan spiritual, dengan alasan:

1.      Nilai hanya bisa ditanamkan dan diketahui dari penampilan tingkah lakunya.

2.      Pengembangan domain afektif pada nilai tidak bisa dipisahkan dari aspek kognitif dan psikomotorik.

3.      Masalah nilai adalah masalah emosiomal dan karena itu dapat berubah, berkembang, sehingga bisa dibina.

4.      Perkembangan nilai atau moral tidak terjadi sekaligus, tetapi melalui tahap-tahap tertentu.( Gulo,2002:149).

Adapun teori yang mendasari pada strategi pembelajaran CBM di SMA N 1 Sedayu, Bantul, Yogyakarta adalah pengembangan Kecerdasan Emosional dan Spiritual yang selanjutnya disebut pengembangan Emotional Spiritual Quotient (ESQ). Yaitu metode untuk mengenal, mengerti, memahami, kemudian dikembangkan nilai-nilai yang bersifat universal yang merupakan karunia dari Tuhan YME yang dibisikkan kedalam insan kamil atau suara hati setiap manusia untuk dipegang teguh dan tidak boleh dilanggar tetapi untuk dijadikan landasan bertindak, dan diujudkan dalam tingkah lakunya yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

B. Rumusan Masalah

Bagaimanakah upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran CBM sehingga terjadi perubahan sikap dan tingkah laku mulia pada siswa khususnya mengenai hubungan sesama manusia di lingkungan sekolah dengan menggunakan strategi pengembangan ESQ di  kelas  XI IIS3 SMA N 1 Sedayu, Bantul, Yogyakarta ?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran CBM dengan mengaplikasikan teori tentang akhlak mulia serta teori tentang kecerdasan emosional dan spiritual khususnya mengenai hubungan sesama manusia di lingkungan sekolah baik di dalam kelas maupun di luar kelas XI IIS3 SMA Negeri 1 Sedayu, Bantul, Yogyakarta sehingga terjadi perubahan sikap dan tingkah laku mulia pada siswa yang dilandasi rasa ikhlas.

D. Manfaat Penelitian

1.      Bagi guru pengampu CBM penelitian ini dapat bermanfaat untuk  dijadikan model dalam memilih strategi pembelajaran yang sesuai untuk ranah afektif

2.      Bagi Tim CBM dapat bermanfaat untuk memberikan bahan dalam mengevaluasi pelaksanaan program sehingga lebih dapat berdaya guna dan berhasil guna

3.      Bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul penelitian ini dapat menjadi model untuk penelitian tindakan disekolah-sekolah lain yang ditunjuk sebagai sekolah CBM yang pada dasarnya dapat meningkatkan mutu pendidikan .

E. Hipotesis Tindakan

Dengan pengembangan ESQ dalam pembelajaran CBM tentang hubungan sesama manusia di lingkungan sekolah, maka akan menghasilkan perubahan sikap dan perilaku mulia pada siswa kelas XI IIS3 SMA N 1 Sedayu, Bantul, Yogyakarta.

CD 1                           CD 2                           CD 3

Siklus I                        Siklus II                                  Siklus III

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Kajian Teori

1. Program Cerdas Akhlak Mulia.

Mengacu pada Buku II tentang Kompetensi Akhlak Mulia, (2003:4-14), bahwa pendidikan akhlak mulia adalah bertujuan untuk membentuk watak serta etika yang mulia pada anak didik. Adapun materi yang dikembangkan adalah yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam sekitar. Namun dalam penelitian ini seperti yang telah disebutkan dalam pembatasan masalah hanya menekankan pada hubungan sesama manusia di lingkungan sekolah.

Akhlak Mulia adalah sesuatu yang dengan sengaja dikehendaki adanya, dan dilakukan secara berulang-ulang sehingga menjadi membudaya yang mengarah pada kebaikan, (Ahmad Muhammad Al Hufy, 1995:13). Ini berarti bahwa suatu kecenderungan yang menjadi tabiat seseorang dalam waktu yang lama akan menjadi akhlaknya. Bila kecenderungan-kecenderungan yang menguasainya itu baik, maka orang itu berakhlak baik (mulia). Adapun tujuan yang akan dicapai oleh orang yang memiliki akhlak mulia ialah kebahagiaan yang dapat dirasa, serta dapat dinikmati.

Imam Ghazali (Helmy M. 1995:27) yang dimaksud akhlak adalah hal ikhwal (tingkah laku) yang melekat dalam jiwa, dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah dan ringan tanpa memerlukan pemikiran dan sikap hati-hati (misalnya dermawan, pemaaf, kasih sayang, memberikan bantuan, dll.). Apabila tingkah laku itu menimbulkan perbuatan-perbuatan  yang baik dan terpuji oleh akal dan syara’, maka tingkah laku itu dinamakan akhlak mulia. Dengan demikian orang yang berakhlak mulia adalah orang yang dalam kesehariannya memiliki perbuatan yang baik dan perbuatan tersebut sudah mempribadi.

Tujuan perbuatan yang dilandasi oleh akhlak mulia adalah untuk mewujudkan kebaikan, keadilan, yang diiringi dengan terwujudnya kecintaan, perdamaian, mengutamakan orang lain, kasih sayang, kebahagiaan, kemauan, tolong menolong dalam mengerjakan kebajikan dan taqwa, (Ahmad Muhammad Al Hufy,1995:77). Dengan demikian orang yang berakhlak mulia adalah orang yang dapat menjaga keseimbangan hubungan antara dirinya dengan Sang Khalik, sesama manusia, maupun dengan lingkungannya sebagai ujud dari suara hatinya yaitu cinta sebagai pancaran dari sifat Al-Latiif.

Sebagai ujud rasa cinta dan kasih sayangnya terhadap sesama (sebagai pancaran sifat Ar-Rahim), maka akan terwujud kerukunan hidup dalam kehidupan sehari-hari  “Perumpamaan seorang mukmin itu (dalam kasih sayang mereka, lemah lembutnya, dan rasa cinta mereka) bagaikan satu jasad atau badan yang apabila sakit salah satu diantara anggota tubuhnya merasakan sakitnya” (HR Bukhari ). Arti cinta di sini adalah pertolongan dan bantuan yang diberikan kepada sesamanya dalam segala urusan yang bersifat duniawi dan ukhrawi, dapat berupa: nasihat, saran-saran, bantuan material, saling mengingatkan dalam masalah yang dapat mendatangkan manfaat dan menghindarkan dari bahaya .

Sungguh mulia akhlak Rasullah. Akhlak Rasullah tidak lain adalah Al-Qur’an.(QS. Al-Ahyab:21)

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.  Rasullah adalah The living Qur’an atau contoh nyata aktualisasi Al-Qur’an, (Toto Tasmara, 2001:189). Bahwa menurutnya diantara akhlak Rasulullah ialah Shidiq, Istiqamah, fathanah, amanah, dan tablig.

Siddiq merupakan salah satu dimensi kecerdasan ruhani (ESQ) terletak pada nilai kejujuran yang merupakan mahkota kepribadian orang-orang mulia. Kejujuran adalah komponen ruhani yang memantulkan berbagai sikap terpuji. Siswa berani menyatakan sikap secara transparan, terbebas dari segala kepalsuan dan penipuan. Sehingga mereka memiliki keberanian moral yang sangat kuat. Kejujuran harus dilakukan dimanapun dan kapanpun baik terhadap diri sendiri, pada orang lain dan terhadap Allah, jujur baik dalam perbuatanmaupun dalam perkataan. Seperti yang telah di Firmankan Allah dalam Surah Al Ahzab ayat 70

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”.

Istiqamah merupakan kualitas batin yang melahirkan sikap konsistensi dan teguh pendirian untuk menegakkan dan membentuk sesuatu menuju pada kesempurnaan atau kondisi yang lebih baik, merujuk pada bentuk yang sempurna. Sikap istiqamah menunjukkan kekuatan iman yang merasuki seluruh jiwanya, sehingga tidak mudah goncang atau cepat menyerah pada tantangan atau tekanan. Orang yang istiqamah akan memiliki jiwa sabar, disiplin, tanggung jawab, kreatif dan memiliki tujuan hidup.

“… Karena sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Maka bila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. (QS Alam Nasyrah:5-6).

Fathanah diartikan sebagai kecerdasan yang meliputi  kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Orang yang memiliki sikap fathanah dalam mengambil keputusan akan mencerminkan sebagai seorang yang profesional yang didasarkan pada sikap moral atau akhlak yang luhur. Sehingga akan memiliki sikap yang disiplin, proaktif, cerdas, mampu memilih yang terbaik.

“Dan carilah pada apa yang dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS  Al Qasas:77).

Hal ini mengandung makna bahwa manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling sempurna karena dilengkapi dengan cipta, rasa, dan karsa (IQ, EQ, dan SQ) oleh karena itu barang siapa yang menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat dalam setiap sikap dan perbuatannya harus dilandasi oleh nilai-nilai suara hati yang bersifat universal itu dan merupakan karakter mulia manusia yang merupakan tiupan Ruh-Ilahiah (Asmaul Husna).

Amanah yaitu sikap yang bisa dipercaya (kredibel), menghormati dan dihormati. Amanah merupakan dasar dari tanggung jawab, kepercayaan, dan kehormatan serta prinsip-prinsip yang melekat pada mereka yang cerdas. Seperti Firman Allah yang tertulis didalam (QS. An Nisa:58)

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerima”.Dan Rasulullah saw. bersabda “Tiga golongan yang termasuk munafik, meskipun ia berpuasa, salat, dan mengaku muslim, yaitu bila berbicara bohong, bila berjanji tidak menepati, dan bila dipercaya berkhianat”. (HR Abu Daud). Serta “ Tidaklah seorang pencuri ketika mencuri itu ia beriman”. HR Bukhari dan Abu Daud). Dengan demikian manusia dituntut untuk jujur baik dalam berkata-kata maupun dalam berbuat agar selamat di dunia dan di akhirat.

Tablig yang mengandung pengertian bahwa manusia harus mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri, sebagaimana Rasulullah saw. bersabda, “Engkau belum disebut sebagai orang beriman kecuali engkau mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirimu sendiri”. (HR Bukhari dan Muslim). Dan Hadist yang diriwayatkan oleh As Syaikhan menyatakan bahwa  “Senyummu dihadapan saudaramu adalah sedekah”. Manusia oleh Allah diciptakan sebagai makhluk sosial, oleh karena itu diwajibkan untuk hidup rukun, saling tolong menolong dalam kebaikan tanpa memandang adanya perbedaan agama, ras, suku, dan sebagainya..

Menurut Ahmad Azhar Basyir (1991:6), bahwa akhlak menurut ajaran Islam mencakup sikap terhadap diri sendiri, terhada orang lain, terhadap alam sekitar dan terhadap Allah. Seperti yang terkandung dalam (Q.S. Al-Maidah:93)

“…Bertakwa dan berbuatlah kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. Hal ini bermakna bahwa akhlak terhadap diri sendiri berupa perasaan sabar dalam menghadapi bencana, maupun dalam kesulitan. Akhlak terhadap orang lain berupa pembelanjaan harta benda untuk menyantuni orang lain yang membutuhkan dan memenuhi janji, serta kasih sayang terhadap sesama, misalnya menjenguk yang sakit. Sedangkan akhlak terhadap Allah berupa iman dan ibadah.

Sedangkan Sidik Tono, dkk. (1998:99) mendefinisikan akhlak merupakan manifestasi iman, Islam, dan ihsan yang merupakan refleksi sifat dan jiwa secara spontan yang terpola pada diri seseorang sehingga dapat melahirkan perilaku secara konsisten dan tidak tergantung pada pertimbangan berdasarkan interes tertentu. Dengan demikian sifat dan jiwa yang melekat dalam diri seseorang manjadi pribadi yang utuh dan menyatu dalam diri orang tersebut sehingga akhirnya tercermin melalui tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari dan bahkan menjadi kebiasaan.

Dari pendapat-pendapat tesebut diatas dapat kita simpulkan bahwa orang yang berakhlak mulia adalah orang yang dalam kehidupan sehari-harinya selalu menjalin hubungan yang baik, baik terhadap Allah, sesamanya maupun terhadap lingkungan sehingga membawa maslahat bagi lingkungannya dimanapun dia berada, sehingga terwujudlah kehidupan yang serasi.

2. Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual

Undang-Undang Sistim Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 disebutkan bahwa tujuan pendidikan selain untuk mencerdaskan kehidupan bangsa juga untuk mengembangkan manusia seutuhnya. Manusia seutuhnya adalah mereka yang mampu menciptakan dan memperoleh kesenangan, kebahagiaan diri sendiri, dan lingkungannya. Citra manusia seutuhnya adalah manusia yang benar-benar manusia, yaitu manusia dengan aku dan kediriannya yang matang, tangguh, dan dinamis dengan kemampuan sosial yang luas dan bersemangat tapi menyejukkan.  Dalam rangka pengembangan manusia seutuhnya itulah tujuan pengajaran tidak terbatas hanya pada kawasan kognitif, tetapi meliputi juga kawasan afektif dan psikomotorik. Yang pada hakekatnya ketiga kawasan tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, tetapi merupakan satu kesatuan yang utuh.

Karena pembelajaran CBM berhubungan dengan aspek afektif atau berhubungan dengan nilai-nilai (value), baik yang menyangkut kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual, maka tujuan pengajaran kawasan ini berorientasi pada pengembangan faktor-faktor dari dalam diri seseorang dalam hal ini siswa. Kecerdasan emosional (EQ), seperti : perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral, dan sebagainya. EQ berhubungan dengan apa yang dianggap baik dan tidak baik, indah dan tidak indah, adil dan tidak adil, efisien dan tidak efisien. Sedangkan kecerdasan spiritual (SQ) berhungan dengan nilai-nilai jujur, adil, tanggung jawab, visioner, disiplin, kerjasama dan peduli yang merupakan percikan dari nama-nama Allah.

J.R.Fraenkel mengemukakan beberapa ciri tentang nilai, yaitu:

1)      Nilai adalah suatu konsep yang tidak berada didalam dunia empirik, tetapi didalam pikiran manusia, yang berupa etika dan estetika.

2)      Nilai adalah standar perilaku yaitu ukuran yang menentukan apa yang indah, apa yang efisien, apa yang berharga yang ingin dipelihara dan dipertahankan. Sebagai standar, nilai merupakan pedoman untuk menentukan jenis perbuatan atau tindakan apa yang patut dilakukan, inilah yang disebut nilai-nilai moral yang menuntun seseorang untuk berbuat sesuatu tentang apa yang dianggap benar dan layak.

3)      Nilai itu direfleksikan dalam perbuatan atau perkataan, sehingga bersifat abstrak dan menjadi konkrit bila seseorang bertindak dengan cara tertentu.

4)      Nilai itu merupakan abstraksi atau idealis manusia tentang apa yang dianggap paling penting dalam hidup mereka. Karena itu nilai dapat dibandingkan, dipertentangkan, dianalisis, didiskusikan, serta digeneralisasikan. Pada pihak lain nilai juga mempunyai dimensi emosional. Bahkan merupakan komitmen emosional yang kuat.

Setiap orang mempunyai susunan tertentu tentang nilai, apa yang dianggap paling penting, agak penting, kurang penting, dan sebagainya. Karena sifatnya yang demikian, maka sistem nilai itu bisa dikembangkan di dalam diri seseorang. (Gulo, 2002:149). Dengan demikian sistem nilai merupakan pedoman untuk mengarahkan perilaku seseorang dalam bertindak.

Komitmen seseorang terhadap suatu nilai tertentu terjadi melalui pembentukan sikap. Menurut  Thornstone (1975), sikap atau attitude adalah a degree of positive or negative assosiated psycological obyect, artinya tingkat kecenderungan atau pernyataan gejala senang atau tidak senang dari seseorang terhadap suatu obyek. Jika seseorang berhadapan dengan suatu obyek tertentu, maka diekspresikan dalam bentuk sangat senang, agak senang, tidak senang, tidak acuh, atau kurang senang. Sikap yang kelihatan senang atau tidak senang itu berada dalam kawasan afektif.

a.  Kecerdasan Emosional

Kecerdasan ini pertama kalinya ditemukan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995, menurutnya kecerdasan ini berada pada otak sebelah kanan (limbic-system) dimana arsitektur otak tersebut melandasi emosi dan dan rasionalitas. Kecerdasan ini tidaklah ditentukan sejak lahir “temperament is not destiny” tetapi dapat diajarkan baik di sekolah maupun di rumah, dan baik untuk diajarkan pada masa kanak-kanak serta remaja agar kebiasaan-kebiasaan emosional esensiallah yang mengarahkan kehidupannya. Kecerdasan tersebut misalnya : kesanggupan untuk mengendalikan dorongan emosi, untuk membaca perasaan terdalam orang lain, untuk memelihahara hubungan sebaik-baiknya, sebagaimana telah dirumuskan oleh Aris Toteles, keterampilan langka “untuk marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik”. Goleman (1996:xiv)

Menurut Sternberg (Syaifudin Azwar,1996:7-9) bahwa kecerdasan mencakup tiga faktor yaitu pertama kemampuan memecahkan masalah dengan berfikir secara logis, kedua berbicara dengan jelas dan lancar serta yang ketiga kemampuan bersosialisasi dengan menerima orang lain sebagaimana adanya. Orang –orang yang demikian dapat menjalin hubungan sosial dengan lancar, peka membaca reaksi dan perasaan mereka, mampu memimpin dan mengorganisir, sertra pintar menangani perselisihan yang muncul dalam setiap kegiatan manusia (cerdas secara emosi).

Kecerdasan emosional adalah sumber utama nyala api yang penting dalam hidup kita selain sumber impuls-impuls yang membangunkan kita dan mengilhami kita untuk maju kekawasan sangat tidak dikenal. (Robert K. Cooper,1998:492). Jadi menurutnya EQ merupakan sumber utama energi, aspirasi dan dorongan pada manusia yang mengaktifkan nilai-nilai dan tujuan hidup kita yang paling dalam. Hati mengaktifkan niali-nilai kita yang paling dalam dan mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita rasakan dan kita jalani. Hati adalah sumber keberanian, semangat, integritas dan komitmen. Hati adalah sumber energi dan perasaan yang menuntut kita belajar menciptakan, bekerjasama, memimpin dan menolong. Melalui pengembangan EQ-lah kita dapat belajar untuk siap mengakui dan menghargai hakekat perasaan dalam diri kita sendiri maupun orang lain sehingga secara tepat dapat menanggapinya.

Menurut Daniel Goleman (Hermaya, 2003:7), dikatakan bahwa semua emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk mengatasi masalah yang telah ditanamkan secara berangsur-angsur oleh evolusi. Emosi merupakan akar dorongan untuk bertindak, terpisah dari reaksi-reaksi yang tampak di mata. Seperti: amarah, ketakutan, kebahagiaan, empati, cemas, cinta, rasa sedih, dll. Oleh karena itu agar dorongan bertindak tersebut bisa diterima oleh orang lain maka perlu ketrampilan untuk pengendalian diri atau memiliki kecerdasan emosi.

EQ adalah serangkaian kecakapan yang memungkinkan kita melapangkan jalan kita di dunia  yang rumit-aspek pribadi, sosial, dan pertahanan dari seluruh kecerdasan, akal sehat yang penuh misteri, dan kepekaan untuk berfungsi secara efektif setiap hari. (Steven J Stein, 2000:30). Jadi EQ merupakan kemampuan untuk membaca lingkungannya dan memahami secara spontan apa yang diingankan dan dibutuhkan orang lain, kelebihan dan kekurangan orang lain, kemampuan untuk tidak terpengatuh dan kemampuan untuk  menjadi orang yang menyenangkan, yang kehadirannya didambakan orang lain atau dengan kata lain EQ merupakan serangkaian kecerdasan untuk bisa bergaul dengan orang lain dan orang tersebut merasa nyaman apabila berdekatan dengan tersebut serta penuh rasa kepercayaan.

Toto Tasmara mengatakan bahwa Orang yang cerdas secara emosional adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dan kemampuan dirinya untuk memahami irama, nada, musik, serta nilai-nilai estetika, (2001:49). Jadi menurutnya orang yang EQnya tinggi adalah orang yang sabar, ramah pada orang lain dan mempunyai rasa seni yang tinggi.

Mungin Eddy W. ( 2003:1 ), bahwa strategi pembelajaran merupakan suatu cara yang dilakukan untuk membantu peserta didik dalam mewujudkan perilaku belajar secara efektif agar mencapai tujuan yang diinginkan. Orientasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru di sekolah masa depan hendaknya berorientasi pada pengembangan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan moral, dan kecerdasan spiritual secara penuh, serasi, selaras, seimbang, dan terpadu.

Kecerdasan emosional adalah kompetensi yang dimiliki seseorang untuk tumbuh perlahan-lahan (bertahap) untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah, bersikap bijaksana, sopan, murah hati, rela, memiliki kelembutan hati, dengan menggunakan sumber emosional maupun intelektual pikiran manusia, (Robert Coles, 2000:1).

Agustian Ary G. menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk bertindak yang dengan mendasarkan pada suara hati, sehingga orang tersebut akan memiliki nilai-nilai tentang: integritas, kejujuran, komitmen, visi, kreativitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan,  dan penguasaan diri atau sinergi. Di dalam ajaran Islam menurutnya hal-hal yang berhubungan dengan kecakapan emosi dan spiritual seperti konsistensi (istiqomah), kerendahan hati (tawadlu), ketulusan (keikhlasan), integritas dan penyempurnaan (ihsan) disebut sebagai akhlakul karimah.

Sementara itu Daniel Goleman (Agustian Ary, 2003:Iii) mengatakan bahwa EQ dapat dipelajari kapan saja, tidak peduli orang itu peka atau tidak, pemalu, pemarah, atau sulit bergaul dengan orang lain sekalipun,  dengan motivasi dan usaha yang benar, kita dapat mempelajari dan menguasainya.

But its main, ongoing subject is the core competence that is brought to bear on any of these specifik dilemmas: emotional intelligence. (Daniel G, 1996:302). Kecerdasan emosional adalah kecakapan inti yang dihasilkan untuk mengatasi setiap dilema atau masalah yang dihadapi dalam hidup manusia. Menurutnya sekolah di Oakland, California pengembangan kecerdasan emosional dijadikan sebagai strategi pendidikan emosi yang diintegrasikan pada mata pelajaran ketrampilan sosial dan emosional yang tersamar, sedang di New Haven diintegrasikan pada mata pelajaran membaca dan kesehatan.

Emotional intelligence as the subset of social intelligence that involves the ability to monitor one’s own and others’ feelings and emotiona, to descriminate among them and to use this information to guide one’s thingking and actions. (Salovey P,2004:5). Kecerdasan emosional  adalah bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan untuk memantau emosi dan perasaan diri sendiri  dan orang lain, guna membedakan diantara mereka dan untuk menggunakan informasi ini sebagai pembanding tindakan dan pikiran seseorang.

Karen Stone McCown, (Hermaya,2003:381) mengatakan bahwa kurikulum Self  Science memiliki kemiripan butir demi butir dengan unsur-unsur kecerdasan emosional. Adapun aspek yang diajarkan dalam  pengajaran kecerdasan emosional adalah meliputi:

1). Kesadaran diri (dalam arti kemampuan mengenali perasaan dan menyusun kosa kata untuk perasaan itu, dan melihat kaitan antara gagasan, perasaan, dan reaksi; mengetahui kapan pikiran atau perasaan menguasai keputusan masalah yang dihadapi.  Kesadaran diri juga dapat berupa kemampuan mengenali kekuatan serta kelemahan kita, dan melihat diri sendiri dalam posisi yang positif sehingga dapat menghindar dari perasaan tinggi hati.

2). Mengelola emosi: menyadari apa yang ada dibalik suatu perasaan (misalnya rasa sakit hati yang memicu amarah), cara untuk menangani kecemasan, amarah dan kesedihan.

3). Kemampuan bergaul yang meliputi: empati, memahami perasaan orang lain, menerima perbedaan sudut pandang orang lain, serta menghargai perbedaan orang lain dalam berbagai hal, menjadi pendengar yang baik dan penanya yang baik, bermusyawarah).

4). Tanggung jawab dalam pengambilan keputusan dan tindakan serta menindak lanjuti keputusan.

5). Bersikap tegas bukannya marah atau diam saja, kerjasama, memecahkan masalah, berkompromi.

Sedangkan menurut Fauzia Aswiin Hadis dalam seminar setengah sehari pada hari Sabtu, tanggal 12 Juni 1997 di ruang Anggrek – Istora senayan Jakarta yang membahas tentang Kecerdasan Emosional, pada kesempatan tersebut judul makalahnya adalah “Peranan IQ dan EQ”, bahwa hanya manusialah yang memiliki lapisan otak neo-cortex, yaitu sebuah alat bentu pemberian Tuhan, yang memiliki kemampuan berpikir rasional dan logis (IQ). Hanya manusialah yang mampu bekerja sebagai khalifah di muka bumi ini. Juga manusialah yang diberi karunia otak kanan atau otak limbik sebagai fungsi kecerdasan emosional (EQ), sehingga mengajarkan EQ pada anak didik berarti mengajarkan anak-anak untuk lebih hati-hati, lebih teliti terhadap apa yang dipikirkan, dan mengajar anak untuk memecahkan masalah dengan mencari solusi yang terbaik. Dengan demikian EQ adalah kehidupan emosi yang meliputi berbagai domain, dapat bergandengan dalam upaya pengembangan anak, baik di dalam studi maupun dalam menatap masa depan.

Dari pendapat beberapa ahli tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah sebuah kemampuan untuk mendengarkan bisikan emosi, dan menjadikannya sebagai sumber informasi maha penting untuk memahami diri sendiri dan orang lain demi untuk mencapai sebuah tujuan yaitu kebahagiaan hidup. Namun dengan IQ dan EQ saja tidak cukup untuk membawa diri kita dalam mengarungi kehidupan ini jika karakter tersebut masih mengabdi pada kepentingan dunia semata, karena itulah masih ada satu lagi yaitu nilai-nilai yang lebih tinggi lagi yang disebut SQ atau kecerdasan spiritual.

b. Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan ini ditemukan pertama kali pada awal tahun 1990-an oleh Michael Persinger, Wolf Singer, dan Rodolfo Llinas tentang Osilasi 40 Hz yang dinamakan Proto kesadaran bahwa manusia sebagai makhluk spiritual terbukti adanya proses saraf dalam otak untuk menyatukan dan memberikan makna pada pengalaman kita. Sedangkan V.S. Ramachandran pada tahun 1997 di California University, yang diberi nama God Spot atau titik Tuhan, pusat spiritual yang terpasang ini terletak diantara hubungan-hubungan saraf dalam cuping-cuping temporal otak. Melalui pengamatan terhadap otak dengan topografi emisi positron, area-area saraf tersebut akan bersinar dan berkembang manakala subyek penelitian diarahkan untuk mendiskusikan topik spitual.

Demikian pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall. Para ahli tersebut telah berhasil membuktikan bahwa manusia memiliki unsur-unsur spiritual, yang berfungsi sebagai pusat makna  tertinggi kehidupan manusia (The Ultimate Meaning). Lalu manusia turun ketempat yang paling rendah yaitu bumi. (Ary Ginanjar, 2003:96). Hal itu dikatakan juga oleh banyak orang yang kutip oleh Brian McMullen (2005:1), bahwa istilah spiritual hubungannya dengan Tuhan turun kemanusia atau bumi, “ Some people define spirituality in terms of relationship to God, to fellow humans, or to the earth”.

Menurut Danah Zohar dan Ian Marshal kecerdasan Spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna dan nilai yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain, (Rahmani Astuti,2000:4).

Seperti yang di tulis dalam jurnalnya yang berjudul “Spiritual Intelligence- The Ultimate Intelligence” ( Zuhar D. 2000:1) spiritual intelligence is described as the intelligence with which we address and solveproblems of meaning and value, the intelligence with wich we can place our actions and our lives in a wider, richer, meaning-giving contexs, the intelligence with wich we can assess that one course of action or one life-path is more meaningfull than another. Menurutnya SQ sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan merupakan kecerdasan tertinggi manusia. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan jiwa yang dapat membantu kita menyembuhkan dan membangun diri kita secara utuh.

Dengan demikian manusia sebagai makhluk spiritual selalu terdorong oleh kebutuhan untuk menemukan makna dan nilai dari apa yang kita perbuat dan alami, seperti mengapa kita dilahirkan dan untuk apa?, mengapa kita hidup dan untuk apa?, mengapa kita belajar dan untuk apa?, masih banyak lagi pertanyaan-partanyaan yang senada. Hal tersebut menunjuk kerinduan kita akan sesuatu yang bisa kita capai, sesuatu yang membawa kita melampaui diri kita dan keadaan kita saat ini, sesuatu yang membuat kita dan perilaku kita menjadi lebih bermakna baik bagi diri sendiri, orang lain, masyarakat, dan lingkungan di manapun kita berada.

ESQ) adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya (hanif), dan memiliki pola pemikiran  integralistik (tauhidi). (Ary Ginanjar A.2003:57). Menurutnya ESQ merupakan penggabungan antara EQ dan SQ sehingga barang siapa yang memiliki kecerdasan tersebut akan menghasilkan kebahagiaan dan kedamaian pada jiwanya. Adapun nilai dasar ESQ adalah: jujur, adil, tanggung jawab, visioner, peduli, disiplin dan kerja sama.

Vaughan(1995;4) dalam artikelnya yang berjudul Spiritual Maturity menyatakan bahwa “Spiritual intelligence can be developed by a variety of practices for training attention, transformating emotion, and cultivating eth-ical behavior”. Menurutnya kecerdasan spiritual dapat dikembangkan dengan berbagai cara yaitu pelatihan, transformasi emosi dan perilaku kebiasaan.

Marsha Sinetar mengartikan kecerdasan spiritual sebagai pikiran yang mendapat inspirasi, dorongan dan efektivitas yang terinspirasi, theisness atau penghayatan ketuhanan yang didalamnya kita semua menjadi bagian. Seperti halnya dengan Vaughan Sinetar juga berpendapat bahwa kecerdasan ini dapat ditingkatkan sampai tidak terbatas, juga dapat diturunkan. (Danah Zohar, 2000:xxvii).

Sedangkan Kohlberg dengan teori pertumbuhan moral menempatkan orang yang memiliki kecerdasan spiritual pada tahapan ketiga dan tingkatan yang ke enam, sebagai tingkatan tertinggi yang dijadikan dasar bagi seseorang dalam pengambilan keputusan moral. Level III: stage 6: uneiversal ethical principles. ( Kohlberg, 1983:61).

Dari pendapat para ahli tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa manusia pada mulanya berada di tempat yang tinggi sebagai makhluk spiritual murni, yang kemudian ruh spiritual itu ditiupkan ke dalam tubuh manusia yang terbuat dari tanah, lalu diditurunkan ketempat yang rendah yaitu bumi. Seperti yang telah di Firmankan Allah dalam Surat Albaqarah ayat 38

 

Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

c. Hubungan antara Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan emosional (EQ) adalah kecerdasan yang memungkinkan manusia berpikir asosiasif, yang terbentuk oleh kebiasaan, dan memampukan kita mengenali pola-pola emosi. Sehingga kita dapat berpikir kreatif, berwawasan jauh, membuat, dan bahkan mengubah aturan. EQ ini  diketemukan oleh Daniel Goleman, menurutnya EQ merupakan persyaratan dasar untuk menggunakan IQ secara efektif, jika bagian-bagian otak untuk merasa telah rusak, maka kita tidak dapat berpikir efektif. Kecerdasan ini memberi kita kesadaran mengenai perasaan milik diri sendiri  dan juga perasaan milik diri orang lain. EQ memberi kita rasa empati, cinta, motivasi, dan kemmpuan untuk menanggapi kesedihan atau kegembiraan secara tepat.

Lapisan otak yang lebih dalam dari neo-cortex adalah lymbic system (lapisan tengah). Pada lapisan ini berfungsi sebagai pengindai atau pengendali emosi dan perasaan kita. Sehingga dengan EQ manusia mampu mendengarkan bisikan emosi yang dapat memberikan informasi penting untuk dapat memahami diri sendiri dan orang lain. Dengan EQ tinggi orang akan berhasil dalam pergaulan sehingga menjadikan hidupnya berhasil, karena memiliki keberanian untuk mengambil keputusan , memiliki tekad yang tangguh ,kreatif, ramah dan empati.

Namun di era yang global ini manusia tidak cukup hanya memiliki kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional tetapi juga harus memperhatikan nilai-nilai lain sebagai pegangan hidup yang mampu memberikan jaminan kebahagiaan hidupnya yaitu kecerdasan spiritual (SQ). Menurut Zohar, manusia tidak hanya berpikir dengan otak, tetapi juga dengan emosi dan tubuh, serta dengan semangat, visi, harapan, kesadaran akan makna, dan nilai kita (SQ). (Rahmani Astuti:39).  Artinya IQ memang penting kehadirannya dalam kehidupan manusia, agar dapat memanfaatkan teknologi demi efiensi dan efektifitas. Sedang peran EQ adalah untuk membangun hubungan antar manusia yang efektif, sekaligus perannya dalam meningkatkan kinerja, dan SQ mengajarkan nilai-nilai kebenaran agar dalam keberhasilan manusia tidak lahir Hitler-Hitler yang baru.

EQ memungkinkan saya untuk memutuskan dalam situasi apa saya berada lalu bersikap secara tepat di dalamnya.  Ini berarti bekerja di dalam batasan situasi dan membiarkan situasi tersebut mengarahkan saya. Akan tetapi SQ memungkinkan saya bertanya apakah saya lebih suka mengubah situasi tersebut untuk diperbaiki?. Ini berarti bekerja dengan batasan situasi saya, yang memungkinkan saya untuk mengarahkan situasi itu. (Zohar D,2000:5). Dengan demikian antara IQ,EQ, dan SQ bekerja sama dan saling mendukung, otak kita dirancang agar mampu melakukan hal ini. Walaupun ketiganya memiliki wilayah kekuatan tersendiri dan bisa berfungsi secara terpisah.

Ary Ginanjar Agustian menjelaskan hubungan antara EQ, dan SQ seperti yang terdapat dalam bagan berikut ini.

 

 

EQ,SQ Terintegrasi

EQ,SQ

terpisah

Logika bekerja normal

Logika tidak bekerja normal

Suara hati Spiritual Bekerja

Suara hati Spiritual tertutup

God Spot

Terbuka

God Spot

Terbelenggu

-          tenang

-          damai

Emosi terkendali

Emosi tidak terkendali

DIMENSI

marah

sedih

kesal

EMOSI

EQ

DIMENSI

SPIRITUAL

SQ

(Gambar 1 hungan EQ, SQ)

Sumber: ESQ Power Ary G.A ,2003:219

Dari bagan diatas dapat kita lihat, apabila manusia berorientasi pada Tauhid, maka hasilnya adalah EQ, dan SQ terintegrasi. Pada saat masalah datang maka radar hati bereaksi menangkap signal, karena berorientasi pada materialisme maka hasilnya adalah emosi tidak terkendali, sehingga yang muncul adalah sikap amarah, sedih, takut, kesal. Akibat emosi tidak terkendali maka God Spot terbelenggu sehingga suara hati yang bersifat mulia ini tidak lagi bisa didengar dan menjadi tidak berfungsi, akibatnya tidak bisa berkolaborasi dengan kecerdasan yang lain. Berbeda jika masalah muncul, radar hati langsung menangkap getaran signal dinding Tauhid, maka akan mengendalikan emosi. Dan hasilnya adalah emosi yang terkendali, perasaan tenang dan damai, sehingga God Spot akan terbuka dan bekerja.

Oleh karena suara hati akan terdengar bisikan-bisikan ilahiah, seperti: keadilan, kasih sayang, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, kreativitas, komitmen, kebersamaan, perdamaian, dan bisikan mulia lainnya. Berdasarkan dorongan bisikan mulia inilah potensi kecerdasan emosional yang berlandaskan pada nilai-nilai adil, jujur, tanggung jawab. Lahirlah sebuah meta kecerdasan yang terintegrasi antara EQ, dan SQ.

3. Hakekat Belajar

Learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing (Oemar Hamalik,2001:27). Belajar merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan. Belajar bukan hanya saja mengingat tetapi mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan terjadinya perubahan tingkah laku.

Menurut Gagne (Syamsu,1994:6) menyatakan :”Learning is a change in human disposition or capability, which persists over a period of time, and wich is not simply ascribable to process of growth”. Belajar adalah suatu perubahan watak atau kemampuan (kapabilitas) manusia yang berlangsung selama suatu jangka waktu dan bukan sekedar proses pertumbuhan. Hasil belajar dapat dilihat dengan membandingkan tingkah laku yang terjadi sebelum individu berada dalam situasi belajar dan tingkah laku yang dapat ditunjukkan setelah diberikan perlakuan. Perubahan tersebut berupa peningkatan kemampuan dalam bentuk penampilan (performance) dapat juga berupa perubahan watak dan sejenisnya, seperti sikap, minat dan nilai. Perubahan hendaknya bersifat permanen, dapat disimpan dalam ingatan selama mungkin.

DiVesta dan Tompson (Syamsu, 1994: 6), menyatakan:”learning is: an enduring or permanent change in behavior as a result of experience”. Belajar adalah suatu perubahan yang bersifat abadi atau permanen dalam tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman. Belajar merupakan sesuatu yang penting diketahui oleh pendidik, karena tugas mereka adalah mengembangkan proses belajar mengajar secara efisien dan merupakan hakekat dari peranannya dalam mengubah tingkah laku warga belajar.

Sedangkan menurut William Burton (Umar,2001:29), menyatakan belajar dengan jalan mengalami “ experiencing means living through actual situations and recting vigorously to various aspects of  those situations for purposes apparent to the leaner. Experiencing includes whatever one does or undergoes which results in changed behavior, in changed values, meaning, attitudes, or skill”. Pengalaman adalah sebagai sumber pengetahuan dan ketrampilan bersifat pendidikan, yang merupakan satu kestuan di sekitar tujuan murid. Pengalaman pendidikan bersifat kontinu dan interaktif, membantu integrasi murid yang akan menghasilkan perubahan kebiasaan, nilai, arti, sikap atau ketrampilan.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa belajar sebagai perubahan tingkah laku kognitif, afektif dan psikomotorik, serta belajar merupakan suatu proses usaha untuk mencapai tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, tetapi lebih luas dari itu yaitu mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan terjadinya perubahan tingkah laku.

4. Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran adalah suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan atau pola-pola umum kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan (Syaiful Bahri,1996:5). Menurutnya ada empat strategi dasar dalam pembelajaran yaitu:

a.       Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kwalifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik.

b.      Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.

c.       Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif.

d.      Menetapkan kriteria standar keberhasilan.

Dari uraian di atas tergambar bahwa ada empat hal penting yang harus di perhatikan agar pelaksanaan pembelajaran berhasil dengan baik, pertama spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku  bagaimanakah yang diinginkan sebagai hasil belajar mengajar yang dilakukan.. Kedua, agar pemilihan pendekatan belajar mengajar tepat, maka harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, apakah untuk penguasaan pengetahuan kognitif, afektif ataukah spikomotornya. Ketiga, dalam memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan. Bila beberapa tujuan ingin diperoleh maka guru dituntut untuk memiliki kemampuan tentang penggunaan berbagai metode atau mengkombinasikan berbagai metode yang relevan, sehingga tidak membosankan siswa. Keempat, menentukan kriteria penilaian sehingga dapat dijadikan tolak ukur tingkat keberhasilannya, aspek apa yang akan dinilai dan bagaimana penilaian itu harus dilakukan.

Pada dasarnya proses pembelajaran minimal terdiri dari tiga komponen, yaitu pengajar, peserta didik dan bahan ajar yang akan disampaikan. Guru berperan sebagai informator, motor, motivator maupun stabilisator. Soekarwati (1995:2) menyatakan bahwa “ Apabila suatu lembaga pendidikan mengharapkan dapat meningkatkan kualitasnya, maka peran ketiga komponen tersebut harus ditingkatkan, khususnya peran tenaga pengajarnya”.

Berkaitan dengan itu pembelajaran dikatakan efektif apabila seorang pengajar memiliki: penguasaan atas bahan pengajaran, kepedulian terhadap siswa, kejelasan dalam penyampaian pesan, antusias terhadap bahan pengajaran, mendorong partisipasi siswa, kesediaan untuk memberikan konsultasi, keadilan dalam penilaian, persiapan dan pengorganisasian dalam pengajaran, kemampuan berbicara didepan publik atau orang lain, kemampuan untuk mendorong terjadinya pembelajaran secara mandiri, dan secara umum memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan pengajar lain.

Seorang pengajar juga harus memiliki kemamuan-kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan mengajar, seperti keahlian untuk dapat menciptakan suasana  menyenangkan didalam kelas bila terjadi situasi yang kurang mendukung proses belajar mengajar. Untuk itu seorang pengajar harus mampu menciptakan suasana ruang kelas tetap terkontrol dalam arti siswa tetap aktif mengikuti proses pengajaran dengan baik. Kemampuan membuat atau memberikan selingan humor agar peserta didik tidak merasa bosan dan memotivasi agar siswa tetap senang dan dapat menyerap bahan ajar dengan baik.

Sedang kemampuan yang berhubungan dengan kepribadian adalah kemampuan berperan sebagai figur teladan atau panutan sekaligus penggerak dan pelaksana. Pengajar setiap menerima umpan balik dari siswa ataupun teman sejawat dengan tujuan agar proses belajar mengajar dapat ditingkatkan secara keseluruhan. Disamping itu, seorang pengajar harus selalu meningkatkan kualitas pengajaran dengan menerapkan hasil-hasil penelitian pada bahan ajar yang diberikan dengan maksud agar kualitas bahan ajar terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tetap berpegang pada nilai-nilai moral sehingga ada peningkatan mutu dan hasil.

Dalam belajar pasti terdapat unsur-unsur yang berubah karena proses yang terjadi. Perubahan unsur-unsur itu dapat berupa dari yang lemah menjadi kuat atau sebaliknya, dari tidak ada menjadi menjadi ada atau sebaliknya. (Imron, 1996:29) menyebutkan unsur-unsur belajar yang dinamis itu diantaranya motivasi, bahan ajar, alat bantu belajar, suasana belajar, dan kondisi subyek belajar. Berikut ini akan disajikan hal-hal yang berkaitan dengan masing-masing unsur tersebut dan upaya untuk mengoptimalkan usaha peningkatan efektivitas pembelajaran, yaitu:

a.  Motivasi dan upaya untuk memotivasi siswa untuk belajar

Motivasi belajar adalah keaseluruhan daya penggerak psikis dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar dan menjamin kelangsungan belajar itu demi mencapai tujuan (Winkel, 1987:23). Dalam belajar motivasi megang peranan penting dalam memberikan gairah, semangat, dan rasa senang. Siswa yang mempunyai motivasi tinggi akan menampakkan energi yang tinggi untuk melaksanakan kegiatan belajar. Menurut Sudirman (1986:24), beberapa siswa yang mempunyai  motivasi belajar tinggi diantaranya adalah mempunyai rasa tertarik kepada guru dalam arti tidak membenci atau bersikap acuh, tertarik kepada mata pelajaran yang sedang dipelajari, memperlihatkan antusiasme yang tinggi, diantaranya ingin identitasnya diketahui dan diakui, selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali, dan mempunyai kebiasaan dan moral yang selalu terkontrol. Siswa tersebut juga selalu tekun dalam menmghadapi tugas serta dapat bekerja dalam waktu yang lama, ulet dalam menghadapi kesulitan, dan tidak mudah puas atas apa yang telah diperolehnya.

Apabila seorang siswa menunjukkan gelagat yang agak berbeda dari ciri-ciri diatas, maka diperlukan upaya untuk memotivasinya. Menurut Imron (1996:31), upaya yang dapat dilakukan antara lain adalah sebagai berikut:

1)      Siswa selalu dikenalkan pada kemampuan yang ada pada dirinya, sehingga siswa akan tahu akan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, hal itu akan memperkuat dan mengukuhkan kelebihannya dan memperbaiki kekurangannya melalui aktivitas belajar.

2)      Perumusan tujuan belajar yang jelas, sehingga siswa akan mempunyai target yang ingin dicapainya.

3)      Perumusan aktivitas yang jelas, siswa ditunjukkan kegiatan-kegiatan yang dapat mengarahkan tercapainya tujuan belajar yang ingin dicapai.

4)      Dibuat variasi dalam kegiatan belajar, sehingga  kegiatan yang terterjadi tidak monoton dan membosankan.

Guru perlu memperkenalkan hal-hal yang baru, yang dapat menarik perhatian dan rasa ingin tahu sehingga akan menyebabkan keinginan untuk berusaha mencari tahu, dan gairah untuk mengetahui, hal itu diyakini akan dapat meningkatkan motivasi siswa.

Seseorang disebut termotivasi apabila ia merasakan perlunya pemenuhan terhadap sebagian atau seluruh kebutuhan keingintahuannya. Sebaliknya seseorang yang tidak termotivasi tidak memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu, karena ia tidak melihat adanya kemungkinan untuk dapat memenuhi kabutuhannya. Sebagai upaya peningkatan motivasi dalam konteks pengajaran disekolah, seorang guru hendaknya mampu menunjukkan kepada siswa bahwa kegiatan yang dilakukan dalam proses belajar-mengajar akan dapat memenuhi kebutuhan siswa.

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002:80-81), menyatakan bahwa ada tiga komponen utama dalam motivasi yaitu dorongan, kebutuhan dan tujuan. Dorongan merupakan kekuatan mental untuk mekukan kegiatan dalam rangka memenuhi harapan. Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidak seimbangan antara apa yang ia miliki dan ia harapkan. Sedang tujuan adalah hal yang ingin dicapai oleh seorang individu. Tujuan tersebut mengarahkan perilaku dalam hal ini perilaku belajar.

b. Bahan Ajar dan Upaya Penyediaannya

Bahan ajar mencakup segala sesuatu yang harus dipelajari siswa dalam aktivitasnya. Bahan ajar ini dapat berasal dari guru, buku-buku teks, dan dari sumber lain yang dapat mendukung penguasaan bahan ajar utama. Yang diperhatikan oleh guru adalah penyesuaian antara bahan ajar itu dengan tujuan belajar dan karakteristik siswa. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan guru sehubungan dengan  penentuan bahan ajar, diantaranya adalah menarik siswa, relevan dengan tujuan, muatan latihan yang cukup, murah, mudah dilaksanakan dll.

Bahan ajar yang baik harus mempunyai urutan tingkat kesulitan yang berawal dari tingkatan sederhana ke tingkat yang kompleks, dari yang mudah ke tingkat yang lebih sulit. Menurut Imron (1996:34), bahwa urutan penyajian dalam pembelajaran sangat penting karena apabila digunakan urutan yang sebaliknya, maka akan timbul  kesulitan baik pada pihak guru maupun pihak siswa. Penyajian bahan ajar perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa, sehingga siswa tetap mempunyai apresisasi yang positif terhadap pelajaran. Bahan ajar yang terlalu  sulit akan menyebabkan siswa putus asa. Sebaliknya bahan yang terlalu mudah cenderung diremehkan. Akibatnya pada kedua kondisi itu tidak terjadi kegiatan belajar seperti yang diinginkan.

c. Alat Bantu Belajar dan Upaya Penyediaannya

Alat bantu belajar mempunyai kedudukan yang penting karena dapat memudahkan guru dalam menyampaikan pelajaran dan memudahkan siswa dalam memahami dan menguasai pelajaran yang disampaikan. Dengan alat bantu bahan ajar yang sulit dapat menjadi tampak lebih mudah, konkrit, dan menarik. Pada umumnya alat bantu yang tersedia disetiap kelas adalah papan tulis. Namun dalam praktek pendidikan papan tulis tidak cukup, harus didukung oleh yang lain, seperti: tape recorder, TV, gambar, OHP, VCD, artikel, gambar dan yang lainnya yang dapat mendukung materi pembelajaran yang akan disampaikan. Dengan demikian dalam penyampaian materi selain akan menjadi mudah juga dapat menarik perhatian siswa sehingga bisa tercipta suasana baru, yang hal itu bisa menghilangkan kejenuhan siswa, tidak monoton, yang hanya berkisar antara mendengarkan ceramah guru, melihat papan tulis, dan menyimak buku masing-masing.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan alat bantu adalah adanya kesesuaian materi yang akan disampaikan dengan tujuan belajar.Disamping itu yang harus diperhatikan adalah ketersediaan dan keterjangkauan media, kepastian dan keefektifan dan efisiensi. Yang perlu dihindari dalam pemilihan alat bantu adalah yang bisa menyita waktu, biaya dan tenaga yang berlebihan, sehingga pencapaian tujuan secara keseluruhan menjadi terabaikan

d. Suasana Belajar dan Upaya Pengembangannya

Untuk mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar, perlu diciptakan suasana belajar yang kondusif. Suasana belajar yang kondusif adalah suasana yang mendukung terciptanya kegiatan belajar yang baik.

Disamping itu untuk mencapai keberhasilan dalam pembelajaran maka seorang guru harus memiliki kemamuan-kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan mengajar; seperti: keahlian untuk dapat menciptakan suasana menyenangkan didalam kelas bila terjadi situasi yang kurang mendukung proses belajar mengajar, mampu menciptakan suasana ruang kelas tetap terkontrol dalam arti siswa tetap aktif mengikuti proses pengajaran dengan baik, kemampuan membuat atau memberikan selingan humor agar peserta didik tidak merasa bosan dan memotivasi agar siswa tetap senang dan dapat menyerap bahan ajar dengan baik.

Sedang kemampuan yang berhubungan dengan kepribadian adalah kemampuan berperan sebagai figur teladan atau panutan sekaligus penggerak dan pelaksana. Pengajar setiap menerima umpan balik dari siswa ataupun teman sejawat dengan tujuan agar proses belajar mengajar dapat ditingkatkan secara keseluruhan. Disamping itu, seorang pengajar harus selalu meningkatkan kualitas pengajaran dengan menerapkan hasil-hasil penelitian pada bahan ajar yang diberikan dengan maksud agar kualitas bahan ajar terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tetap berpegang pada nilai-nilai moral sehingga ada peningkatan mutu dan hasil.

Untuk mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar, perlu diciptakan suasana belajar yang kondusif. Suasana belajar yang kondusif adalah suasana yang mendukung terciptanya kegiatan belajar yang baik. Hal tersebut ditandai dengan :

1)      kekuatan siswa yang melakukan kegiatan secara terarah dan tidak melakukam kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan tujuan belajarnya

2)      Keaktifan siswa untuk berinteraksi dengan gurunya dan dengan sesama siswa, dan komunikasi yang terjadi antar siswa dan guru adalah dinamis dua arah

3)      Adanya kebebasan bagi siswa untuk melakukan hal-hal yang dapat membantu mencapai tujuan belajar, jadi siswa melakukan hal itu bukan hanya karena disuruh guru saja

4)       Adanya penghargaan bagi siswa yang menunjukkan kreativitas (Rusyan dkk, 1989:170).

Suasana belajar yang semacam ini tentunya tidak tercipta dengan sendirinya. Sejak penyusunan rencana yang dikehendaki perlu dirancang dan terapkan secara konsisten dalam setiap pertemuan. Seperti yang disarankan (Imron 1996:38) bahwa pada awal akan dimulainya serangkaian kegiatan belajar mengajar, kesepakatan-lesepakatan dengan siswa tentang jalannya proses belajar itu dibuat dahuli secara bersama-sama dan demokratis, sehingga siswa tidak menemui keragu-raguan dalam bersikap dan bertindak, serta tidak akan terjadi keterpaksaan atau keberatan dari pihak siswa. Rancangan kegiatan dikomunikasikan dengan siswa, sehingga siswa tahu apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Siswa diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapatnya, dan siswa yang pasif perlu didorong untuk mampu dan mau menunjukkan partisipasi aktifnya.

e.  Kondisi Subyek Belajar dan Upaya Penyiapannya

Sejak awal perlu disadari bahwa kondisi siswa bersifat heterogen, baik kondisi fisik maupun psikisnya. Kondisi subyek belajar yang berbeda-beda itu perlu disikapi secara bijaksana oleh guru, sehingga semua anggota kelas akan merasakan perlakuan yang seimbang. Kock (1994:68) menyarankan agar perbedaan inteligensi, emosi, bakat, motivasi intrinsik, kematangan, atau harapan aspirasi siswa dipandang sebagai kewajiban yang ditemui juga dibidang-bidang yang lain, sehingga diperlukan perlakuan yang wajar pula, siswa yang menonjol diantara teman-temannya perlu dihargai, namun jangan sampai mendominasi seluruh proses pembelajaran, karena siswa yang lain yang kebetulan mempunyai kekurangan juga berhak atas perlakuan yang sama.

Upaya yang dapat dilakukan guru untuk membuat subyek belajar secara spikis untuk mengikuti pelajaran diantaranya adalah dengan memelihara keseimbangan emosinya, agar secara psikologis mendapatkan rasa aman. Kondisi psikis siswa perlu diasah dengan latihan-latihan, sehingga siswa akan terlatih dalam menghadapi tugas-tugas yang mungkin berat. Yang paling penting, siswa harus dibuat tidak merasa tertolak oleh lingkungannya, baik oleh teman sejawat maupun guru. Dengan menerima siswa apa adanya, siswa akan merasa tetap sebagai anggota kelompok dalam kelasnya, dan tetap mempumyai semangat untuk bersaing secara wajar dan positif dintara teman-temannya

B. Hasil Penelitian Yang Relevan

Jarwoko (2002), yang berjudul Efektivitas Pendidikan Anak Usia Dini Di Taman Anak Saleh (Tapas) Al-Amanah ketagen Sidoarjo, terungkap bahwa aspek perkembangan sosio-emosi-spiritual sangat dipengaruhi oleh penanaman nilai-nilai akhlak mulia oleh lembaga pendidikan tersebut. Perubahan perilaku yang mencerminkan seorang muslim tampak pada kebiasaan membaca doa setiap memulai kegiatan dan mengakhiri kegiatan, mengucapkan salam dan rajin berinfak.

Penelitian yang dilakukan oleh Yasmuri (2004), yang berjudul Pengaruh Pendidikan Cerdas Berakhlak mulia Pada Pelaksanaan Sholat Berjamaah Siswa Di SLTP Negeri I Dlingo, terungkap adanya korelasi positif atau signifikan.

Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Syahridlo yang berjudul Pengaruh Prestasi Pelajaran Agama terhadap Sikap Keagamaan Siswa Madrasah Aliyah Negeri Kabupaten Bantul, bahwa prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran aqidah (akhlak mulia) memberikan kontribusi secara signifikan sebesar 17,52% terhadap pembentukan sikap keagamaan siswa.

Dikatakan oleh Basrodin dalam penelitiannya yang berjudul Managemen Sekolah Model Imtaq SMA Negeri I Pleret Bantul, dikatakan bahwa proses managemen sekolah model imtaq diarahkan dalam rangka meningkatkan prestasi akademik sekaligus membentuk kepribadian siswa yang berakhlak mulia yang dilandasi niat ibadah untuk mendapat ridlo Allah SWT dan akhrirnya mencapai kebahagiaan dunia dan akhlirat. Dan terbukti bahwa secara fisik dapat dilihat pada lingkungan sekolah yang bersih, pemasangan kutipan Ayat-Ayat Al-Qur’an dan Al-Hadist di kelas-kelas/ tempat yang strategis, pemakaian busana muslimah bagi siswa, guru/karyawan, bangunan masjid yang megah, dan pembiasaan bersalaman antara siswa dengan guru.

C. Kerangka Berpikir

Keberhasilan peningkatan mutu pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh penamiplan guru yang baik saja, tetapi ditentukan oleh banyak faktor. Diantaranya adalah kurikulum, bahan ajar, pengelolaan kelas, siswa, dana, sarana, media, metode pembelajaran, dll. Guru sebagai penentu faktor keberhasilan dalam pembelajaran dituntut untuk mencari strategi yang tepat agar pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Dengan mengacu pada Buku II tentang kompetensi akhlak mulia, bahwa tujuan pendidikan akhlak mulia adalah untuk membentuk watak serta etika yang mulia pada anak didik, yang meliputi hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam sekitar. Seperti yang telah diuraikan dalam pembatasan masalah, peneliti membatasi pada hubungan manusia dengan manusia saja dengan menggunakan strategi pengembangan kecerdasan Emosional spiritual (ESQ). Strategi ini merupakan cara untuk mengembangkan kecerdasan yang sudah dimiliki oleh siswa yaitu kecerdasan emosinal dan spiritual dengan bersumber pada suara hatinya yang merupakan pancaran dari Asmaul Husna (seperti : kasih sayang, jujur, empati, ramah, santun, menghormati yang lebih tua, dll.

Mengingat  pendidikan akhlak mulia bertujuan untuk menanamkan, membina dan mengembangkan aspek nilai-nilai pada anak didik maka dilakukan secara bertahap, mulai dari hal-hal yang kecil, dan dimulai dari sekarang.  Adapun proses pembinaan nilai menurut Krathwal melalui lima tahapan secara hirarkis, yaitu:

1)      Receiving (penerimaan), siswa berteraksi dengan stimulus, misalnya siswa hadir dan memperhatikan penjelasan dari guru dengan sungguh-sungguh setelah menyaksikan pemutaran CD ESQ.

2)      Responding (penanggapan), siswa mengadakan aksi terhadap stimulus, misalnya mengajukan pertanyaan jika belum jelas atau menemukan sesuatu kejanggalan, mentaati tata tertib,dll.

3)      Valuing (penilaian), pada tahap ini mulai ada proses internalisasi seperti menjenguk temannya yang sakit, dengan senang hati untuk berinfak,dll.

4)      Organization (pengorganisasian), pada tahapan ini siswa mampu membedakan nilai -nilai yang dianggap baik dan buruk, misalnya jujur.

5)      Characterization (karakterisasi) pada tahapan ini sudah menjadi mempribadi, tanpa diperintah oleh guru siswa melakukan sesuatu yang dianggap baik, seperti : mengikuti jamaah shalat zuhur, menjenguk temannya yang sakit, mempersiapkan alat pembelajaran, menjaga kebersihan kelas, salaman dengan guru sebelum masuk kelas.

 

Untuk memperjelas arah penelitian, dengan berdasarkan kajian teori perlu di rumuskan kerangka pikir seperti pada gambar berikut ini.

 

Gambar 2

Rumusan Kerangka Pikir dengan Pengembangan Kecerdasan Emosional dan Spiritual

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian tindakan (action research), yang bertujuan untuk merubah perilaku penelitinya, perilaku orang lain, dan atau mengubah kerangka kerja, organisasi, atau struktur lain, yang pada gilirannya menghasilkan perubahan pada perilaku peneliti-penelitinya dan atau perilaku orang lain. (Suwarsih Madya,1994:12).

Menurut Kemmis dan McTaggart (1988:5) Action research is a form of collective self-reflective enquiry undertaken by participants is social situation in order to improve the rationality and justice of their own social or educational practices, as well as their understanding of these practices and the situations in which these practices are carried out. Groups of participants can be teachers, students, principals, parents and other community members.- any group with a shared concern. Hal ini berarti bahwa penelitian tindakan merupakan bentuk penelitian diri reflektif kolektif yang dilakukan oleh peserta dalam situasional tertentu guna meningkatkan rasionalitas maupun keadilan dalam praktek pendidikan. Kelompok peserta dapat saja terdiri dari guru, siswa, kepala sekolah, orang tua dan anggota komunitas lain atau kelompok yang memiliki kepedulian bersama.

Sedangkan menurut Watts (2002:1), penelitian tindakan memerlukan proses yang sistematis dan teknik yang hati-hati, yaitu :Action research is a process in which participants examine their own educational practice systematically and carefully using the techniques of research. Penelitian tindakan adalah proses dimana peneliti menguji praktek pendidikan mereka sendiri secara sistematis dan hati-hati dengan menggunakan teknik penelitian. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian tindakan lazimnya dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan atau pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di kelas.   Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa:

1.  guru dan peneliti bekerja sebaik-baiknya atas masalah yang mereka identifikasi sendiri,

2.  guru dan peneliti menjadi lebih efektif ketika didorong untuk menguji dan menilai pekerjaan mereka sendiri dan kemudia mempertimbangkan cara kerja yang berbeda,

3.  guru dan peneliti saling membantu dengan bekerja bersama-sama secara kolaboratif,

4.  bekerja dengan rekan kerja (guru sejenis) membantu guru dan kelompok dalam pengembangan profesi mereka.

Sikap yang paling perlu dikembangkan dalam penelitian tindakan adalah kritis kolaboratif, yaitu upaya olah pikir yang sangat kompleks dalam memadukan beragam persepsi, visi, pengetahuan, ketrampilan, dan kepentingan untuk dijadikan persepsi dan visi bersama, serta kesediaan pihak-pihak yang terkait untuk ikut terlibat dan bertanggung jawab bersama-sama sesuai dengan peranannya masing-masing (Gunawan, 1998:24)

Menurut Suwarsih Madya yang di kutip dari pendapatnya (Cohen dan Manion, 1980), bahwa penelitian tindakan memiliki karakteristik, sebagai berikut

1.  Situasional, praktis, dan secara langsung gayut (relevan) dengan situasi nyata dalam dunia kerja.

2.  Memberikan kerangka kerja yang teratur kepada pemecahan masalah.

3.  Fleksibel dan adaptif, memungkinkan adanya perubahan selama masa percobaan dan mengabaikan pengontrolan karena lebih menekankan sifat tanggap dan pengujicobaan dan pembaharuan ditempat kejadian.

4.  Partisipatori karena peneliti atau anggota tim peneliti sendiri ambil bagian secara langsung atau tidak langsung dalam melaksanakan penelitian.

5. Self evaluatif, yaitu modifikasi secara kontinyu dievalusi dalam situasi yang ada, yang tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan praktik dalam cara tertentu.

6.  Meskipun berusaha secara sistematis, penelitian tindakan secara ilmiah kurang ketat karena kesahihan dalam dan luarnya lemah.

B. Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan ini direncanakan berlangsung sebanyak tiga siklus, masing-masing siklus terdiri dari dua kali pertemuan.

Siklus I, tentang : Hubungan antara siswa dengan guru/karyawan, dan siswa dengan siswa dilingkungan sekolah.

1.      Perencanaan:

a.       Agar siswa memiliki sikap dan tingkah laku mulia dalam pergaulan di lingkungan sekolah, seperti: kasih sayang, jujur, adil, tanggung jawab, dan pemaaf, maka guru memberikan penjelasan dan memberikan contoh tentang sikap-sikap terpuji yang harus dijaga dalam pergaulan di lingkungan sekolah.

b.      Guru memilih dan menyiapkan media yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan kepada siswa.

c.       Menyiapkan personal yang akan terlibat yaitu peneliti, siswa dan guru pengampu.

2.      Pelaksanaan :

a.       Guru mengucapkan salam, berdoa bersama kemudian menyampaikan tujuan kompetensi dasar kepada siswa.

b.      Untuk menyampaikan materi tentang sikap-sikap mulia yang harus dijaga dalam pergaulan di lingkungan sekolah, diantaranya adalah: santun terhadap guru/ karyawan, dan teman, kasih sayang, adil, jujur, tanggung jawab, adil, peduli, dan pemaaf, maka guru  menggunakan media VCD yaitu pemutaran CD ESQ tentang hubungan IQ, EQ, dan SQ.

c.       Selama siswa mencermati pemutaran CD ESQ, guru dan peneliti memandu, mengawasi dan memberikan bimbingan.

d.      Teknik evaluasinya dengan mengggunakan tes skala sikap dan observasi.

3.      Observasi: dengan melakukan pengamatan terhadap kegiatan siswa di sekolah baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

4.      Refleksi : berdasarkan hasil evaluasi dan observasi bila masih banyak diketemukan siswa tidak respek terhadap mata pelajaran akhlak mulia, hal itu dapat dilihat dari perbahan sikap dan tingkah laku siswa maka peneliti akan mengadakan diskusi bersama guru atau teman sejawat dan kepala sekolah untuk mengadakan perencanaan pemecahan masalah yang selanjutnya dilaksanakan pada siklus kedua.

Siklus II, tentang : Hubungan antara siswa dengan guru/karyawan, dan siswa dengan siswa dilingkungan sekolah

1.       Perencanaan :

a.       Agar siswa memiliki sikap dan tingkah laku yang mulia dalam pergaulan di lingkungan sekolah, seperti: kasih sayang, jujur, adil, tanggung jawab, dan pemaaf, maka guru memberikan penjelasan dan memberikan contoh tentang sikap-sikap terpuji yang harus dijaga dalam pergaulan di lingkungan sekolah.

b.      Guru memilih dan menyiapkan media yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan kepada siswa.

c.       Menyiapkan personal yang akan terlibat yaitu peneliti, siswa dan guru pengampu.

2.       Pelaksanaan:

a.       Guru mengucapkan salam, berdoa bersama kemudian menyampaikan tujuan kompetensi dasar kepada siswa.

b.      Untuk menyampaikan materi tentang sikap-sikap mulia yang harus dijaga dalam pergaulan di lingkungan sekolah, diantaranya adalah: santun terhadap guru/ karyawan, dan teman, kasih sayang, adil, jujur, tanggung jawab, adil, peduli, dan pemaaf, maka guru menggunakan VCD yaitu dengan pemutaran CD ESQ tentang kecerdasan spiritual.

c.       Selama siswa mencermati pemutaran CD ESQ tentang kecerdasan spiritual guru dan peneliti memandu, mengawasi dan memberikan bimbingan.

d.      Teknik evaluasinya dengan menggunakan tes skala sikap dan pengamatan.

3.      Observasi: dengan cara mengadakan pengamatan terhadap kegiatan siswa di dalam kelas maupun di luar kelas.

4.      Refleksi : berdasarkan hasil evaluasi dan observasi maka akan diketemukan masalah-masalah yang baru, kemudian peneliti akan mengadakan kolaborasi guna pemecahan masalah  dan selanjutnya dipecahkan pada siklus ketiga.

Siklus III, tentang: Hubungan antara siswa dengan guru/karyawan, dan siswa dengan siswa dilingkungan sekolah.

1. Perencanaan :

a.       Agar siswa memiliki sikap dan tingkah laku mulia dalam pergaulan di lingkungan sekolah, seperti: kasih sayang, jujur, adil, tanggung jawab, dan pemaaf, maka guru memberikan penjelasan dan memberikan contoh tentang sikap-sikap terpuji yang harus dijaga dalam pergaulan di lingkungan sekolah.

b.      Guru menggunaka media VCD ESQ agar siswa memiliki pemahaman tentang sikap mulia yang harus dijaga dalam pergaulan di lingkungan sekolah.

c.       Mempersiapkan personal yang akan terlibat , yaitu: peneliti, guru dan siswa.

2. Pelaksanaan:

a.       Guru mengucapkan salam, berdoa bersama kemudian menyampikan tujuan kompetensi dasar kepada siswa.

b.      Untuk menyampaikan materi tentang sikap-sikap terpuji yang harus dijaga dalam pergaulan di lingkungan sekolah, diantaranya adalah: santun terhadap guru/ karyawan, dan teman, kasih sayang, adil, jujur, tanggung jawab, adil, peduli, dan pemaaf, maka guru menggunakan media CVD dengan pemutaran CD ESQ tentang spiritual era.

c.       Selama siswa mencermati pemutaran CD ESQ, guru dan peneliti memandu, mengawasi dan memberikan bimbingan.

d.  Teknik evaluasinya menggunakan tes skala sikap dan pengamatan.

3.   bservasi: dengan cara mengadakan pengamatan terhadap kegiatan siswa baik di dalam maupun di luar kelas.

4.      Refleksi: berdasarkan hasil evaluasi dan observasi maka akan di ketemukan metode dan media yang cocok untuk menyampaikan materi cerdas berakhlak mulia yang efektif sehingga akan tercapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

C. Desain Penelitian

Langkah-langkah penelitian ini dilakukan dengan mengacu pada uraian Kemmis dan McTaggart (1990:11) tentang the action research spiral, (penelitian tindakan model spiral). Siklus tindakan, yaitu plan, action, observation, and reflection, (perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi), dikembangkan seperti berikut ini :

1. Perencanaan

Tahap perencanaan dimulai dari penemuan masalah dan penganalisanya  dan kemudian merancang tindakan yang akan dilakukan secara terperinci, adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

a.   Merumuskan masalah penelitian yang ada di lapangan, yaitu dengan malakukan observasi awal disekolah, baik melalui diskusi dengan guru dan kepala sekolah maupun observasi di dalam kelas. Masalah-masalah yang ditemukan kemudian dituliskan dalam daftar masalah.

b.      Memilih masalah penelitian. Masalah-masalah yang ada dalam daftar masalah itu didiskusikan dengan pihak-pihak terkait. Tiap masalah dilihat bobot kemungkinan pemecahannya, dan dipilih masalah-masalah yang dikategorikan berada dalam jangkauan kemungkinan pemecahan saja.

c.        Mempertajam masalah penelitian. Tiap masalah yang terpilih itu kemudian diperinci atau dipertajam menjadi sub-sub masalah.

d.      Merancang pemecahan masalah. Rancangan pemecahannya berupa langkah-langkah yang dilakukan untuk memecahkan sub-sub masalah tadi.

2. Tindakan

Tindakan yang dimaksud disini adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dan terkendali, yang merupakan variasi praktik yang cermat dan bijaksana. Sehubungan dengan hal itu, praktik diakui sebagai gagasan dalam tindakan dan tindakan itu digunakan sebagai pijakan bagi perkembangan tindakan-tindakan berikutnya, yaitu tindakan yang disertai niat untuk memperbaiki keadaan.

3.  Observasi

Observasi berfungsi untuk mendokumentasikan pengaruh tindakan terkait. Observasi itu berorientasi ke masa yang akan datang, memberikan dasar bagi refleksi sekarang, apalagi ketika putaran sekarang ini berjalan. Observasi harus direncanakan, sehingga akan ada dasar dokumenter untuk refleksi berikutnya. Observasi harus bersifat responsif, terbuka pandangan dan pikirannya.

4.   Refleksi

Tahap ini dilakukan untuk melaksanakan penilaian terhadap proses yang terjadi, masalah yang muncul, dan segala hal yang berkaitan dengan tindakan yang telah dilakukan. Pelaksanaan refleksi ini adalah berupa diskusi yang dilakukan para pihak yang terkait; peneliti, guru, dan kepala sekolah untuk mengevaluasi hasil tindakan dan merumuskan perencanaan tindakan berikutnya. Apabila masih diperlukan, proses diulangi lagi dengan merancang pemecahan masalah putaran kedua, berupa revisi rancangan pertama, kemudian pemecahan masalah kedua, mengobservasi proses dan hasil pemecahan masalah dan refleksinya. Apabila dipandang masih tetap diperlukan, proses perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi dilakukan sampai putaran ketiga.

Langkah-langkah penelitian tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Keterangan :

0        = Perenungan

1        = Perencanaan

2        = Tindakan dan observasi 1

3        = Refleksi 1

4        = Rencana Terevisi 1

5        = Tindakan dan Observasi  II

6        = Refleksi II

7        = Rencana Terevisi II

8        = Tindakan dan Observasi III

9        = Refleksi III

(Gambar 3: Proses Penelitian Tindakan)

Sumber : Kemmis dan McTaggart.

 

D. Subyek Penelitian

Subyek penelitian  tindakan ini adalah Siswa SMA N 1 Sedayu, Bantul, Yogyakarta, yaitu sekolah tempat peneliti mengajar. Karena disamping sebagai peneliti juga mengajar di kelas III yang pada bulan Mei menghadapi ujian, maka kepala sekolah memberikan ijin penelitian pada jam  dan hari dimana peneliti tidak mengajar, yaitu pada setiap hari Kamis di kelas XI IIS3.

E. Setting Penelitian

Penelitian tentang pembelajaran CBM melalui Pengembangan Kecerdasan Emosional dan Spiritual di lakukan di SMA N 1 Sedayu, Bantul, Yogyakarta, kelas XI IIS3. Adapun waktu pelaksanaannya dari bulan maret sampai dengan Pebruari 2010.

F. Teknik Pengumpulan Data

Akhlak mulia merupakan tingkah laku susila atau budi pekerti, maka teknik  pengumpulan data diperoleh melalui kuesioner, observasi atau pengamatan, dan dokumentasi ( Depdiknas, 2004:26). Dan teknik evaluasi  yang digunakan juga berbeda dengan mata pelajaran yang lainnya dalam hal ini tidak menggunakan alat tes yang bersifat kwantitatif. Untuk mengevaluasi keberhasilan penanaman akhlak mulia dengan evaluasi non tes berupa: observasi, pelaporan, tes skala sikap. (Dinas P dan K, 2002:0)

Pengumpulan data dilakukan dengan catatan lapangan sebagai hasil dari :

1. Observasi

Observasi adalah pengamatan yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis tentang keadaan atau fenomena sosial dan gejalapsikis dengan jalan mengamati dan mencatat. (Mardalis, 63). Pada tahapan ini peneliti melakukan observasi/ pengamatan langsung di kelas maupun di luar kelas. Adapun hal-hal yang diamati di dalam kekas adalah kegiatan proses pembelajaran CBM baik kegiatan yang dilakukan oleh guru maupun siswa. Sedangkan pengamatan yang dilakukan di luar kelas adalah dengan mengamati kegiatan keseharian di lingkungan sekolah yaitu pada saat upacara bendera, istirahat, dan olah raga. Adapun caranya  dengan  berkoordinasi dengan guru BP, guru olah raga, sehingga dapat diketemukan permasalahan-permasalahan yang timbul kemudian dilakukan pencatatan.

2. Tes Skala Sikap

Tes ini dimaksudkan untuk mengetahui sikap sesungguhnya/ asli dari siswa, sehingga dapat diketahui kesesuaian antara tutur kata, sikap, dan tingkah laku siswa yang menunjukkan kepribadian akhlak mulia atau tingkat kecerdasan emosional dan spiritualnya. Tes skala sikap sebelum di ujikan kepada siswa, sebelumnya oleh peneliti telah dimintakan persetujuan atau pernyataan pendapat dari ahlinya ( judgment profesional ), dalam hal ini adalah dosen pembimbing dan dosen ahli dalam tes skala sikap (pendidikan nilai).

3. Dokumentasi

Dokumentasi berupa surat ijin penelitian, tes skala sikap, lembar pengamatan tentang sikap dan tingkah laku siswa di lingkungan sekolah, dan lembar hasil tugas-tugas,  serta foto kegiatan pembelajaran.

4. Catatan Lapangan

Catatan lapangan untuk mencatat  segala yang dapat memberikan informasi yang terkait dengan penelitian tindakan ini, misalnya tentang perilaku khusus siswa di lingkungan sekolah yang dapat menjadi petunjuk adanya permasalahan atau petunjuk untuk langkah berikutnya atau catatan kecenderungan yang bersifat positif atau negatif.

G. Teknik Analisis  data

Data yang telah dikumpulkan  dianalisis dengan memproses, mengorganisasikan, dan mengurutkan data kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar.  Analisa data yang dilakukankan ini bertujuan agar data tersebut lebih bermakna. Maka dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi agar tidak terjadi subyektifitas dengan mengacu  pendapat atau persepsi orang lain. (Suwarsih Madya: 1994:33). Adapun indikator keberhasilan penelitian ini di ukur dari adanya peningkatan perubahan sikap dan tingkah laku siswa, yaitu dari tingkat kesadaran yang rendah menjadi kesadaran yang tinggi (peningkatan EQ) dan pada akhirnya pada peningkatan SQnya yang tertinggi. Pada tes skala sikap, siswa yang mencapai SQ tinggi adalah mereka yang memilih sikap pada pilihan selalu untuk pernyataan positip dan tidak pernah pada pernyataan negatip dan skor yang diperoleh maksimal (5). Sedangkan siswa yang Eqnya tinggi adalah siswa yang memilih pernyataan sering pada pernyataan positip dan jarang sekali pada pernyataan negatip.

DAFTAR PUSTAKA

UU No.20 Tahun 2003, Sistem pendidikan nasional

Perda. No. 28 Tahun 2001, Rencana stratetis kabupaten bantul

Perda. No. 13 Tahun 2002, Sistem penyelenggaraan pendidikan di kabupaten bantul

Pemda. (2002), Pedoman umum pendidikan akhlak mulia buki I. Pemda Bantul Dinas P dan K

Ary Ginjar A.(2004), Rahasia sukses membangun kecerdasan emosi dan spiritual. Jakarta: Arga

Riyadi A. (2006), Sukses dengan kecerdasan Qur’ani. Majalah Alia No.7 Tahun III Dzulhijjah/ Januari

Pemda. (2002), Pedoman umum pendidikan akhlak mulia buki I. Pemda Bantul Dinas P dan K

Gulo W, (2002), Strategi belajar mengajar. Jakarta: PT Gramedia

Pemda. (2002), Kompetensi dasar pendidikan akhlak mulia buku II. Pemda. Bantul Dinas P dan K

Helmy M.(1995), Akhlak Nabi Muhammad S.A.W. Yogyakarta: terjemahan dari Ahmad Muhammad Al-Hufy. Gama Press.

Shaleh A. (2002), Tafsir dan intisari hadist arbain. Pustaka Annaba’.

Mas’ud M. (2004), Himpunan hadist shaheh buchori. Arcola Surabaya.

Helmy, M. (1995). Akhlak Nabi Muhammad SAW. Yogyakarta: Terjemahan dari Ahmad Muhammad Al-Hufy. Gama Press

Helmy, M. (1995). Akhlak Nabi Muhammad SAW. Yogyakarta: Terjemahan dari Ahmad Muhammad Al-Hufy. Gama Press

Mas’ud M. (2004), Himpunan hadist shaheh buchori. Arcola Surabaya.

Imam Nawawi (2006), Ringkasan riyadhush shalihin. Bandung. Irshad Baitus Salam.

Al- Qur’an, QS. Al-Ahzab  ayat 21

Tasmara T (2001), Kecerdasan ruhaniah. Jakarta: Gema Insani

Al- Qur’an, QS. Al-Ahzab  ayat 70

Al-Qur’an, QS. Alam Nashrah “Terjemah”

Al-Qur’an, QS. Al-Qasas ayat 77

Al-Qur’an, QS. An Nisa 58

Anggota Kelompok I :

1.     Drs. Fuad Aljihad

2.     Muhammad Zainudin, S.Pd., M.M.

3.     Fience Hehakaya, S.Pd.

4.     Rosa Lestari, S.Pd.

5.     Firdaus, S.Pd.

6.     Drs. Lilik Suwarto, M.M.

7.     Dientje Ngantung, S.Pd.

8.     Dra. Sri Setyowati

9.     Dra. Rasmi

Posted in Inovasi Pendidikan | Leave a comment

Guru Sebagai Motivator Dalam Pembelajaran

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang masalah

Guru sebagai pemegang otoritas dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dikelas harus bisa menciptakan Proses pembelajaran yang menyenangkan sehingga Siswa dapat betah belajar disekolah, sehingga ilmu pengetahuan yang ditransfer oleh guru dapat diserap dan dapat dipahami serta dapat diamalkan dalam kehidupan sehari – hari.

Guru harus mampu merancang dan menerjemahkan dokumen kurikulum yang statis menjadi aktivitas yang dinamis dalam proses pembelajaran .Kondisi nyata pada saat ini masih banyak guru yang melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan cara konvensional tanpa ada kemauan untuk menciptakan inovasi, bahkan masih ada guru yang  tidak pernah memberikan Hadiah dan pujian ( reward) kepada siswa yang aktif atau berprestasi,sehingga siswa merasa bosan dan kurang termotivasi untuk mengikuti pembelajaran disekolah. Mensikapi kondisi sebagaimana tersebut diatas, maka penulis tertarik membuat makalah dengan judul   “ Peranan Guru sebagai Inovator dan motivator belajar siswa “.

Agar siswa dapat termotivasi dalam belajar disekolah tentu saja seorang guru dituntut untuk memperluas pengetahuan yang berkaitan dengan psikologi pendidikan dan mengasah keterampilan mengajar melalui berbagai referensi dan sumber belajar maupun dari seminar-seminar atau pelatihan serta dapat memahami keunikan Individu peserta didik.

B.Batasan masalah

Apabila kita membahas masalah peranan guru tentu saja cakupannya sangat luas, karena keberadaannya sangat dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat. Kita ketahui bahwa keberadaan guru disamping sebagai seorang pendidik dan Pembina disekolah, terkadang seorang Guru harus tampil menjadi Imam Masjid,sebagai pembawa acara ( Master of Ceremoni),menjadi Ketua Rukun Tetangga (RT), menjadi ketua Rukun Warga ( RW) bahkan ada yang melibatkan diri dalam organisasi kemasyarakatan dan Organisasi Profesi Guru.Dengan berbagai jabatan tambahan yang disandangnya, seringkali Ia melalaikan Peran Utamanya.

Oleh karena itu dalam penulisan makalah ini  penulis membatasi masalah peran guru sebagai Inovator dan motivator belajar siswa di sekolah  sebagai tugas utama selaku pendidik dan pembina yang dituntut mengadakan perubahan sesuai dengan perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menghantarkan peserta didiknya kelak menjadi manusia yang berguna sesuai minat dan bakatnya.

C. Rumusan masalah.

- Bagaimana peran seorang Guru sebagai Inovator

- Bagaimana peran  Guru dalam memotivasi belajar siswa di sekolah

- Bagaimana Aspek motivasi dalam perencanaan pembelajaran

D. Tujuan penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah ingin mengetahui bagaimana merubah Nilai Budaya Tradisional / konvensional dalam Proses pembelajaran menuju model pembelajaran yang Modern yang dapat memotivasi belajar siswa .

 

BAB II

GURU SEBAGAI INOVATOR DAN MOTIVATOR

A.Landasan teori

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah ( Undang-undang nomor 14 tahun 2005 Tentang Guru dan dosen ).

Dalam pengertian sederhana Guru adalah orang yang memfasilitasi alih ilmu pengetahuan dari sumber belajar kepada peserta didik. Sementara masyarakat memandang guru sebagai orang yang melaksanakan pendidikan di sekolah,masjid,mushola, atau tempat – tempat lain. Semua pihak sependapat bila guru memegang peranan penting dalam mengembangkan sumberdaya manusia melalui pendidikan .Berdasarkan penjelasan diatas,menurut Husnul Chotimah (2008) ada beberapa kriteria guru ideal yang seharusnya dimiliki bangsa Indonesi di abad 21 ini; Pertama, dapat membagi waktu dengan baik  antara tugas guru dan tugas dalam keluarga serta dalam masyarakat. Kedua, rajin membaca . Ketiga, banyak menulis. Keempat, gemar melakukan penelitian ( Husnul Chotimah ;2008 dalam Jamal Ma’mur Asmani ;2009 halaman 20 ).

Inovator berpangkal dari kata Inovasi,dan menurut Rogers bahwa inovasi adalah “ an idea practice,or object perceived as new by the individual “ ( suatu gagasan, praktek, atau benda yang dianggap/dirasa baru oleh in dividu). Dengan definisi ini maka kata Perceived menjadi kata yang penting, karena mungkin suatu ide, praktek atau benda akan dianggap sebagai inovasi bagi sebagian orang,namun bagi sebagian lainnya tidak, tergantung apa yang dirasakan oleh individu terhadap ide, praktek atau benda tersebut. Oleh karena itu Guru sebagai Inovator harus tanggap terhadap perubahan terutama harus memahami dan menguasai strategi dan model pembelajaran serta harus mampu mengoperasikan Peralatan yang berbasis ICT  sehingga Proses pembelajaran berlangsung Efektif dan menyenangkan siswa sesuai dengan Karakter siswa

Adapun Pengertian Motivasi berpangkal dari kata “ motif” yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada didalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan.Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi Intern ( Kesiap siagaan ).

Pada intinya motivasi dapat diartikan sebagai berikut;

(1) dorongan yang timbul pada diri seseorang secara disadari atau tidak disadari ,untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu; (2) usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Dari  definisi motivasi tersebut diatas, menjadi jelas bahwa motivasi dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu;

1.      Motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang ( Motivasi Intrinsik).Misalnya; seseorang siswa tanpa disuruh oleh siapapun, setiap malam membaca buku pelajaran yang esok harinya akan dijelaskan oleh gurunya.

2.      Motivasi dari luar yang berupa usaha pembentuksn dari orang lain ( Motivasi Ekstrinsik). Misalnya seorang siswa yang biasanya kurang rajin belajar kemudian menjadi rajin belajar karena gurunya menjanjikan kepada siapa saja yang memperoleh nilai terbaik pada mata pelajaran yang diajarnya akan diberikan tiga seri buku cerita “Hari Porter”( Mohammad Asrori; 2007).

Aktivitas guru untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan proses belajar siswa berlangsung optimal disebut dengan kegiatan pembelajaran. Dengan kata lain pembelajaran adalah proses membuat orang belajar.Sedang pengertian belajar adalah merupakan suatu aktifitas mental atau psikis yang berlangsung selama interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan  dalam pengetahuan,pemahaman, keterampilan dan nilai-nilai sikap. Seseorang dapat dikatakan telah mengalami proses belajar apabila dalam dirinya telah terjadi perubahan Kognitif dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, perubahan Afektif dan Psikomotor sehingga sikap dan perbuatannya semakin hari semakin meningkat kearah yang lebih maju dan positif..

Menurut ahli Ilmu jiwa, dijelaskan bahwa dalam motivasi itu ada hierarki, maksudnya motivasi itu ada tingkatan-tingkatannya yakni dari bawah ke atas. Dalam hal ini ada beberapa teori tentang motivasi yang selalu bergayut dengan soal kebutuhan, yaitu :

  • Kebutuhan fisiologis
  • Kebutuhan akan keamanan
  • Kebutuhan akan cinta dan kasih
  • Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri.

Disamping itu ada teori lain yang perlu diketahui;

1.      Teori Insting; menurut teori ini tindakan manusia diasumsikan seperti tingkah jenis binatang dimana tindakan manusia disamaakan dengan Insting (  pembawaan ) dalam memberikan respons terhadap adanya kebutuhan seolah-olah tanpa dipelajari. Tokoh dari teori ini adalah Mc.Dougall.

2.      Teori Fisiologis ; menurut teori ini semua tindakan manusia itu berakar pada usaha memenuhi kepuasan dan kebutuhan organic atau kebutuhan untuk kepentingan fisik.

3.      Teori Psikoanalitik ; teori ini mirip dengan teori Insting, tetapi lebih ditekankan pada unsure-unsur kejiwaan yang ada pada diri manusia, bahwa setiap tindakan manusia karena ada unsure pribadi manusia yakni id dan ego. Tokoh dari teori ini adalah Freud.

B.Inovasi  Guru dalam memotivasi belajar siswa

Peranan guru sebagai pengelola proses belajar mengajar harus terlaksana dengan baik. Oleh karena itu seorang guru perlu memiliki pengetahuan dan pemahaman berbagai prinsip belajar khususnya prinsip belajar yang berorientasi pada siswa. Apapun yang dipelajari siswa, maka siswalah yang harus belajar  bukan orang lain, untuk itu siswa harus aktif; setiap siswa belajar sesuai dengan kemampuannya, setiap siswa akan belajar lebih baik apabila memperoleh penguatan langsung pada setiap langkah yang dilakukan selama proses belajar terjadi.

Penguasaan yang sempurna dari setiap langkah yang dilakukan siswa akan membuat proses belajar lebih berarti, dan seorang siswa akan lebih meningkat lagi motivasinya apabila diberi tanggung jawab serta kepercayaan penuh atas belajarnya ( Pakde Sofa posted on januari 30, 2009).

Agar seorang guru dapat berperan secara optimal maka terlebih dahulu harus memahami Fungsinya. Adapun Fungsi seorang guru adalah sebagai berikut;

1.      Sebagai pendidik dalam mengajarkan ilmu kepada siswa

2.      Sebagai Pembina dan Fasilitator dalam mengelola kehidupan anak sesuai dengan minat dan bakatnya

3.      Sebagai orang tua disekolah dalam hubungan emosional dengan siswa

4.      Sebagai Bapak/Ibu spiritual dalam mendidik Ruhani siswa

5.      Sebagai pemimpin dan Motivator dalam membimbing masa depan siswa.

6.      Sebagai Administrator yang harus mendata Identitas dan hasil belajar siswa

7.      Sebagai Evaluator yang harus mengkaji kelemahan,kekuatan,peluang,tantangan sehingga dapat merumuskan suatu solusi yang tetap demi perbaikan dimasa depan.

Sedangkan kriteria untuk menjadi Guru yang baik adalah sebagai berikut;

1.      Al alim ( memiliki Ilmu) ;diantaranya meliputi Ilmu syariat, Ilmu pengetahuan, Psikologi dan harus mengetahui kesiapan,kemampuan dan potensi siswa serta keadaan lingkungan siswa.

2.      Syahsiyah nawa’iyah ( Pribadi berkualitas)

a.       Jauh lebih berkualitas dari siswa

b.      Lebih kokoh dalam bertindak dan berperilaku ( Berakhlak )

c.       Bersahabat.

3.      Qudroh ‘Alattarbiyah( kemampuan mendidik); yaitu mampu sebagai pribadi yang pantas ditiru dan mampu mentransfer Ilmu serta mampu menggali potensi orang lain.

4.      Qodroh ‘Alal Qiyadiyah (kemampuan memimpin); yaitu mampu memotivasi, mempengaruhi, membujuk, mengarahkan dan membimbing serta mampu memberdayakan dalam kehidupan.

5.      Qodroh “Alal mutaba’ah ( Kemampuan mengawasi); yaitu mampu mengawasi perkembangan dan pertumbuhan serta kompetensi siswa, mampu menganalisa hambatan-hambatan yang dihadapi sekaligus mampu mencarikan solusinya ( Suryahadi,S.H ; 2009).

Berdasarkan Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang” Guru dan Dosen”, maka sebagai guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi ;

1.      Kompetensi pribadi

2.      Kompetensi pedagogis

3.      Kompetensi profesional

4.      Kompetensi sosial.

Guru yang telah memiliki empat kompetensi maka layak disebut sebagai guru Profesional yang harus bisa melaksanakan Fungsi Motivasi kepada siswa. Menurut Oemar Hamalik ( 2002) ada tiga fungsi motivasi :

1.      Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepas energy. Motivasi dalam hal ini merupakan langkah penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

2.      Menentukan arah perbuatan ,yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat member arah dalam kegiatan sesuai dengan rumusan tujuan.

3.      Menyeleksi perbuatan, yakni menetukan perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Adapun bentuk dan cara menumbuhkan  motivasi belajar siswa disekolah adalah sebagai berikut;

1.      Memberi angka dan menjelaskan tujuan belajar kepada siswa

2.      Memberi hadiah kepada siswa yang berprestasi

3.      Menyelenggarakan kompetisi / persaingan yang sehat

4.      Memberi Ulangan

5.      Menyampaikan hasil ulangan kepada siswa

6.      Member pujian yang realistis dan bersifat membangun

7.      Memberi hukuman yang mendidik sehingga siswa dapat merubah diri

8.      Membangkitkan hasrat untuk belajar dari kegagalan dan pengalaman

9.      Menumbuhkan minat sesuai dengan hobi dan kegemarannya

10.  Membantu dalam meraih Tujuan Hidup atau cita-cita yang dimiliki siswa.

C. Motivasi dalam pembelajaran dikelas

Secara alami, motivasi siswa sesungguhnya berkaitan erat dengan keinginan siswa untuk terlibat dalam proses pembelajaran.Motivasi sangat diperlukan bagi terciptanya proses pembelajaran dikelas secara efektif. Motivasi memiliki peranan yang sangat penting dalam pembelajaran, baik dalam proses maupun dalam pencapaian hasil. Seorang siswa yang memiliiki motivasi yang tinggi ,maka pada umumnya mampu meraih keberhasilan dalam proses maupun output pembelajarannya.

Dalam pembelajaran dikelas bisa berkembang dua situasi yang berbeda berkaitan dengan motivasi siswa , bila siswa yang dihadapi sebagian besar memiliki motivasi yang tinggi dalambelajar maka otomatis seorang guru akan merasa bersemangat, sebaliknya bila yang dihadapi yang dihadapi siswa yang kurang memiliki motivasi terhadap pelajaran , maka guru akan merasa kecewa dan kurang bersemangat dalam memberikan pelajaran di kelas.

Oleh karena itu guru dituntut mampu mengkreasi berbagai cara agar motivasi siswa dapat muncul dan berkembang dengan baik. Ericksen  (1998: 3 dalam mohammad Asrori 2007: 184) menegaskan ; “ Effective learning in the classroom depends on the teacher s ability…….. to maintain the interest that brought students to the course in the first place.

Ada sejumlah indikator untuk mengetahui siswa yang memiliki motivasi dalam proses pembelajaran diantaranya adalah:

1.      Memiliki gairah yang tinggi

2.      Penuh semangat

3.      Memiliki rasa penassaran atau rasa ingin tahu yang tinggi

4.      Mampu “ jalan sendiri “ ketika guru meminta siswa mengerjakan sesuatu

5.      Memiliki rasa percaya diri

6.      Memiliki daya konsentrasi yang lebih tinggi

7.      Kesulitan dianggap sebagai tantangan yang harus diatasi

8.      Memiliki kesabaran dan daya juang yang tinggi.

Jika delapan indicator tersebut diatas  yang muncul dan berkembang dalam proses pembelajaran dikelas, maka guru akan merasa enak dan antusias dalam menyelenggarakan proses pembelajaran.

Namun demikian terkadang keadaan sebaliknya yang  ditemukan, dimana sebagian siswa memiliki motivasi yang rendah, yaitu;

1.      Perhatian terhadap pelajaran kurang

2.      Semangat juang rendah

3.      Mengerjakan sesuatu merasa seperti diminta membawa beban berat

4.      Sulit untuk bisa “ jalan sendiri” ketika diberi tugas

5.      Memiliki ketergantungan kepada orang lain

6.      Mereka bisa jalan kalau sudah dipaksa.

7.      Daya konsentrasi kurang, secara fisik ia berada dikelas , namun pikirannya mungkin diluar kelas

8.      Mereka cenderung menjadi pembuat kegaduhan

9.      Mudah berkeluh kesah dan pesimis ketika menghadapi kesulitan.

Walaupun dalam kenyataannya seorang guru selalu menghadapi siswa yang memiliki motivasi rendah , namun seorang guru yang professional tidak boleh kehilangan akal dan harus Inovatif untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, hal ini dapat dilakukan melalui kegiatan yang bersifat” Ice Breaking” ( pencairan suasana ) melalui penayangan gambar Lucu, atau diberikan cerita-cerita lucu ( Humor ), bahkan bisa diselingi dengan Nyanyian  serta permainan ( Game ). Bila sebagian besar siswa memiliki motivasi yang tinggi , maka guru harus tetap memberikan pembinaan, sebab ada kemungkinan motivasi siswa mengalami grafik  naik-turun ( Fluktuatif).

D.Aspek motivasi dalam perencanaan pembelajaran

Setiap perbuatan termasuk perbuatan belajar didorong oleh sesuatu atau beberapa motif. Motif biasa juga disebut dorongan atau kebutuhan, merupakan suatu tenaga yang berada pada diri individu atau siswa yang mendorongnya untuk berbuat mencapai suatu tujuan.

Tenaga pendorong atau motif pada seseorang mungkin cukup besar, sehingga tanpa motivasi dari luar dia sudah bisa berbuat. Orang atau siswa tersebut disebut memiliki motif Internal yang besar.pada orang atau siswa lain motivasinya kecil sekali sehingga membutuhkan motivasi dari luar, yaitu dari guru, orang tua,saudara dan teman sebaya.

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan guru dalam perencanaan pembelajaran untuk membangkitkan belajar siswa yaitu ; (1) membuat persiapan untuk menggunakan cara atau metode dan media mengajar yang bervariasi, sehingg kebosanan siswa dapat dikurangi atau dihilangkan. (2) Merencanakan dan memilih bahan yang menarik minat dan dibutuhkan oleh siswa. (3) memberikan sasaran antara , sasaran akhir belajar adalah Naik kelas atau Lulus Ujian. Sasaran akhir baru dicapai pada akhir tahun, sehingga untuk membangkitkan motivasi belajar diadakan sasaran antara seperti Ulangan harian, Ujian tengah semester dan Kuis serta ulangan akhir semester. (4) Memberikan kesempatan untuk sukses terutama bagi siswa yang memiliki kemampuan ( daya serap) rendah harus lebih diperhatikan dalam penyelesaian soal-soal yang dianggap rumit, selanjutnya mereka harus diyakinkan bahwa Kesuksesan itu bukan milik murid yang pandai saja, namun sesuatu yang mungkin untuk siapa saja yang belajar sungguh-sungguh.( 5) menciptakan belajar yang menyenangkan , jauh dari Intimidasi dan pemaksaan.(6) Dianjurkan untuk membaca buku penunjang terutama buku yang memuat kisah-kisah orang sukses.(7) Guru harus banyak memberikan contoh langsung melalui perbuatan bukan hanya sekedar kata-kata dan teori.

 

BAB III

P E N U T U P

A. Simpulan

Dalam kegiatan belajar mengajar di kelas maka guru harus tetap berusaha  tampil semangat dan berpenampilan menarik serta memahami tugas dan fungsinya sebagai sebagai pengerak perubahan dalam kehidupan masyarakat menuju penciptaan Sumber daya manusia yang berkwalitas.Selanjutnya Guru sebagai motivator harus dapat membangkitkan gairah belajar siswa.    bila terjadi penurunan semangat belajar siswa maka secara Konsisten  senantiasa memompa semangat belajar siswa dengan menerapkan metode dan model pembelajaran yang Inovatif, Kreatif dan menyenangkan.

Seorang guru harus mau memberikan berbagai Pujian ( Riward) kepada siswa yang rajin dan berprestasi serta harus berani memberikan sanksi (Punishment) kepada siswa yang kurang patuh dalam mengikuti aturan main disekolah.

B. Saran

Seorang guru dituntut memilki pengetahuan yang lebih, dibandingkan dengan siswanya dan harus Tampil bergairah didalam kelas sehingga dengan sendirinya siswa akan senang mengikuti pelajaran yang akan disampaikan oleh guru.Selanjutnya Guru harus mau memanfaatkan sumber belajar yang ber basis ICT dan berbasis Web.

 

Posted in Inovasi Pendidikan | Leave a comment

Konsep Proposal Tesis Gue



BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara Guru dengan siswa. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatunya guna kepentingan pengajaran.

Suatu pengajaran memerlukan Pengembangan  metode yang bervariasi yang dilakukan oleh guru .Metode adalah suatu cara atau strategi yang tidak bisa ditinggalkan dalam proses belajar mengajar dan metode yang digunakan tidak boleh sembarangan melainkan sesuai dengan tujuan pembelajaran.penggunaan metode yang bervariasi akan   dirasakan lebih menarik apabila didukung dengan ketersediaan   media presentasi Power Point merupakan aplikasi presentasi yang popular dan sudah umum digunakan disekolah .

Walaupun media Presentasi Power Point tidak dirancang secara khusus sebagai alat pembelajaran di sekolah, namun kegunaannya dapat membantu proses pembelajaran di sekolah. Suatu pembelajaran akan lebih menarik lagi apabila seorang guru dan siswa yang menggunakan media tersebut tersebut berupaya memecahkan persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari yang ada kaitannya dengan mata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan di sekolah menengah Atas (SMA).

Oleh karena itu peneliti berkeyakinan bahwa model pembelajaran berdasarkan masalah ( Problem based Learning) dengan menggunakan media presentasi Power Point sangat yang tepat untuk diterapkan pada Proses pembelajaran PKn . Sebab model dan media  ini mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar yang tidak monoton, karena adanya interaksi yang positif dalam kegiatan saling bertukar informasi,dan saling bertukar ide dalam berbagai aspek .u

Masalah-masalah yang kita hadapi memerlukan solusi, dengan pendekatan Model pembelajaran Berbasis masalah dapat membiasakan Guru dan siswa tidak terjebak pada solusi yang Narrow minded , solusi atas pikiran yang sempit. Problem based learning ( PBL) membiasakan kita untuk melihat opsi-opsi yang terbuka luas, sehingga dengan lebih banyak opsi Solusi, maka kemungkinan untuk berhasil mengatasi masalah juga akan semakin besar.

Pendekatan PBL ini bersumber dari dimensi kreatif seseorang.Saat ini dengan dukungan ilmu Psikologi pendidikan banyak terungkap betapa setiap individu memiliki potensi yang kreatif yang begitu besar dalam dirinya.

Pendekatan PBL dapat menyeimbangkan pemanfaatan otak kanan dan otak kirinya. Otak kanan kiri cenderung berfikir konvergen ( hanya ada satu solusi yang benar) sedangkan otak kanan memiliki kecenderungan berfikir divergen ( dapat melihat berbagai kemungkinan solusi), sebelum akhirnya melakukan analisis untuk sebuah solusi terbaik.

Pada kenyataannya saat ini belum semua guru memahami dan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan media presentasi Power point,baik disebabkan oleh kurangnya keinginan dan motivasi untuk meningkatkan kualitas keilmuan maupun karena kurangnya dukungan sistem, biaya dan sarana untuk meningkatkan kualitas keilmuan Guru.

Dalam pelaksanaan sehari –hari seorang Guru diharapkan dapat melakukan kombinasi dari dua atau beberapa macam model pembelajaran dengan media yang yang menarik, sehingga dapat menggairahkan peserta didik untuk berfkir kritis dan analitis. Dengan model dan media alternatif ini,diharapkan siswa tidak sukar untuk mencapai tujuan pengajaran,karena bukan guru yang memaksakan anak didik untuk mencapai tujuan, tetapi anak didiklah dengan sadar untuk mencapai tujuan secara Individual dan kelompok.

Dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) memuat materi yang berkaitan dengan kehidupan individu dan masyarakat dalam suatu Negara. Negara dimaksud adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam praktek kehidupan sehari-hari Guru PKn dan siswa selalu melihat dan mendapatkan informasi segala persoalan politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, dan persoalan hak asasi manusia yang dihadapi bangsa Indonesia. Berkenaan dengan persoalan-persoalan tersebut, tentunya Guru bersama siswa harus mau berfikir kritis,analitis , sehingga sedikit demi sedikit turut mengupayakan suatu pemecahan masalah yang dihadapi oleh diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.

Paradigma yang perlu dibangun saat ini adalah Guru  bertindak sebagai fasilitator,bukan sebagai satu-satunya sumber belajar dikelas . Oleh karena itu dengan bantuan media pembelajaran yang modern dapat di upayakan proses pembelajaran dikelas lebih menarik dan selanjutnya akan mengarah pada pembelajaran berbasis siswa sehingga siswa akan terbiasa memecahkan persoalan bangsa ini dengan alat penunjang dan media pembelajaran yang cocok.

Berdasarkan uraian tersebut diatas maka penulis sebagai Guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ( PKn ) tertarik untuk mengadakan penelitian yang dengan judul Tesis ; “ Pengembangan model pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan media presentasi power point dalam meningkatkan berfikir kritis siswa pada mata pelajaran PKn“ ( studi penelitian pada SMA Al Munawwaroh Kota Cilegon ).Peneliti memilih Sekolah tersebut diatas sebagai tempat penelitian, karena secara kebetulan ditugaskan oleh pemerintah daerah kota Cilegon sebagai Guru PKn di SMA Al munawwaroh, sehingga dapat memudahkan perolehan data.

B.  Fokus Penelitian

Penelitian ini adalah bersifat penelitian pengembangan (research an development) terfokus pada pembelajaran berdasarkan masalah dengan media presentasi power point pada mata pelajaran PKn di SMA Al- Munawwaroh Kota Cilegon sehingga dapat diketahui hal-hal sebagai berikut :

a.Bagaimana pengembangan  model pembelajaran berdasarkan masalah dengan menggunakan media presentasi power point pada mata pelajaran PKn di SMA Al- Munawwaroh .

b.Bagaimana Efektifitas model pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan mendia presentasi power point dapat mengefektifkan  pada mata pelajaran PKn di SMA Al Munawwaroh.

c.Bagaimana hasil model pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan media presentasi power point  dapat meningkatkan berfikir kritis siswa pada mata pelajaran PKn.

C.Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Dapat mendeskripsikan pengembangan model pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan media Presentasi dalam pembelajaran PKn di SMA Al- Munawwaroh.
  2. Dapat mengetahui Efektifitas model pembelajaran berdasarkan masalah dengan menggunakan media slide dalam pembelajaran PKn di SMA Al- Munawwaroh.

 

  1. Dapat memperoleh data hasil penerapan Model pembelajaran berdasarkan masalah dengan menggunakan media slide, sehingga dapat meningkatkan daya berfikir kritis siswa Kls XII SMA Al Munawwaroh Kota Cilegon.

D.Manfaat  Penelitian

Hasil penelitian ini secara teoritis diharapkan bermanfaat bagi Peneliti atau berguna bagi Guru mata pelajaran PKn untuk menambah pengetahuan sehingga dalam melakukan kegiatan belajar mengajar di kelas dapat meningkatkan  Daya fikir kritis siswa, sehingga siswa terbiasa dan siap mental menghadapi masalah secara jernih dan mampu menemukan solusinya.

Selanjutnya penelitian ini diharapkan secara praktis bermanfaat sebagai salah satu  solusi alternatif bagi Guru pengembangan model pembelajaran di Indonesia,sehingga dapat disosialisasikan oleh  pemerintah melalui kementerian Pendidikan Nasional serta dapat ditindak lanjuti oleh Lembaga pendidikan Formal dan Non formal.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.Penelitian yang relevan

Penelitian mengenai Pembelajaran berdasarkan masalah pernah dilakukan  mahasiswa terdahulu diantaranya adalah oleh saudara Ahmad EkoSugianto pada Sekolah pasca sarjana Universitas Pendididkan Indonesia Bandung, Program studi Pengembangan kurikulum dengan judul Tesis “ pengembangan Model Pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan hasil belajar Siswa ( penelitian dan pengembangan dalam mata pelajaran Ekonomi pada Madrasah Aliyah Di Kota Malang)”

Bahwa pembelajaran berdasarkan masalah adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecahan atau jawaban oleh siswa.

Suatu pertanyaan yang diajukan dapat dikatakan sebagai suatu permasalahan apabila pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab langsung ,sebab masih harus menyeleksi informasi yang diperoleh. Jawaban yang diperoleh tentunya bukan merupakan jawaban yang rutin dan mekanistik, namun memerlukan strategi dengan menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Pertanyaan yang tadinya merupakan suatu permasalahan,apabila telah selesai, baik diselesaikan sendiri maupun dengan bantuan orang lain, atau bantuan dari sumber belajar lain, maka bukan lagi sebagai suatu permasalahan.Hal ini berarti suatu pertanyaan dapat dianggap sebagai suatu permasalahan apabila pertanyaan tersebut belum adanya upaya penyelesaian lebih lanjut.Selain itu suatu pertanyaan merupakan suatu permasalahan apabila pertanyaan tersebut merupakan tantangan untuk menjawabnya.Dengan kata lain suatu pertanyaan akan menjadi suatu masalah bagi seseorang jika orang tersebut tidak memiliki aturan atau hukum tertentu yang segera dapat dipergunakan untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.

B.Landasan Teori

Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan,keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi.jadi hakekatnya belajar adalah perubahan atau perkembangan yang lebih meningkat dan lebih bermartabat.

Pembelajaran berbasis masalah , merupakan inovasi dalam pembelajaran,karena dalam Pembelajaran berbasis masalah kemampuan berfikir siswa betul-betul dioptimalkan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan ,mengasah ,menguji dan mengembangkan kemampuan berfikirnya secara berkesinambungan.

Pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran yang relevan dengan tuntutan abad 21, karena pendidikan abad 21 berhubungan dengan permasalahan baru yang ada didunia nyata. Oleh karena itu pendekatan PBM berkaitan dengan intelegensi dari dalam diri Individu yang berada dalam sebuah kelompok orang, atau lingkungan untuk memecahkan masalah yang bermakna, relevan, dan kontekstual  ; Tan 2000 ( Rusman 2010).

Kurikulum pembelajaran berbasis masalah membantu meningkatkan perkembangan keterampilan belajar sepanjang hayat dalam pola pikir yang terbuka ,reflektif,kritis dan belajar aktif ; Margetson 1994 ( Rusman 2010).

Dari segi paedagogis,pembelajaran berbasis masalah didasarkan pada teori belajar konstruktivisme , Schmidt,1993 & Duffy,1995,Hendry & Murphy,1995 (Rusman,2010:248) dengan ciri  sebagai berikut:

  1. Pemahaman diperoleh dari interaksi dengan skenario permasalahan dan lingkungan belajar.
  2. .Pergulatan dengan masalah dan proses inkuiri masalah menciptakan disonansi kognitif yang menstimulasi belajar.
  3. Pengetahuan terjadi melalui proses kolaborasi negosiasi social dan evaluasi terhadap keberadaan sebuah sudut pandang.

Karakteristik pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut;

1.permasalahan menjadi starting point dalam belajar

2.permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada didunia nyata yang tidak terstruktur.

3.Permasalahan membutuhkan perspektif ganda ( multiple perspective);

4.permasalahan,menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa,sikap dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar.

5.belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama

6.pemanfataan sumber pengetahuan yang beragam, penggunaannya, dan evaluasi sumber informasi merupakan proses yang esensial dalam PBM;

7.Belajar adalah kolaboratif, komunikatif, dan kooperatif;

8.Pengembangan keterampilan inkuiri dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan;

9.Keterbukaan proses PBM meliputi sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar; dan

10.PBM melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar.

Studi kasus pembelajaran Berbasis Masalah , meliputi:

1.Penyajian masalah

2.Menggerakkan inkuiri

3.Langkah-langkah PBM; yaitu analisis inisial,mengangkat isu-isu belajar; literasi kemandirian dan kolaborasi pemecahan masalah, integrasi pengetahuan yang baru, penyajian solusi dan evaluasi.

Menurut John Dewey belajar memecahkan masalah itu berlangsung sebagai berikut; Individu menyadari masalah bila ia dihadapkan kepada situasi keraguan dan kekaburan, sehingga merasakan adanya semacam kesulitan.

Langkah-langkah yang memecahkan masalah adalah sebagai berikut:

1.Merumuskan dan menegaskan masalah

Individu melokalisasi letak sumber kesulitan untuk memungkinkan mencari jalan pemecahannya.Ia menandai aspek mana yang mungkin dipecahkan dengan menggunakan prinsip atau dalil serta kaidah yang diketahuinya sebagai pegangan.

2.Mencari fakta Pendukung dan merumuskan Hipotesis

Individu menghimpun berbagai informasi yang relevan termasuk pengalaman orang lain dalam menghadapi pemecahan masalah yang serupa. Kemudian mengidentifikasi berbagai alternative kemungkinan pemecahannya yang dapat dirumuskan sebagai pertanyaan jawaban sementara yang memerlukan pembuktian ( hipotesis).

3.Mengevaluasi Alternatif Pemecahan yang dikembangkan

Setiap alternative pemecahan masalah ditimbang dari segi untung ruginya, selanjutnya dilakukan pengambilan keputusan memilih alternative yang dipandang paling mungkin( feasible) dan menguntungkan.

4.Mengadakan Pengujian atau Verifikasi

Mengadakan pengujian atau verifikasi secara eksperimental alternatif pemecahan yang dipilih,dipraktekkan, atau dilaksanakan. Dari hasil pelaksanaan itu diperoleh informasi untuk membuktikan benar atau tidaknya hasil penelitian yang telah dirumuskan.

Dalam pembelajaran berdasarkan masalah sangat menunjang dalam proses berfikir  kritis siswa, hingga memungkinkan siswa  dapat mencari kebenaran dari suatu kejadian dan dari informasi yang didapatkan setiap saat.

Selanjutnya  perlu kita ketahui kelebihan dan kekurangannya pembelajaran berdasarkan masalah (problem Solving) sebagaimana tersebut dibawah ini.

Kelebihan pembelajaran berdasarkan masalah adalah sebagai berikut;

  1. Pembelajaran berdasarkan masalah dapat membuat pendidikan disekolah menjadi relevan dengan kehidupan, khususnya dengan dunia kerja.
  2. Dapat membiasakan para siswa menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil, apabila menghadapi permasalahan didalam kehidupan dalam keluarga, dan masyarakat.
  3. merangsang pengembangan kemampuan berfikir siswa secara kreatif dan menyeluruh, karena dalam proses belajarnya siswa banyak yang melakukan proses mental dengan menyoroti permasalahan dari berbagai segi dalam rangka mencari pemecahannya.

Disamping kelebihan terdapat kekurangan pembelajaran berdasarkan masalah;

  1. 1.Harus menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berfikir siswa, tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki siswa, sungguh sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan.
  2. Sering memerlukan waktu yang cukup banyak dan sering terpaksa mengambil waktu pelajaran lain.
  3. Memerlukan berbagai sumber belajar siswa.

Dengan melihat uraian diatas maka setiap Guru harus memperhatikan kemampuan  siswa tiap tingkatan kelas dan harus memahami bahwa masing-masing siswa tentunya akan memiliki cara yang berbeda-beda dalam menyelesaikan suatu masalah tergantung informasi dan persoalan yang disodorkan oleh Dewan Guru disekolah atau sesuai dengan kondisi nyata yang ditemukan dilapangan.

Pengertian Media secara etimologi berasal dari bahasa latin “ Medium “ yang mempunyai arti perantara atau pengantar.Saat ini telah banyak pakar dan organisasi yang memberikan batasan atau pengertian media, diantaranya adalah sebagai berikut ;

  • Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Jadi media adalah perluasan dari Guru; Schram,1977 ( Rudi Susilana 2007: 5 )
  • Sarana komunikasi dalam bentuk cetak, maupun Audio Visual, termasuk teknologi perangkat kerasnya ; NEA, 1969 ( Rudi Susilana 2007 : 5 )
  • Segala bentuk dan saluran yang dipergunakan untuk proses penyaluran pesan ; AECT, 1977 ( Rudi Susilana 2007 : 5).

Adapun Power Point adalah salah satu program Software yang dirancang khusus untuk mampu menampilkan program multimedia dengan menarik, mudah dalam pembuatan, mudah dalam penggunaan dan relative murah, karena tidak membutuhkan bahan baku selain alat untuk penyimpanan data (  datastorage).

Power point dapat digunakan melalui beberapa tipe penggunaan;

  1. Personal Presentation ; pada umumnya power point digunakan untuk presentasi dalam Classical learning. Seperti kuliah, training, seminar, work shop, dan lain-lain. Pada penyajian ini power point sebagai alat bantu bagi Instruktur / Guru untuk presentasi menyampaikan materi dengan bantuan Media power Point. Dalam hal ini control pembelajaran terletak pada guru atau Instruktur.
  2. Stand Alone ; Pada pola penyajian ini, power point dapat dirancang khusus untuk pembelajaran individual yang bersifat interaktif, meskipun kadar interaktifnya tidak terlalu tinggi, namun power point mampu menampilkan feedback yang sudah deprogram.
  3. Web Based ; pada pola ini power point dapat diformat menjadi file web     ( html)  sehingga program yang muncul berupa browser yang dapat menampilkan internet.

 

C.Kerangka Pikir

Dalam upaya menigkatkan mutu pendidikan terdapat beberapa unsur terkait yang harus dipenuhi, yaitu;

1.Sumberdaya manusia ( Kepala Sekolah,Guru dan karyawan)

2.Dukungan Sarana –prasarana dan Fasilitas pembiayaan yang berasal dari sumbangan masyarakat maupun yang berasal dari Subsidi pemerintah.

3.Keaktifan seluruh siswa baik secara mental,Fisik dan Sosial ekonomi.

4.Dukungan dan pengawasan orang tua /wali terhadap proses pendidikan anak.

5.Model dan metode Pembelajaran serta media yang digunakan oleh Guru.

6.Pemahaman seluruh elemen terhadap Tujuan pendidikan Nasional.

7.Lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.

Bila 7 faktor tersebut diatas dapat dipenuhi maka Pembelajaran akan lebih bermakna ( meaning full),sehingga siswa tidak hanya belajar untuk mengetahui dan mengatasi sesuatu (learning to know), tetapi siswa harus mampu melakukan suatu  ( learning to do ) dan belajar menjiwai  siapa dirinya ( learning to be) , serta belajar hidup bersama ( learning to live together).

Pengembangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran harus selalu dikembangkan melalui kegiatan yang bersifat Inovatif dengan dukungan teknologi, begitu juga Guru sebagai sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan belajar yang kreatif bagi kegiatan peserta didik dan penyelenggara pendidikan harus menyediakan media yang akan digunakan dalam poses pembelajaran PKn.

Dalam pembelajaran PKn ,maka setiap peserta didik harus dilatih menghadapi berbagai persoalan bangsa dan harus mencari Solusi berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari sekolah maupun dari Sumber Informasi lainnya, seperti Surat kabar,Majalah,Modul,Televisi dan Radio serta Internet.

.Diera Globalisasi ini seorang Guru dituntut agar lebih Profesional dalam melaksanakan pembelajaran ,sehingga Ia harus memiliki 4 kompetensi yaitu;

1.Kompetensi Pedagogik ( menguasai Materi pelajaran)

2.Kompetensi Kepribadian yang baik ( Disiplin,sabar,penyayang,berwibawa )

3.Kompetensi Profesional ( mampu menyampaikan pelajaran dengan pilihan Model dan metode yang tepat bagi peserta didik dan dapat meningkatkan prestasi peserta didik ).

4.kompetensi Sosial ( pandai berkomunikasi atau bergaul dengan berbagai kalangan masyarakat ).

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

Pendekatan Penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian Kualitatif yang bersifat pengembangan ( Research and Development ) atau biasa disingkat dengan R&D. penelitian pengembangan bertujuan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran, seperti silabus, bahan ajar, media, modul praktikum, latihan kerja siswa, alat mengukur kemajuan belajar, alat mengukur hasil belajar atau prestasi. Yang melatar belakangi perlunya dilakukan penelitian pengembangan adalah adanya masalah yang terkait dengan model  pembelajaran yang perlu dikembangkan dengan berbantuan computer dan  yang saat ini dikenal dengan media presentasi. Masalah ini ditemui oleh peneliti dari hasil pengamatan selama mengajar atau dari hasil needs assesment.

Adapun metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian kualitatif .

Penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif yaitu pengamatan, wawancara,atau penelaahan dokumen.Metode ini digunakan karena beberapa pertimbangan; Pertama,penyesuaian penelitian kualitatif akan mudah dilaksanakan apabila berhadapan dengan kenyataan jamak. Kedua,menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan RespondeN. Ketiga, lebih peka dan dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.

B. Desain Penelitian

Meneliti efektifitas model pembelajaran berdasarkan masalah dengan menggunakan media Slide pada mata pelajaran PKn di SMA Al-Munawwaroh kota cilegon, sehingg para siswanya mampu berfikir kritis, logis sistematis dan kontekstual .

Model pembelajaran berdasarkan masalah ( Problem Based Learning) bukan hanya sekedar model mengajar, tetapi juga merupakan suatu metode berfikir, sebab dalam model problem based Learning dapat menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.

Penggunaan metode ini  dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut;

a.Adanya masalah yang jelasuntuk dipecahkan.Masalah ini harus tumbuh dari siswa sesuai dengan taraf kemampuannya.

b.Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut.misalnya, dengan jalan membaca buku-buku,meneliti,bertanya,berdiskusi dan membuka Website atau situs Internet.

c.Menetapkan jawaban sementara dari masalah  berdasarkan data yang telah diperoleh pada langkah kedua diatas

d.Menguji kebenaran jawaban sementara sehingga jawaban dianggap benar-benar cocok atau tidak sesuai sama sekali.

e.Menarik kesimpulan.

C. Lokasi Penelitian.

Adapun peneliti akan melakukan penelitian disuatu sekolah swasta yang ada di Kota Cilegon yaitu SMA Al-Munawwaroh, dan beralamat di; Jalan  H. Leman Pintu Air Nomor. 45 Gerem Raya Kelurahan Gerem Kecamatan Grogol Kota Cilegon, Provinsi Banten.

D. Jenis dan Sumber Data.

Sumber data dalam penelitian ini adalah kelasXI, XII SMA Al-Munawwaroh yang mencakup siswa, Guru mata pelajaran PKn , dan wakil kepala sekolah. Subjek data yang representatif sangat penting dalam menilai validitas penelitian ini. Sumber data yang representatif dalam arti jumlah individu yang dijadikan objek penelitian mewakili populasi. Objek penelitian yang digunakan adalah 2 kelas terdiri dari 4Rombel kelas XI,XII di SMA Al-Munawwaroh.

Dalam upaya memperoleh  sumber data yang dianggap paling baik ,adalah melalui metode penemuan sumber data secara acak atau yang dikenal dengan istilah random samples. Keunggulan metode ini adalah kemampuannya menghilangkan unsur subjektivitas dalam penentuan objek penelitian.

E.     Prosedur Pengumpulan Data.

 

F. Analisis Data

Analisis data merupakan salah satu rangkaian dalam kegiatan penelitian ini. Kegiatan menganalisis data sangat berkaitan dengan rangkaian kegiatan sebelumnya mulai dari jenis penelitian yang dipilih, rumusan masalah dan tujuan penelitian, jenis data, jumlah subjek coba, serta asumsi-asumsi teoritis yang melandasi kegiatan penelitian. Dengan demikian, dalam melakukan analisis data, rangkaian tahapan sebelumnya sangat diperhatikan sebagai rujukan agar penelitian ini dilaksanakan bersifat koheren, yaitu bertalian atau berhubungan dengan tahap-tahap penelitian yang lainnya.

Secara garis besar, pekerjan analisis data meliputi 3 langkah yaitu:

  1. Persiapan
  2. Tabulasi
  3. Penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian.

G. Tahap-tahap penelitian

Adapun tahap penelitian sebagai berikut:

  1. Tahap penelitian awal yaitu menentukan pokok permasalahan dalam pembelajaran PPKn, kemudian mencarai sebuah solusi
  2. Tahap Desain, merencanakan kajian dan analisis implikasi model pembelajaran Problem solving dengan menggunakan media presentasi pada pelajaran PPKn .
  3. Tahap uji coba, pada tahap ini dilakukan ujicoba model pembelajaran  dikelas XI, XII selanjutnya dianalisa apakah sudah fit atau perlu penyempurnaan.
  4. Tahap implementasi
  5. Tahap pelaporan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Eko Sugianto, 2008.  pengembangan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan hasil belajar siswaBandung; Sekolah Pasca Sarjana UPI

J.Moleong, Lexy, 2005.Penelitian Kualitatif, Bandung; PT.Remaja Rosdakarya

Mulyasa,HE,2009.Implementasi Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan,

Jakarta; Bumi Aksara.

Nasution dan Syaiful Bahri Djamarah,2008. Teknologi Pendidikan, Jakarta;

Bumi Aksara.

Rusman,2010.Model-model pembelajaran, Bandung; mulia Mandiri Pers.

Rusman,2009.Manajemen Kurikulum, Jakarta; Raja Grafindo Persada.

Rohani,Ahmad, 2004. Pengelolaan Pengajaran, Jakarta ; Rineka Cipta.

Rudi susilana Dkk,2007.Media Pembelajaran, Bandung ; CV.Wacana Prima

Sa’ud,Udin Saefudin,2008.Inovasi Pendidikan, Bandung; Alfabeta.

Warsita,Bambang,2008.Teknologi pembelajaran Landasan dan Aplikasinya,

Jakarta; Rineka Cipta

Wina ,Sanjaya,2009.Kurikulum dan pembelajaran  ,Bandung;Kencana Prenada Media Group.

Wina ,Sanjaya,2009.Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran,Bandung;

Kencana Prenada Media Group.

Wina ,Sanjaya,2009.Pembelajaran,Bandung;Strategi pembelajaran Berorientasi

Standar Proses pendidikan ,Bandung;Kencana Prenada Media Group.

Yamin,Martinis,2008. Profesionalisasi Guru & Implementasi KTSP,Jakarta;

Goung Persada Perss.

Zaim, Aswan,2006. Strategi Belajar Mengajar ,Jakarta; Rineka Cipta.

 

 

 

 

 

Posted in Inovasi Pendidikan | Leave a comment

Makalah

BAB I

PENDAHULULAN

1.1 Latar Belakang Masalah

praktisi pendidikan dapat dikelompokkan pada dua posisi, yaitu tenaga pendidik ( Guru) dan tenaga kependidikan( Tata Usaha).Dua kelompok ini mempunyai pandangan dan sikap yang tidak selalu sama dalam menyikapi perubahan, karena peran yang dimainkan dalam melaksanakan kegiatan pendidikan berbeda dan lingkungan kerja yang sering dijalani masing-masing juga berbeda, namun harus terjadi kolaborasi dalam memajukan Dunia pendidikan.

Pada prinsipnya  pendidikan harus diselenggarakan sebagai proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Dalam proses tersebut diperlukan Guru yang dapat memberikan keteladanan, membangun kemauan dan mampu berinovasi untuk melaksanakan pembelajaran yang menantang dan menyenangkan serta dapat menciptakan perubahan yang lebih baik.

Kondisi nyata saat ini masih ada guru yang merasa sudah puas dan bersifat pasif, mereka hanya melaksanakan tugas mengajar sesuai jadwal yang telah ditentukan dengan metode klasik dan model pembelajaran yang monoton, bahkan terkadang tanpa program.

Tipe Guru seperti ini masih berkutat pada posisi apa adanya, yakni kurang peduli dengan perubahan dan cenderung bersikap acuh dengan urusan Inovasi.

Persoalan birokrasi juga menciptakan hubungan kerja “ atasan-bawahan ‘ yang lambat laun menghilangkan kesejatian profesi guru yang seharusnya merdeka untuk menentukan berbagai aktifitas profesinya tanpa harus terbelenggu oleh juklak dan Juknis ( petunjuk pelaksanaan dan petunjuk tehnis) yang selama ini menjadi bagian dari budaya birokrat, sehingga guru menjadi tidak kreatif kalau hanya berfungsi sebagai operator atau tukang.

Bila ada rasa takut untuk mengadakan perubahan, pada akhirnya semakin memperkokoh kekuasaan birokrasi dengan menjadikan guru sebagai pegawai bawahan yang harus tunduk pada perintah atasan.

Saat ini kita masih menyaksikan bila ada guru memiliki keberanian untuk berbuat jujur,memiliki ide pembaharuan dan berani mengkritik atasannya yang tidak benar, maka dengan mudah ia akan mendapatkan tekanan dan dimutasi ke daerah pinggiran yang jauh dari akses  transportasi dan telekomunikasi.Pola pikir “atasan dan bawahan” terjadi pula dalam proses pembelajaran dikelas dimana peserta didik harus tunduk dan patuh kepada guru sesuai juklak dan Juknis atau atas nama kurikulum ( suparman,Kompas 2006).

Oleh karena itu sudah saatnya guru harus memiliki kreatifitas untuk melakukan difusi inovasi dalam perencanaan,pelaksanaan pembelajaran dan Evaluasi hasil belajar.

Demi mendukung kreatifitas guru maka semestinya setiap satuan pendidikan harus mengalokasikan anggaran untuk pengembangan dan peningkatan profesi guru agar terwujud sumber daya manusia Indonesia yang Unggul dan dapat bersaing dengan Negara lain.

1.2. Rumusan  Masalah

Kedudukan seorang guru sebagai agen perubahan selalu dituntut untuk melakukan  berbagai inovasi dalam proses pembelajaran,dalam penggunaan alat dan media, serta dalam memanfaatkan sumber belajar.

-          Apa dan Bagaimana Landasan teori Inovasi pendidikan

-          Bagaimana Guru  melakukan difusi Inovasi pembelajaran

-          Bagaimana Inovasi dan kemampuan guru dalam meningkatkan Sumber daya manusia di sekolah.

1.3.Batasan Masalah

Bila kita membahas masalah Inovasi maka cakupan dan tipenya begitu luas seperti Inovasi management,Inovasi Poduk , Inovasi Desain dan proses Asembling, inovasi pemasaran atau Promosi dan Inovasi Organisasi.

Oleh karena pada makalah ini penulis hanya membahas Inovasi yang berkaitan dengan Desain,metode dan model pembelajaran serta teknologi informasi yang dimanfaatkan dalam pembelajaran di sekolah menengah atas.

1.4.Tujuan Penulisan

Makalah ini ditulis dengan tujuan sebagai berikut;

1.      Memberikan informasi dan gambaran tentang landasan teori Inovasi pendidikan

2.      Dalam rangka melatih dan menambah pengetahuan tentang Inovasi yang dilakukan guru di sekolah melalui proses pembelajaran yang aktif , kreatif dan menyenangkan

3.      Sebagai syarat penunaian tugas UTS selaku mahasiswa semester dua pada Program pasca sarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa serang.

BAB II

PERANAN GURU DALAM MELAKSANAKAN DIFUSI INOVASI DISKOLAH

2.1. Landasan Teori Inovasi

Berbicara mengenai inovasi (pembaharuan) mengingatkan kita pada istilah invention dan discovery. Invention adalah penemuan sesuatu yang benar-benar baru artinya hasil karya manuasia. Discovery adalah penemuan sesuatu (benda yang sebenarnya telah ada sebelumnya. Dengan demikian, inovasi dapat diartikan usaha menemukan benda yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) invention dan discovery. Dalam kaitan ini Ibrahim (1989) mengatakan bahwa inovasi adalah penemuan yang dapat berupa sesuatu ide, barang, kejadian, metode yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat). Inovasi dapat berupa hasil dari invention atau discovery. Inovasi dilakukan dengan tujuan tertentu atau untuk  memecahkan masalah ((Subandiyah 1992:80). Sedangkan inovasi pendidikan dapat diartikan sebagai suatu perubahan yang baru, dan kualitatif berbeda dari hal (yang ada sebelumnya), serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan (Sa’ud, 2009:6).

Proses dan tahapan dalam perubahan atau pembaharuan ada kaitannya dengan masalah pengembangan (development), penyebaran (diffusion), diseminasi (dissemination), perencanaan (planning), adopsi (adoption), penerapan (implementation) dan evaluasi (evaluation).

Dalam bidang pendidikan, banyak usaha yang dilakukan untuk kegiatan yang sifatnya pembaruan atau inovasi pendidikan. Inovasi yang terjadi dalam bidang pendidikan tersebut antara lain dalam hal manajemen pendidikan, metodologi pengajaran, media, sumber belajar, pelatihan guru, implementasi kurikulum, dsb.

Ciri-ciri inovasi pendidikan dapat dikenal dengan beberapa identifikasi, namun menurut Ashby (1967) ada empat hal, yaitu:

  • Ketika masyarakat/orang tua mulai sibuk dengan peran keluar sehingga tugas pendidikan anak sebagian digeser dari orang tua pindah ke guru atau dari rumah ke sekolah.
  • Terjadi adopsi kata yang ditulis ke instruksi lisan.
  • Adanya penemuan alat untuk keperluan percetakan yang mengakibatkan ketersediaan buku lebih luas.
  • Adanya alat elektronika yang bermacam-macam (radio, telepon, TV, computer, LCD proyektor, perekan internet, LAN, dsb).

Keempat hal tersebut diatas telah menimbulkan banyak masalah. Untuk itulah kelima teknologi yang dibahas pada poin sebelumnya sangat membantu untuk solusi pemecahan. Perubahan pendidikan yang dinginkan sekolah sesuai visi dan misinya tentunya sangat tergantung pada lima teknologi tersebut yaitu sistem berfikir, sistem desain, ilmu pengetahuan yang berkualitas, manajemen.

Saat ini, sekolah negeri maupun swasta mulai berusaha keras untuk mengatur kembali sistem pendidikan mereka. Banyak program yang ditawarkan pada masyarakat, baik itu jurusan maupun status sekolah yaitu SSN, unggul, model, internasional, akselerasi dan model pusat sumber belajar .

Yang jelas, perubahan sekolah untuk menghadapi dunia global harus disiapkan dari unsur SDM yang berkualitas sehingga mampu berfikir membuat desain pendidikan, mempunyai kiat manajemen yang baik dan tidak gagap terhadap pendidikan. Jadi, dapat dikatakan bahwa antara inovasi pendidikan dengan teknologi pendidikan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Inovasi merupakan objek dan teknologi pendidikan merupakan subjeknya. Dalam inovasi pendidikan butuh SDM dan peralatan yang menunjang, sebaliknya SDM dan alat tidak akan berfungsi tanpa digunakan untuk tujuan yang pasti dan bermanfaat di masa datang.

2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inovasi Pendidikan

Lembaga pendidikan formal seperti Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, dan Perguruan Tinggi, adalah suatu subsistem dari sistem sosial. Jika terjadi perubahan dalam sistem sosial, maka lembaga pendidikan formal tersebut juga akan mengalami perubahan, dan sebaliknya jika lembaga pendidikan mengalami perubahan maka hasilnya akan berpengaruh terhadap sistem sosial. Oleh karena itu suatu lembaga pendidikan mempunyai beban yang ganda yaitu melestarikan nilai-nilai budaya tradisional dan juga mempersiapkan generasi muda agar dapat menyiapkan diri menghadapi tantangan kemajuan zaman.

Motivasi yang mendorong perlunya diadakan inovasi pendidikan jika dilacak biasanya bersumber pada dua hal, yaitu kemauan sekolah (lembaga pendidikan) untuk mengadakan respon terhadap tantangan kebutuhan masyarakat, dan adanya usaha untuk menggunakan sekolah (lembaga pendidikan) untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat. Antara lembaga pendidikan dan sistem sosial terjadi hubungan yang erat dan saling pengaruh-mempengaruhi. Misalnya, suatu sekolah telah dapat sukses menyiapkan tenaga yang terdidik sesuai dengan kebutuhan masyarakat, maka dengan tenaga terdidik berarti tingkat kehidupannya meningkat, dan cara bekerjanya juga lebih baik. Tenaga terdidik akan merasa tidak puas jika bekerja yang tidak menggunakan kemampuan inteleknya, sehingga perlu adanya penyesuaian dengan lapangan pekerjaan. Dengan demikian akan selalu terjadi perubahan yang bersifat dinamis, yang disebabkan adanya hubungan interaktif antara lembaga pendidikan dan masyarakat.

Ada tiga hal yang sangat besar pengaruhnya terhadap kegiatan di sekolah yang berkaitan dengan perlu adanya inovasi pendidikan, yaitu (1) kegiatan belajar mengajar, (2) faktor internal dan eksternal, dan (3) sistem pendidikan (pengelolaan dan pengawasan).

Faktor Kegiatan Belajar Mengajar

Yang menjadi kunci keberhasilan dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar ialah kemampuan guru sebagai tenaga profesional. Guru sebagai tenaga yang telah dipandang memiliki keahlian tertentu dalam bidang pendidikan, diserahi tugas dan wewenang untuk mengelola kegiatan belajar mengajar agar dapat mencapai tujuan tertentu, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan tujuan institusional yang telah dirumuskan. Tetapi dalam pelaksanaan tugas pengelolaan kegiatan belajar mengajar terdapat berbagai faktor yang menyebabkan orang memandang bahwa pengelolaan kegiatan belajar mengajar adalah kegiatan yang kurang (setengah) profesional, kurang efektif, dan kurang perhatian.

Faktor Internal dan Eksternal

Satu keunikan dari sistem pendidikan ialah baik pelaksana maupun klien (yang dilayani) adalah kelompok manusia. Perencana inovasi pendidikan harus memperhatikan mana kelompok yang mempengaruhi dan kelompok yang dipengaruhi oleh sekolah (sistem pendidikan).

Faktor internal yang mempengaruhi pelaksanaan sistem pendidikan dan dengan sendirinya juga inovasi pendidikan ialah siswa. Siswa sangat besar pengaruhnya terhadap proses inovasi karena tujuan pendidikan untuk mencapai perubahan tingkah laku siswa. Jadi, siswa sebagai pusat perhatian dan bahan pertimbangan dalam melaksanakan berbagai macam kebijakan pendidikan.

Faktor eksternal yang mempunyai pengaruh dalam proses inovasi pendidikan ialah orang tua. Orang tua murid ikut mempunyai peranan dalam menunjang kelancaran proses inovasi pendidikan, baik ia sebagai penunjang secara moral membantu dan mendorong kegiatan siswa untuk melakukan kegiatan belajar sesuai dengan yang diharapkan sekolah, maupun sebagai penunjang pengadaan dana (sumbangan BP3 atau SPP).

Para ahli pendidik (profesi pendidikan) merupakan faktor internal dan juga faktor eksternal, seperti guru, administrator pendidikan, konselor,Komite sekolah terlibat secara langsung dalam proses pendidikan di sekolah.

Sistem Pendidikan (Pengelolaan dan Pengawasan)

Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah diatur dengan aturan yang dibuat oleh pemerintah. Di Indonesia diatur oleh Departemen Pendidikan Nasional. Guru maupun siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar tidak dapat menurut kemauannya, tetapi harus mengikuti aturan yang berlaku, mulai dari cara berpakaian, kegiatan waktu beristirahat, sampai pada kegiatan belajar di kelas.

Faktor-Faktor yang berperan  dalam melakukan  Inovasi di sekolah adalah sebagai berikut;

a. Guru

Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kepiawaian dan kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai.

Ada beberapa hal yang dapat membentuk kewibawaan guru antara lain adalah penguasaan materi yang diajarkan, metode mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan antar individu, baik dengan siswa maupun antar sesama guru dan unsur lain yang terlibat dalam proses pendidikan seperti adminstrator, misalnya kepala sekolah dan tata usaha serta masyarakat sekitarnya, pengalaman dan keterampilan guru itu sendiri. Dengan demikian, maka dalam pembaharuan pendidikan, keterlibatan guru mulai dari perencanaan inovasi pendidikan sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilan suatu inovasi pendidikan. Tanpa melibatkan mereka, maka sangat mungkin mereka akan menolak inovasi yang diperkenalkan kepada mereka. Hal ini seperti diuraikan sebelumnya, karena mereka menganggap inovasi yang tidak melibatkan mereka adalah bukan miliknya yang harus dilaksanakan, tetapi sebaliknya mereka menganggap akan mengganggu ketenangan dan kelancaran tugas mereka. Oleh karena itu, dalam suatu inovasi pendidikan, gurulah yang utama dan pertama terlibat karena guru mempunyai peran yang luas sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai teman, sebagai dokter, sebagai motivator dan lain sebagainya.

b. Siswa

Sebagai objek utama dalam pendidikan terutama dalam proses belajar mengajar, siswa memegang peran yang sangat dominan. Dalam proses belajar mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan komitmen yang timbul dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Hal ini bisa terjadi apabila siswa juga dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan, walaupun hanya dengan mengenalkan kepada mereka tujuan dari pada perubahan itu mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan, sehingga apa yang mereka lakukan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilaksanakan dengan konsekuen. Peran siswa dalam inovasi pendidikan tidak kalah pentingnya dengan peran unsur-unsur lainnya, karena siswa bisa sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran pada sesama temannya, petunjuk, dan bahkan sebagai guru. Oleh karena itu, dalam memperkenalkan inovasi pendidikan sampai dengan penerapannya, siswa perlu diajak atau dilibatkan sehingga mereka tidak saja menerima dan melaksanakan inovasi tersebut, tetapi juga mengurangi resistensi seperti yang diuraikan sebelumnya.

c. Kurikulum

Kurikulum pendidikan lebih sempit lagi kurikulum sekolah meliputi program pengajaran dan perangkatnya merupakan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh karena itu kurikulum sekolah dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam proses belajar mengajar di sekolah, sehingga dalam pelaksanaan inovasi pendidikan, kurikulum memegang peranan yang sama dengan unsur-unsur lain dalam pendidikan. Tanpa adanya kurikulum dan tanpa mengikuti program-program yang ada di dalamnya, maka inovasi pendidikan tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan inovasi itu sendiri. Oleh karena itu, dalam pembaharuan pendidikan, perubahan itu hendaknya sesuai dengan perubahan kurikulum atau perubahan kurikulum diikuti dengan pembaharuan pendidikan dan tidak mustahil perubahan dari kedua-duanya akan berjalan searah.

d. Fasilitas

Fasilitas, termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa diabaikan dalam dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam pembaharuan pendidikan, tentu saja fasilitas merupakan hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa adanya fasilitas, maka pelaksanaan inovasi pendidikan akan bisa dipastikan tidak akan berjalan dengan baik. Fasilitas, terutama fasilitas belajar mengajar merupakan hal yang esensial dalam mengadakan perubahan dan pembaharuan pendidikan. Oleh karena itu, jika dalam menerapkan suatu inovasi pendidikan, fasilitas perlu diperhatikan. Misalnya ketersediaan gedung sekolah, bangku, meja dan sebagainya.

e. Lingkup Sosial Masyarakat

Dalam menerapakan inovasi pendidikan, ada hal yang tidak secara langsung terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa dampak, baik positif maupun negatif dalam pelaksanaan pembaharuan pendidikan. Masyarakat secara tidak langsung atau tidak langsung, sengaja maupun tidak terlibat dalam pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik terutama masyarakat di mana peserta didik itu berasal. Tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pendidikan tentu akan terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak diberitahu atau dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan sebaliknya akan membantu inovator dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi pendidikan.

2.3.  Inovasi yang sudah dilakukan Guru disekolah

Perencanaan merupakan hal yang mutlak perlu dilakukan untuk suksesnya suatu difusi, inovasi pendidikan. Adapun elemen-elemen pokok dalam proses perencanaan adalah sebagai berikut:

1)         Merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus inovasi pendidikan yang akan dilaksanakan dengan rumusan yang jelas.

2)         Mengidentifikasi masalah.

3)         Menentukan kebutuhan.

4)         Mengidentifikasi sumber (penunjang) dan penghambat.

5)         Menentukan alternatif kegiatan berdasarkan faktor penunjang yang ada serta mempertimbangkan adanya hambatan yang mungkin timbul baik dari dalam sistem (sekolah) maupun dari luar sistem (masyarakat).

6)         Menentukan alternatif pemecahan masalah.

7)         Menentukan alternatif cara pendayagunaan sumber yang ada.

8)         Menentukan kriteria untuk memilih alternatif pemecahan masalah.

9)         Menentukan alternatif pengambilan keputusan.

10)     Menentukan kriteria untuk menilai hasil inovasi pendidikan berdasarkan tujuan umum dan tujuan khusus yang telah ditentukan.

Dalam proses pembelajaran disekolah maka guru harus melakukan Inovasi yang diawali dengan perubahan pola pikir ( Maindset ) diantaranya sebagai berikut ;

1). Merubah paradigma “ Teaching “ ke “ Learning” semula siswa hanya dijadikan obyek dalam pembelajaran, maka mulai saat ini guru  harus memposisikan siswa sebagai subyek  yang memiliki keunikan tersendiri dalam proses belajar disekolah

2). Guru harus memberi keteladanan dengan cara memberi contoh langsung melalui perbuatan, bukan hanya pandai berkata-kata.Prinsipnya adalah perbuatanlah yang menentukan kata, sebab terkadang kata tidak menentukan perbuatan.

3). Merubah mental “ ingin dilayani” menjadi guru yang “ Ingin melayani” segala kebutuhan peserta didik atau menjadi mitra.

4). Merubah sikap fanatik yang berlebihan berdasarkan agama,suku dan ras, menjadi guru yang bersifat terbuka , menghargai keragaman atau Pluralisme.

5). Melaksanakan kurikulum berbasis masyarakat dan model pembelajaran berbasis ICT.

6). Melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada Proses, dengan melakukan suatu pendahuluan atau kegiatan awal, kemudian melakukan kegiatan Inti yang terdiri atas kegiatan Eksplorasi ( melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topic/tema materi yang akan dipelajari, menggunakan beragam pendekatan, memfasilitasi terjadinya antar peserta didik). Tahap berikutnya adalah melakukan kegiatan yang bersifat Elaborasi ( mengajak siswa untuk membiasakan menulis, memberi tugas, diskusi,menganalisis, melakukan pameran, turnamen atau festival).

Selanjutnya mengadakan kegiatan Konfirmasi ( memberikan umpan balik, memberikan refleksi untuk memperoleh pengalaman yang bermakna).

Pembahasan tentang model inovasi seperti model “Top-Down” dan  “Bottom-Up” telah banyak dilakukan oleh para peneliti dan para ahli pendidikan. Sudah banyak pembahasan tentang inovasi pendidikan yang dilakukan misalnya perubahan kurikulum dan proses belajar mengajar. White (1988: 136-156) misalnya menguraikan beberapa aspek yang bekaitan dengan inovasi seperti tahapan-tahapan dalam inovasi, karakteristik inovasi, manajemen inovasi dan sistem pendekatannya.  Kennedy (1987:163) juga membicarakan tentang strategi inovasi yang dikutip dari Chin dan Benne (1970) menyarankan tiga jenis strategi inovasi, yaitu: Power Coercive (strategi pemaksaan), Rational Empirical (empirik rasional), dan Normative-Re-Educative (Pendidikan yang berulang secara normatif).

Strategi inovasi yang pertama adalah strategi pemaksaaan berdasarkan kekuasaan merupakan suatu pola inovasi yang sangat bertentangan dengan kaidah-kaidah inovasi itu sendiri. Strategi ini cenderung memaksakan kehendak, ide dan pikiran sepihak tanpa menghiraukan kondisi dan keadaan serta situasi yang sebenarnya dimana inovasi itu akan dilaksanakan. Kekuasaan memegang peranan yang sangat kuat pengaruhnya dalam menerapkan ide-ide baru dan perubahan sesuai dengan kehendak dan pikiran-pikiran dari pencipta inovasinya. Pihak pelaksana yang sebenarnya merupakan objek utama dari inovasi itu sendiri sama sekali tidak dilibatkan baik dalam proses perencanaan maupun pelaksanaannya. Para inovator hanya menganggap pelaksana sebagai obyek semata dan bukan sebagai subyek yang juga harus diperhatikan dan dilibatkan secara aktif dalam proses perencanaan dan pengimplementasiannya. Strategi inovasi yang kedua adalah empirik rasional. Asumsi dasar dalam strategi ini adalah bahwa manusia mampu menggunakan pikiran logisnya atau akalnya sehingga mereka akan bertindak secara rasional. Dalam kaitan dengan ini inovator bertugas mendemonstrasikan inovasinya dengan menggunakan metode yang terbaik valid untuk memberikan manfaat bagi penggunanya. Di sekolah, para guru menciptakan strategi atau metode mengajar yang menurutnya sesuai dengan akal yang sehat, berkaitan dengan situasi dan kondisi bukan berdasarkan pengalaman guru tersebut. Di berbagai bidang, para pencipta inovasi melakukan perubahan dan inovasi untuk bidang yang ditekuninya berdasarkan pemikiran, ide, dan pengalaman dalam bidangnya itu, yang telah digeluti berbualan-bulan bahkan bertahun-tahun. Inovasi yang demikian memberi dampak yang lebih baik dari pada model inovasi yang pertama. Hal ini disebabkan oleh kesesuaian dengan kondisi nyata di tempat pelaksanaan inovasi tersebut.

Jenis strategi inovasi yang ketiga adalah normatif re-edukatif (pendidikan yang berulang) adalah suatu strategi inovasi yang didasarkan pada pemikiran para ahli pendidikan seperti Sigmund Freud, John Dewey, Kurt Lewis dan beberapa pakar lainnya yang menekankan bagaimana klien memahami permasalahan pembaharuan seperti perubahan sikap, skill, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan manusia.

Dalam pendidikan, sebuah strategi bila menekankan pada pemahaman pelaksana dan penerima inovasi, maka pelaksanaan inovasi dapat dilakukan berulang kali. Misalnya dalam pelaksanaan perbaikan sistem belajar mengajar di sekolah, para guru sebagai pelaksana inovasi berulang kali melaksanakan perubahan-perubahan itu sesuai dengan kaidah-kaidah pendidikan. Kecenderungan pelaksanaan model yang demikian agaknya lebih menekankan pada proses mendidik dibandingkan dengan hasil dari perubahan itu sendiri. Pendidikan yang dilaksanakan lebih mendapat porsi yang dominan sesuai dengan tujuan menurut pikiran dan rasionalitas yang dilakukan berkali-kali agar semua tujuan yang sesuai dengan pikiran dan kehendak pencipta dan pelaksananya dapat tercapai.

2.4.Inovasi dan kemampuan guru dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia di

Sekolah

Setiap guru menghendaki muridnya dapat belajar dan sukses dalam belajar demi meniti karir dimasa depan sesuai dengan bakat dan minatnya.

Oleh karena itu agar guru mampu menciptakan Sumber daya Manusia yang berkualitas, maka berdasarkan Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang” Guru dan Dosen “ harus memiliki  empat kompetensi ;

Pertama, Kompetensi Pedagogik yaitu berkenaan dengan kemampuan mengelola pembelajaran yang meliputi pemahaman terhadap kondisi peserta didik, membuat perencanaan,pelaksanaan pembelajaran, mengevaluasi dan menganalisis hasil belajar siswa.

Kedua, Kompetensi Kepribadian Yaitu berkenaan dengan penampilan, karakter dan sikap yang baik, jujur,amanah,Bijaksana,Disiplin,Tidak emosional, memiliki pendirian yang teguh dan berfikir Logis, sistematis dan Etis.

Ketiga, Kompetensi Profesional yaitu yang berkenaan dengan kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam.Seorang guru harus menguasai subtansi,struktur kurikulum bidang studi yang diampu dan mampu memanfaatkan dukungan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam kegiatan pembelajaran maupun dalam kegiatan Bimbingan dan Konseling.

Keempat, kompetensi Sosial yaitu berkenaan dengan kemampuan berkomunikasi dengan murid, Guru, Orang Tua, Pemerintah dan segenap Elemen masyarakat lainnya.

2.5. Kendala-kendala dalam melakukan Inovasi Pendidikan

Kendala-kendala yang mempengaruhi keberhasilan usaha inovasi pendidikan seperti inovasi kurikulum antara lain adalah (1) perkiraan yang tidak tepat terhadap inovasi, (2) konflik dan motivasi yang kurang sehat, (3) lemahnya berbagai faktor penunjang sehingga mengakibatkan tidak berkembangnya inovasi yang dihasilkan, (4) keuangan (finacial) yang tidak terpenuhi, (5) penolakan dari sekelompok tertentu atas hasil inovasi, dan (6) kurang adanya hubungan sosial dan publikasi (Subandiyah 1992:81). Untuk menghindari  masalah-masalah tersebut di atas, dan agar mau berubah terutama sikap dan perilaku terhadap perubahan pendidikan yang sedang dan akan dikembangkan, sehinga perubahan dan pembaharuan itu diharapkan dapat berhasil dengan baik, maka guru, administrator, orang tua siswa, dan masyarakat umumnya harus dilibatkan.

Setelah memperhatikan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan suatu inovasi pendidikan, misalnya penolakan (resistance) para guru tentang adanya perubahan kurikulum dan metode belajar-mengajar maka perlu kiranya  masalah tersebut dibahas. Namun sebelumnya, pengertian tentang resisten itu perlu dijelaskan lebih dahulu. Menurut definisi dalam  “Cambridge International English Dictionary of English” bahwa Resistance is to fight against (something or someone) to not be changed by or refuse to accept (something).

Berdasarkan definisi tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penolakan (resistance) itu adalah melawan sesuatu atau seseorang untuk tidak berubah atau diubah atau tidak mau menerima hal tersebut. Ada beberapa hal mengapa inovasi sering ditolak atau tidak dapat diterima oleh para pelaksana inovasi di lapangan atau di sekolah sebagai berikut:

1.      Sekolah atau guru tidak dilibatkan dalam proses perencanaan, penciptaan dan bahkan pelaksanaan inovasi tersebut, sehingga ide baru atau inovasi tersebut dianggap oleh guru atau sekolah bukan miliknya, dan merupakan kepunyaan orang lain yang tidak perlu dilaksanakan, karena tidak sesuai dengan keinginan atau kondisi sekolah mereka.

2.      Guru ingin mempertahankan sistem atau metode yang mereka lakukan saat sekarang, karena sistem atau metode tersebut sudah mereka laksanakan bertahun-tahun dan tidak ingin diubah. Di samping itu sistem yang mereka miliki dianggap oleh mereka memberikan rasa aman atau kepuasan serta sudah baik sesuai dengan pikiran mereka.

3.      Inovasi yang baru yang dibuat oleh orang lain terutama dari pusat (khususnya Depdiknas) belum sepenuhnya melihat kebutuhan dan kondisi yang dialami oleh guru dan siswa.

4.      Inovasi yang diperkenalkan dan dilaksanakan yang berasal dari pusat merupakan kecenderungan sebuah proyek dimana segala sesuatunya ditentukan oleh pencipta inovasi dari pusat. Inovasi ini bisa terhenti kalau proyek itu selesai atau kalau finansial dan keuangannya sudah tidak ada lagi. Dengan demikian pihak sekolah atau guru hanya terpaksa melakukan perubahan sesuai dengan kehendak para inovator di pusat dan tidak punya wewenang untuk mengubahnya.

5.      Kekuatan dan kekuasaan pusat yang sangat besar sehingga dapat menekan sekolah atau guru melaksanakan keinginan pusat, yang belum tentu sesuai dengan kemauan mereka dan situasi sekolah mereka.

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Inovasi pendidikan sebagai usaha perubahan pendidikan tidak bisa berdiri sendiri, tapi harus melibatakan semua unsur yang terkait di dalamnya, seperti inovator, penyelenggara inovasi seperti guru dan siswa. Disamping itu, keberhasilan inovasi pendidikan tidak saja ditentukan oleh satu atau dua faktor saja, tapi juga oleh masyarakat serta kelengkapan fasilitas. Inovasi pendidikan yang berupa top-down model tidak selamanya bisa berhasil dengan baik. Hal ini disebabkan oleh banyak hal antara lain adalah penolakan para pelaksana seperti guru yang tidak dilibatkan secara penuh baik dalam perencananaan maupun pelaksanaannya. Sementara itu inovasi yang lebih berupa bottom-up model dianggap sebagai suatu inovasi yang langgeng dan tidak mudah berhenti karena para pelaksana dan pencipta sama-sama terlibat mulai dari perencanaan sampai pada pelaksanaan dan Evaluasi. Oleh karena itu mereka masing-masing bertanggung jawab terhadap keberhasilan suatu inovasi yang mereka ciptakan.

3.2 Saran

Dengan mengenal model-model inovasi pendidikan diharapkan guru dapat berperan lebih aktif untuk turut membantu memecahkan masalah pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Selain itu, guru sebagai kunci keberhasilan dalam proses pendidikan, dituntut untuk lebih professional dengan merubah Pola pikir yang Dogmatis untuk mengarah pada pola pikir yang Demokratis dan Humanis.Selamjutnya guru harus mengorganisir secara baik demi peningkatan Profesinya.

DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim. 1988. Inovasi Pendidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Sanjaya, Wina. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana

Sa’ud, Udin Syaefudin. 2009. Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Mahfuddin, Azis.2009, Profesionalisme Jabatan Guru di Era Globalisasi . Bandung :Rizki Press

RI, 2006.Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.Jakarta: BP.Darma Bhakti

Mardapi, Djemari,2007.PERMENDIKNAS RI Nomor 41 tahun 2007 Tentang standar Proses Untuk satuan pendidikan dasar da Menengah. Jakarta : BSNP

Posted in Inovasi Pendidikan | Leave a comment

UNSUR-UNSUR TERBENTUKNYA NEGARA

I.Pendahuluan

1.Latar belakang masalah

Identitas sebuah negara bisa dilihat dari unsure-unsur terbentuknya Negara yang meliputi unsure konstitutif  yang bersifat mutlak dan unsure deklaratif yang bersifat tambahan. Pada makalah ini kami akan membahas unsur-unsur terbentuknya Negara Indonesia

1.2 Identifikasi masalah

1. Unsur Konstitutif :Rakyat ,Wilayah, Pemerintahan yang berdaulat

2. Unsur deklaratif :Pengakuan dari Negara lain

 

1.3 Pembatasan Masalah

Pada tulisan ini kami membatasi masalah pada unsur-unsur terbentuknya Negara Indonesia

 

1.4 Perumusan Masalah

Pada tulisan ini kami akan membahas unsur-unsur terbentuknya Negara Indonesia

 

II. PEMBAHASAN

2.1 Kajian  Teori

Berdasarkan kepada teori Oppenheim dan lauterpacht terdapat tiga unsur pokok terbentuknya Negara yaitu

1. Rakyat adalah semua orang yang berdiam disuatu Negara dan tunduk kepada kekuasaan Negara

tersebut. Rakyat terbagi 2 yaitu

1. penduduk: mereka yang bertempat tinggal tinggal tetap dalam wilayah Negara yang terdiri dari

warganegara dan bukan warga Negara

2. Bukan penduduk: Mereka yang berada dalam wilayah Negara tetapi tidak bermaksud bertempat

tinggal di wilayah tersebut

2 Wilayah: terbagi atas 3 bagian yaitu wilayah daratan, udara dan lautan

3. Pemerintah yang berdaulat : Pemerintah yang mempuyai kekuasaan tertinggi dalam Negara pemerintah yang memiliki kekuasaan kedalam dan keluar

2. Pengakuan dari Negara lain

1. defacto: Pengakuan tentang kenyataan adanya suatu Negara

2. de yure: Pengakuan secara resmi berdasarkan hukum

2.2 Kerangka Pemikiran

Berdasarkan kepada teori oppeinheim tersebut diatas suatu Negara akan terbentuk apabila memenuhi unsure konstitutif dan deklaratif

 

2.3 Analisis

Berdasarkan kepada teori Oppenheim dan lauterpacht maka Negara Indonesia terbentuk atas unsure-unsur konstitutif dan deklaratif.

1.       Rakyat

Yang dimaksud dengan rakyat Indonesia adalah mereka yang bertempat tinggal atau berdomisili didalam wilayah Negara Indonesia untuk jangka waktu yang lama. Di Indonesia yang disebut dengan penduduk adalah orang  yang memiliki status kewarganegaraan sebagai WNI yang ditandai dengan akta lahir atau KTP. Sedangkan orang yang disebut dengan bukan penduduk adalah mereka yang berada didalam wilayah Indonesia hanya untuk sementara.

2.       Wilayah

a.       Wilayah daratan

Wilayah Indonesia secara geografis berada di 6 LU,11LS,95 BB dan 141 BB,

b.      Wilayah Lautan

Wilayah lautan 12 mil diukur dari garis titik luar pulau Indonesia pada saat air surut

c.       Wilayah Udara

Seluruh wilayah daratan dan lautan dan seluruh wilayah diatas daratan dan lautan yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia

3.       Pemerintah yang berdaulat

Negara Indonesia merupakan pemerintah yang berkuasa atas seluruh wilayahnya dan segenap rakyatnya yaitu  pada tanggal 18 Agustus 1945

4.       Pengakuan dari Negara lain

Pengakuan Negara Indonesia sebagai Negara yang berdaulat pertama sekali diakui oleh Negara India

 

 

III. PENUTUP

Berdasarkan tulisan diatas maka kami dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa Negara Indonesia memenuhi 4 unsur terbentuknya Negara yang terdiri dari rakyat, wilayah, pemerintah yang berdaulat dan pengakuan dari Negara lain

 

Kelompok D

1.       Yuliati Leo Vina

2.       Enung Nurlailah

3.       Sriyati

4.       Srisulastri

5.       Teti Herawati

Posted in Pemerintahan Suatu Negara | Leave a comment

Motto Hidup

“Jadikan sholat dan sabar sebagai penolongmu”

Sholat merupakan oleh-oleh dari perjalanan Isro dan Mijrat yang canggih dalam rentang waktu 2/3 malam.

Sabar mununjukkan kekuatan pribadi unggul

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment